Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Perdebatan publik terkait feminisme berkutat di atas definisi yang sudah melenceng sejak awal.
Pada era ketika media sosial menjadi panggung perdebatan, membicarakan feminisme terkesan seolah-olah tidak lagi memerlukan rujukan referensi lagi. Di media sosial, warganet membahas feminisme tapi tidak mempertimbangkan referensi literernya secara sahih.
Seolah-olah tidak perlu membaca buku guna memahami sejarah pemikiran dan perdebatan panjang di dalam tradisi pemikiran feminisme. Cukup satu kalimat sederhana “perempuan harus diperlakukan dengan mulia” atau “perempuan harus layaknya ratu”.
Masalahnya ada satu detail kecil yang sering terlewat. Feminisme sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa perempuan harus diratukan secara material. Sebaliknya, banyak tradisi feminisme justru mengkritik model relasi lama yang memposisikan laki-laki menjadi penyedia utama atau male breadwinner, sementara perempuan berada dalam posisi ketergantungan ekonomi kepada laki-laki.
Dalam berbagai karya klasik oemikir feminis, ketergantungan finansial dipandang sebagai salah satu mekanisme sosial yang membuat relasi gender tidak setara. Namun, ketika masuk ke budaya populer, gagasan tersebut mengalami metamorfosis yang cukup melenceng. Bahasa emansipasi modern dicampur dengan warisan patriarki lama kemudian menghasilkan formula baru yang unik.
Perempuan disebut harus mandiri, tetapi laki-laki tetap diwajibkan menyediakan segalanya. Jika terdengar seperti kontradiktif, jangan khawatir karena di internet hal yang kontradiksi sering kali justru dijadikan konten. Fenomena ini memperlihatkan percampuran dua sistem nilai yang berbeda.
Di satu sisi ada bahasa pemberdayaan yang mengatakan perempuan kuat independen dan tidak membutuhkan siapa pun. Di sisi lain masih ada ekspektasi relasi yang sangat tradisional yang memosisikan laki-laki harus menjadi penyedia utama ekonomi. Hasilnya adalah kombinasi yang agak ironis. Sebuah emansipasi yang masih membawa koper besar berisi norma lama dan bersifat patriarkis.
Banyak pemikir feminis justru mengkritik struktur semacam ini. Dalam analisis ekonomi politik feminis, Fraser dalam Fortunes of Feminism (2013) mengatakan bahwa ketergantungan ekonomi merupakan bagian dari struktur sosial yang mempengaruhi posisi tawar perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Karena itu berbagai tradisi feminisme menekankan pentingnya kemandirian ekonomi, akses pendidikan, serta partisipasi perempuan dalam ruang publik.
Tentu saja tidak ada yang salah jika seseorang menginginkan pasangan yang menjadi provider secara ekonomi. Preferensi semacam itu adalah bagian dari kebebasan individu dalam memilih bentuk relasi. Hanya saja, mejadi persoalan ketika preferensi tersebut dilekatkan pada label tertentu yang sebenarnya tidak berasal dari sana. Di dalam praktiknya, feminisme sering diperlakukan seperti kata kunci serbaguna yang dapat menjelaskan hampir apa saja selama terdengar cukup progresif.
Ironinya, banyak perdebatan publik kemudian berkutat di atas definisi yang sudah melenceng sejak awal. Ada yang menolak feminisme karena mengira ia menuntut laki laki menanggung semua biaya hidup perempuan. Ada pula yang membela gagasan tersebut dengan menyebutnya sebagai bagian dari perjuangan feminis. Keduanya berdebat dengan penuh semangat padahal yang diperdebatkan sering kali hanya sebuah versi karikatural dari feminisme itu sendiri.
Di sinilah pentingnya membaca literatur secara runut. Membaca memang sering dianggap tindakan yang membosankan. Tidak harus menjadi ahli teori feminisme untuk memahami bahwa sebuah gagasan sebaiknya ditelusuri terlebih dahulu sumbernya.
Kesalahpahaman publik sebenarnya bisa dihindari dengan langkah sederhana yaitu membuka buku sebelum membuka kolom komentar. Seperti diingatkan Hooks dalam Feminism is for Everybody (2000), feminisme pada dasarnya adalah gerakan untuk mengakhiri dominasi dan ketidaksetaraan gender. Bukan untuk mengganti satu bentuk ketergantungan dengan bentuk ketergantungan yang lain.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


