BACAAJA, SEMARANG – Ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dan Allah SWT, tetapi dalam pelaksanaannya juga bisa membawa dampak besar bagi kehidupan sosial. KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyoroti ibadah haji sebagai contoh kegiatan keagamaan yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi dalam skala global.
Menurut Gus Baha, penyelenggaraan haji dan umrah melibatkan banyak sektor, mulai dari transportasi, penginapan, konsumsi, hingga jasa perjalanan. Perputaran ekonomi yang muncul dari aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kegiatan yang berlandaskan ibadah juga bisa memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Dalam sebuah pengajian yang dikutip dari kanal YouTube Online Berbagi, Gus Baha membandingkan besarnya aktivitas ekonomi yang mengikuti kegiatan maksiat dengan potensi ekonomi dari ibadah haji. Ia ingin menunjukkan bahwa aktivitas yang membawa manfaat dan bernilai ibadah juga mampu menggerakkan banyak orang.
Haji Menggerakkan Banyak Sektor
Gus Baha menjelaskan bahwa suatu aktivitas, termasuk yang bertentangan dengan ajaran agama, terkadang menciptakan rantai ekonomi di sekitarnya. Ia mencontohkan kawasan prostitusi yang dapat memunculkan transaksi dan menghidupkan usaha lain, seperti warung makan, jasa transportasi, hingga penginapan.
Orang yang bekerja di sekitar kawasan tersebut belum tentu terlibat langsung dalam aktivitas utamanya. Namun, penghasilan mereka bisa saja bergantung pada perputaran uang yang muncul dari kegiatan tersebut.
Dari gambaran itu, Gus Baha mengajak masyarakat melihat bagaimana ibadah haji memiliki jaringan ekonomi yang jauh lebih luas. Jutaan jamaah membutuhkan berbagai layanan selama perjalanan dan ketika berada di Tanah Suci.
Hotel, katering, maskapai penerbangan, biro perjalanan, serta beragam usaha pendukung ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan jamaah. Rantai layanan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan ibadah juga berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Jutaan Jamaah Jadi Penggerak Ekonomi
Gus Baha menyoroti besarnya jumlah umat Islam yang datang ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah haji dan umrah. Mobilitas jamaah dari berbagai negara menciptakan kebutuhan layanan dalam jumlah besar, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi banyak pihak.
Ia juga menyinggung perbandingan dengan pusat kegiatan keagamaan di negara lain. Menurutnya, skala kedatangan jamaah ke Makkah menjadi gambaran tersendiri tentang daya tarik Kakbah bagi umat Islam dari seluruh dunia.
Dalam penjelasannya, Gus Baha menekankan bahwa haji bukan sekadar ritual individual. Ibadah ini mempertemukan umat dari berbagai latar belakang dan turut menggerakkan banyak sektor yang mendukung perjalanan mereka.
Ia mengaitkan pandangannya dengan Surah Al-Ma’idah ayat 97, yang menjelaskan kedudukan Kakbah sebagai rumah suci dan pusat bagi manusia. Kakbah bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi titik berkumpulnya umat Islam dari berbagai penjuru dunia.
Ekonomi Bisa Bergerak Lewat Ibadah
Menurut Gus Baha, besarnya aktivitas ekonomi dalam penyelenggaraan haji menunjukkan bahwa manfaat ekonomi tidak harus bergantung pada kegiatan yang melanggar aturan agama. Ibadah pun dapat menghidupkan usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan menciptakan kebutuhan jasa dalam jumlah besar.
Meski begitu, pesan utamanya bukan sekadar membandingkan jumlah uang yang berputar. Gus Baha mengajak umat Islam memahami bahwa aktivitas ekonomi sebaiknya berjalan seiring dengan nilai-nilai agama dan kemanfaatan bagi sesama.
Perjalanan haji dan umrah membutuhkan persiapan serta layanan dari banyak pihak. Jika dikelola dengan baik, kegiatan tersebut bisa menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekaligus membantu jamaah menjalankan ibadah dengan nyaman.
Karena itu, Gus Baha mengingatkan agar umat Islam tidak hanya memandang keberhasilan dari besarnya keuntungan materi. Nilai keberkahan dan keridaan Allah SWT juga perlu menjadi pertimbangan dalam mencari rezeki.
Pemikiran tersebut menjadi pengingat bahwa agama dan aktivitas ekonomi tidak selalu berjalan pada jalur yang terpisah. Ibadah haji memperlihatkan bagaimana kegiatan spiritual dapat menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi, selama seluruh prosesnya dijalankan secara baik dan bertanggung jawab. (*)

