BACAAJA, SEMARANG – Ramadan datang, jam puasa pun ikut jadi bahan obrolan. Ada yang ngerasa waktu magrib lama banget datangnya, ada juga yang relatif santai karena siangnya nggak terlalu panjang. Ternyata, durasi puasa memang beda-beda di tiap negara.
Semua itu tergantung letak geografis dan panjang siang hari. Makin jauh sebuah negara dari garis khatulistiwa, biasanya variasi siangnya makin ekstrem. Jadi jangan heran kalau ada yang puasanya terasa “maraton”, sementara di tempat lain lebih singkat.
Rata-rata umat Muslim di dunia berpuasa sekitar 12 sampai 15 jam per hari. Tapi di beberapa wilayah, angkanya bisa tembus lebih dari itu. Bahkan di daerah tertentu, durasinya bisa mendekati 20 jam saat siang hari sangat panjang.
Perbedaan ini terjadi karena waktu terbit dan terbenam matahari berbeda di setiap lokasi. Negara-negara di lintang tinggi, terutama yang mendekati kutub, mengalami siang yang jauh lebih lama ketika mendekati musim panas.
Di antara yang paling lama, ada Reykjavik di Islandia dengan durasi puasa sekitar 15 jam lebih di akhir Ramadan. Angka yang hampir sama juga terjadi di Nuuk, Greenland.
Lalu ada Christchurch di Selandia Baru yang di awal Ramadan bisa mencapai sekitar 15 jam 22 menit. Di wilayah utara Norwegia, Swedia, dan Finlandia, durasinya bahkan bisa melampaui 16 jam.
Beberapa bagian utara Greenland dan Kanada mengalami kondisi ekstrem. Saat siang sangat panjang, durasi puasa di sana bisa mendekati 20 jam. Kebayang kan, sahur sebentar, eh rasanya udah hampir sahur lagi?
Sebaliknya, negara yang dekat dengan khatulistiwa cenderung punya durasi puasa lebih stabil. Panjang siangnya nggak berubah drastis, jadi dari awal sampai akhir Ramadan relatif konsisten.
Di Uni Emirat Arab, durasi puasa sekitar 12 jam 46 menit. Di Turki sekitar 12 jam lebih sedikit.
Sementara di Inggris dan Amerika Serikat rata-rata berkisar 12 jam lebih. Sedangkan di Indonesia sendiri, durasinya sekitar 13 jam lebih, relatif stabil dari tahun ke tahun.
Negara seperti Brasil dan Afrika Selatan juga berada di kisaran 13 sampai 14 jam. Masih panjang, tapi nggak seekstrem wilayah dekat kutub.
Lalu bagaimana dengan daerah yang mataharinya hampir nggak terbenam? Dalam kondisi ekstrem seperti itu, para ulama memberikan kelonggaran.
Muslim di wilayah tersebut diperbolehkan mengikuti waktu puasa di Makkah atau mengikuti jadwal kota terdekat yang punya durasi siang lebih moderat. Jadi ada solusi agar ibadah tetap bisa dijalankan tanpa membahayakan kesehatan.
Menariknya lagi, kalender Hijriah terus maju sekitar 10–12 hari setiap tahun. Itu sebabnya Ramadan bisa jatuh di musim yang berbeda-beda.
Bahkan pada 2030 nanti, Ramadan diprediksi terjadi dua kali dalam satu tahun, yakni di Januari dan Desember. Fenomena yang jarang, tapi memang mungkin terjadi karena sistem kalender lunar.
Jadi kalau merasa puasamu tahun ini terasa lebih panjang atau lebih ringan, bisa jadi itu bukan cuma perasaan. Letak geografis memang punya peran besar dalam menentukan seberapa lama kita menahan lapar dan haus setiap harinya. (*)


