BACAAJA, SEMARANG – Isu soal nyeri dada yang dikaitkan dengan penyakit serius lagi ramai dibahas, terutama soal hubungan antara asam lambung dan jantung. Banyak orang langsung panik saat dada terasa panas atau nyeri, lalu buru-buru menyimpulkan itu tanda serangan jantung. Padahal, kondisi ini nggak sesederhana itu.
Fenomena ini makin sering muncul karena gejalanya memang mirip. Asam lambung naik atau GERD sering bikin sensasi tidak nyaman di dada, yang sekilas terasa seperti masalah jantung. Di sinilah banyak orang mulai salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri tanpa pemeriksaan medis.
GERD Bukan Penyebab Langsung Serangan Jantung
Menurut Jordan Bakhriansyah, GERD tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung. Ia menegaskan bahwa keduanya adalah kondisi berbeda, meskipun letaknya sama-sama di area dada sehingga sering tertukar.
“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, GERD bisa meningkatkan risiko munculnya gejala yang menyerupai serangan jantung,” jelasnya.
Penjelasan ini penting karena banyak orang langsung mengaitkan nyeri dada dengan kondisi fatal. Padahal, tanpa pemeriksaan yang tepat, sulit memastikan penyebab sebenarnya.
Ada Kaitan, Tapi Prosesnya Panjang
Meski tidak menyebabkan secara instan, GERD tetap bisa berdampak ke jantung jika terjadi dalam jangka panjang. Kondisi asam lambung yang kronis bisa memicu peradangan yang berpengaruh ke sistem saraf tubuh.
Saat saraf simpatik aktif terus-menerus, tekanan darah bisa naik dan detak jantung jadi lebih cepat. Kalau dibiarkan, kondisi ini berpotensi membebani kerja jantung secara perlahan.
Namun, proses ini tidak terjadi tiba-tiba. Perlu waktu panjang dan biasanya disertai faktor risiko lain sebelum benar-benar berdampak serius pada jantung.
Jangan Asal Menyimpulkan dari Gejala
Kesalahan paling sering terjadi adalah diagnosis mandiri. Banyak orang menganggap nyeri dada pasti serangan jantung, atau sebaliknya, menganggap enteng karena merasa hanya asam lambung.
Padahal, kedua kondisi ini butuh pemeriksaan medis yang jelas. Diagnosis tidak bisa hanya berdasarkan rasa atau dugaan pribadi, tapi harus melalui proses seperti wawancara medis dan pemeriksaan lanjutan.
“Kesamaan gejala seperti nyeri dada tidak bisa dijadikan dasar kesimpulan,” tegasnya.
Kenali Faktor Risiko Sejak Dini
Dalam penjelasannya, faktor risiko penyakit jantung dibagi menjadi dua jenis. Ada yang tidak bisa dikendalikan seperti usia, jenis kelamin, dan genetik, serta yang bisa dikontrol seperti gaya hidup.
Hal-hal seperti pola makan, kebiasaan merokok, kadar gula darah, hingga tekanan darah punya peran besar dalam menentukan kondisi kesehatan jantung. Artinya, masih banyak hal yang bisa diupayakan untuk menjaga tubuh tetap sehat.
Kesadaran ini penting supaya orang tidak hanya fokus pada gejala, tapi juga pada pencegahan sejak awal.
Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci Utama
Di tengah meningkatnya kasus penyakit jantung, menjaga pola hidup sehat jadi langkah paling masuk akal. Mulai dari rutin olahraga, cukup istirahat, hingga mengelola stres dengan baik.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting untuk mendeteksi risiko sejak dini. Jangan menunggu gejala muncul baru bertindak, karena sering kali kondisi sudah berkembang lebih jauh.
Yang tak kalah penting, hindari kebiasaan mendiagnosis diri sendiri. Jika ada keluhan, langkah terbaik tetap konsultasi ke tenaga medis agar penanganan tepat dan tidak menimbulkan risiko yang lebih besar. (*)


