BACAAJA, SEMARANG – Pas Imlek datang, satu kue ini hampir selalu muncul di meja. Lengket, manis, warnanya coklat, kadang merah atau hijau.
Orang Indonesia nyebutnya kue keranjang. Padahal nama aslinya beda jauh.
Di Tiongkok, makanan ini dikenal sebagai Nian Gao. Artinya kurang lebih kue yang naik atau meningkat.
Maknanya bukan sembarang kata. “Naik” di sini dipercaya sebagai simbol rezeki dan kehidupan makin baik.
Tapi kenapa di sini malah disebut keranjang? Ternyata jawabannya simpel banget.
Adonannya dicetak pakai wadah anyaman bambu kecil. Bentuk akhirnya jadi mirip keranjang.
Bekas garis anyaman juga kelihatan di permukaan. Jadi orang lokal lebih gampang menyebut berdasarkan bentuk.
Karena lidah orang Indonesia susah melafalkan nama Mandarin, akhirnya nama keranjang lebih populer. Lama-lama jadi identitas sendiri.
Kue ini juga punya julukan lain. Ada yang nyebut kue bakul atau dodol China.
Teksturnya kenyal dan lengket banget. Biasanya dimakan langsung atau digoreng pakai tepung.
Tapi ternyata sejarahnya nggak cuma soal makanan. Ada cerita perang di baliknya.
Sekitar 2.500 tahun lalu di kota Suzhou terjadi konflik kerajaan. Kota itu dikelilingi benteng besar.
Seorang pejabat bernama Wu Zixu punya firasat buruk. Dia menyuruh pasukannya ingat pesan aneh.
“Kalau keadaan darurat, gali bagian bawah tembok,” katanya.
Bertahun-tahun kemudian kota benar-benar dikepung musuh. Persediaan makanan habis total.
Warga kelaparan parah. Lalu mereka ingat pesan itu dan menggali tembok.
Ternyata bagian dalamnya berisi bata dari tepung ketan dan gula. Bisa dimakan.
Makanan darurat itu menyelamatkan banyak orang. Dari situlah nenek moyang nian gao dipercaya lahir.
Awalnya jadi makanan persembahan mengenang jasa sang pejabat. Lama-lama berubah jadi makanan tahun baru.
Sejak dulu dipercaya membawa keberuntungan. Makanya sampai sekarang, tiap Imlek kue keranjang nggak pernah absen. (*)


