BACAAJA, SEMARANG- Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin mulai ngeracik “tim besar” buat urusan keluarga. Kali ini, dirinya menggandeng BKKBN Jawa Tengah biar program-program yang ada nggak jalan sendiri-sendiri.
Kolaborasi ini nggak sekadar formalitas. Fokusnya jelas: bikin pembangunan keluarga di Jateng lebih efektif, nyambung, dan terasa dampaknya. “Kami petakan mana yang bisa dikolaborasikan, karena programnya saling beririsan,” kata Nawal.
Baca juga: Lawan Stunting dari Hulu, Pemprov Jateng Gandeng BKKBN
Salah satu fokus utama ada di isu klasik tapi belum kelar-kelar: stunting, angka kematian ibu (AKI), dan bayi (AKB). Di sisi PKK dan Posyandu ada program “Kencan Bumil”, sementara BKKBN punya Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), Dahsyat (Dapur Sehat Atasi Stunting), dan MBG (Makan Bergizi Gratis) untuk ibu hamil, menyusui, dan balita. Kalau digabung, efeknya diharapkan nggak setengah-setengah.
Nggak cuma fisik, isu pengasuhan di era digital juga ikut disorot. Program kayak Paaredi (pola asuh digital), Cilukba (peran ayah), bakal disinergikan sama GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Intinya: orang tua juga harus “upgrade”, nggak cuma anaknya.
Kesehatan Mental
Yang menarik, kolaborasi ini juga nyentuh isu kesehatan mental, topik yang makin relevan tapi sering dianggap sepele. Nawal tertarik dengan platform BahteraCinta.id, layanan konsultasi keluarga berbasis digital yang ditangani langsung oleh psikolog.
Menurutnya, ini penting banget di tengah meningkatnya kerentanan anak muda terhadap tekanan mental. “Ini jadi angin segar, karena konsultasinya langsung dengan ahli, bukan AI,” jelasnya.
Program kolaborasi ini juga bakal nyentuh isu lain seperti pencegahan perkawinan anak, perlindungan lansia, layanan untuk disabilitas, hingga pendampingan remaja dan perempuan.
Baca juga: Cetak 600 Kader Paralegal, PKK Jateng Bangun Garda Terdepan Perlindungan Perempuan dan Anak
Sementara itu, Kepala BKKBN Jateng, Rusman Efendi optimistis kolaborasi ini bakal bikin dampaknya lebih “nendang”. “Kalau program digabung, hasilnya bisa lebih dahsyat,” katanya.
Selama ini banyak program bagus… tapi jalan sendiri-sendiri, kayak grup chat tanpa koordinasi. Jadi mungkin bukan idenya yang kurang, tapi sinyal “kerja bareng”-nya yang harus disambungin. (tebe)


