BACAAJA, SEMARANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi solusi gizi anak ternyata punya “side effect” baru: sampah makin numpuk. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akhirnya angkat suara dan mengakui produksi sampah organik dari dapur program ini memang meningkat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng, Widi Hartanto, bilang lonjakan sampah nggak bisa dihindari, apalagi jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus bertambah.
“Tentu ada pengaruhnya terhadap timbulan sampah,” ujarnya.
Bacaaja: Moody’s Turunin Outlook Utang RI Gara-gara MBG, Begini Kata Menkeu Purbaya
Bacaaja: Viral! Kepala BGN Bilang Anak Putus Sekolah karena Uang Jajan: MBG Jadi Penyelamat
Banyak MBG yang berujung jadi sampah belaka
Realitanya, nggak semua makanan MBG dimakan sampai ludes. Sisa bahan dapur plus makanan yang nggak habis otomatis jadi tumpukan baru. Meski belum ada angka pasti, Pemprov memastikan grafiknya naik.
Masalahnya, tempat pembuangan akhir (TPA) di banyak daerah sudah overload. Kalau nggak dikontrol dari awal, program bagus bisa ikut nyumbang krisis sampah.
Pemprov sekarang mendorong dapur MBG buat kelola sampah sendiri, alias jangan semuanya dilempar ke TPA.
Beberapa “jalan keluar” yang ditawarin antara lain:
Sisa makanan dijadikan pakan magot
Diolah lewat komposter
Dimasukkan ke lubang biopori khusus organik
Selain itu, pelatihan pengolahan sampah juga bakal digelar bareng Badan Gizi Nasional.
Program MBG jelas memunculkan PR baru soal lingkungan. Ini jadi reminder kalau kebijakan besar nggak cuma soal niat baik, eksekusinya juga harus siap, termasuk urusan sampah.
Pemprov pun menegaskan pengelolaan harus dimulai dari sumbernya. Bukan cuma dapur MBG, tapi juga sekolah dan masyarakat.
Karena kalau makanan gratis malah berakhir di tempat sampah, pertanyaannya simpel: yang salah porsinya, pengelolaannya, atau kebiasaan makannya? (*)


