BACAAJA, SEMARANG – Suasana pengajian bareng Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha memang jarang kaku. Ilmunya dalam, tapi cara nyampeinnya santai, kadang diselipin humor yang bikin jamaah senyum-senyum sendiri.
Di satu majelis, Gus Baha sempat cerita soal satu dzikir yang menurutnya “berat banget” pahalanya. Saking beratnya, beliau sampai berkelakar malaikat pencatat amal bisa kewalahan.
“Kadang malaikat itu seperti mengeluh,” ujar Gus Baha sambil tersenyum. “Ya Allah, orang-orang itu jangan sering-sering baca dzikir itu, aku capek nyatatnya.”
Tentu saja itu disampaikan dengan gaya guyon khas beliau. Tapi maknanya dalam banget.
Dzikir yang Bobotnya Nggak Main-main
Gus Baha membagikan satu rangkaian lafaz tasbih, tahmid, dan takbir dengan redaksi panjang yang maknanya luas: memuji Allah seberat timbangan, seluas ilmu-Nya, sepenuh keridaan-Nya, dan seberat ‘Arsy.
Intinya, pujiannya “di-scale up” sampai batas paling tinggi yang bisa dibayangkan manusia.
Menurut beliau, dzikir seperti ini punya nilai pahala luar biasa besar. Bukan cuma soal hitungan angka, tapi kualitas makna dan kedalaman pengakuan kita pada kebesaran Allah.
Menariknya, Gus Baha mengaku tidak membacanya setiap hari. Bukan karena nggak kuat, tapi justru karena bercanda soal “kasihan malaikatnya kalau harus nyatat terus.”
Humor yang Bukan Sekadar Lucu
Di balik canda itu, ada pesan penting: bahkan malaikat, sebagai makhluk Allah, tetaplah makhluk. Punya tugas, punya batas sebagai ciptaan. Yang sempurna tanpa lelah, tanpa kurang, cuma Allah SWT.
“Jare sopo malaikat mboten kesel?” ucap beliau dengan logat Jawa yang bikin suasana makin cair.
Gaya seperti ini yang bikin dakwah Gus Baha terasa dekat. Nggak menggurui, nggak bikin jarak. Ilmu berat jadi ringan, topik langit tetap membumi.
Dzikir Itu Bukan Cuma Rutinitas
Gus Baha juga menekankan, dzikir bukan sekadar bacaan bibir. Ia adalah cara menjaga koneksi hati. Semakin sering kita ingat Allah, semakin adem batin kita.
Kadang orang sibuk cari ketenangan ke mana-mana, padahal resepnya simpel: wirid yang konsisten, walau sedikit tapi tulus.
Dan dari cerita beliau, kita jadi diingatkan—pahala itu bisa mengalir deras dari kalimat yang kelihatannya sederhana. Tasbih, tahmid, takbir. Tiga lafaz, tapi dampaknya bisa “sepenuh langit dan bumi”.
Akhirnya, yang bikin dzikir jadi dahsyat bukan cuma redaksinya, tapi hati yang ikut hadir saat melafazkannya. Gus Baha cuma membuka pintu—tinggal kita mau masuk atau nggak. (*)


