BACAAJA, BANYUMAS – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat banyak orang mulai memanfaatkannya bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai teman curhat. Di sejumlah negara, bahkan muncul fenomena pengguna yang memberi nama pada chatbot mereka dan menganggapnya sebagai sahabat pribadi.
Salah satunya dialami seorang perempuan yang kerap mencurahkan isi hati pada chatbot ciptaannya. Ia bahkan menamai bot tersebut dengan nama terpilih dan menjadikannya tempat meluapkan rasa sedih maupun senang. Fenomena ini dianggap unik, namun pakar kesehatan mental menilai ada sisi bahaya yang perlu diwaspadai.
Psikolog asal Banjarnegara, Alta Aviva menegaskan bahwa chatbot AI hanya mampu memberikan respons berdasarkan pola data, bukan empati manusia. “AI bisa memberi jawaban seolah penuh perhatian, tapi itu bukanlah pemahaman emosional yang sebenarnya,” ujar seorang pakar psikologi klinis ini.
Menurut para ahli, ketergantungan terhadap chatbot dapat menimbulkan beberapa risiko. Pertama, muncul rasa nyaman semu yang membuat pengguna seakan menemukan pendengar, padahal masalah sebenarnya belum terselesaikan. Kedua, keterikatan emosional dengan bot bisa mengurangi minat berinteraksi dengan manusia nyata.
Fenomena ini juga berpotensi mengaburkan realita. Pasalnya, chatbot sering kali salah menangkap konteks atau memberi jawaban tidak tepat. Jika dijadikan acuan dalam mengambil keputusan, pengguna bisa salah langkah.
Selain itu, AI bukan sumber terpercaya dalam memberikan informasi medis maupun psikologis. Kesalahan data dapat berisiko memperburuk kondisi seseorang yang sedang mengalami masalah mental. “Chatbot tidak bisa menggantikan peran psikolog atau psikiater yang memiliki pengalaman klinis,” tambah pakar.
Bahaya lain yang tak kalah penting adalah soal privasi. Setiap percakapan dengan AI berpotensi terekam dan tersimpan dalam sistem. Jika tidak dikelola dengan baik, data pribadi bisa bocor dan disalahgunakan pihak tertentu.
Psikolog juga mengingatkan, ketergantungan pada bot dapat membuat kemampuan sosial seseorang menurun. Minimnya interaksi nyata bisa mengurangi kepekaan terhadap ekspresi, bahasa tubuh, hingga empati sesama manusia.
Meski begitu, pakar tidak sepenuhnya menolak pemanfaatan AI. Chatbot dinilai masih bisa membantu dalam hal ringan, seperti mencari informasi umum atau memberikan distraksi sementara. Namun untuk kasus serius, intervensi profesional tetap dibutuhkan.
Masyarakat diimbau bijak dalam memanfaatkan AI sebagai teman curhat. Jika merasakan gejala stres berat, kecemasan berlebihan, atau keinginan menyakiti diri, segera mencari pertolongan tenaga kesehatan jiwa.
“AI bisa jadi alat bantu, tapi bukan solusi utama. Interaksi dengan manusia dan dukungan sosial tetap sangat penting,” pungkas psikolog. (*)


