BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng membuka Gelar Tuk Panjang Pasar Imlek Semawis 2577 dengan satu garis besar: kedamaian adalah fondasi kesejahteraan kota.
Dalam acara yang digelar di Gang Gambiran itu, Agustina menyebut Semarang sudah sampai pada level kematangan sosial. Keberagaman bukan lagi sekadar slogan, tapi sudah jadi “sistem operasi” harian warga.
Menurutnya, berdampingannya Pasar Imlek Semawis dengan persiapan Pasar Dugderan adalah bukti akulturasi berjalan alami. Tionghoa, Jawa, Melayu, hingga komunitas Arab Muslim di Kauman hidup berdampingan untuk tujuan yang sama: sejahtera bareng.
Baca juga: Imlek dan Ramadan Datang Bersamaan, Agustina: Momentum Perkuat Toleransi
“Saya berharap tanpa harus dipuji atau ditonton, keberagaman itu memang sudah jadi perilaku sehari-hari,” ujarnya, Jumat (14/2/2026). Ia kemudian menarik filosofi Warak Ngendok sebagai simbol kuat hubungan damai dan ekonomi. Telur (ngendok), katanya, hanya bisa keluar kalau suasana tenang.
“Kalau congkrah nggak bakal bisa kerja. Kalau gelutan, ora iso metu ndog’e. Semarang damai itu tujuannya supaya semua bisa beraktivitas dengan tenang,” tegasnya.
Destinasi Wisata
Bagi Agustina, toleransi bukan cuma nilai moral, tapi mesin penggerak ekonomi. Pedagang bisa jualan tanpa rasa waswas, anak sekolah belajar nyaman, dan investasi masuk tanpa ragu. Ia juga mengungkapkan bahwa penataan kawasan cagar budaya seperti Pecinan, Kampung Melayu, hingga Bustaman mulai dilirik dunia internasional. Bahkan, Duta Besar Prancis disebut merespons positif pengembangan kampung-kampung tematik sebagai destinasi wisata global.
“Kawasan Pecinan ini sudah siap jadi destinasi wisata dunia. Kalau budaya dirawat, ekonomi ikut bergerak, dan generasi muda punya kebanggaan,” katanya. Momentum bulan ini pun terasa spesial. Perayaan Imlek 2577 berdekatan dengan persiapan Ramadan 1447 H dan masa Prapaskah umat Kristiani.
Nuansa Spiritual
Tiga nuansa spiritual hadir hampir bersamaan, sebuah “simfoni religi” yang jarang terjadi. “Inilah Semarang, kita dapat momentumnya. Tiga agama bersiap hari besar bersama. Semoga Semarang selalu jadi rumah yang teduh bagi siapa pun,” tutupnya.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus tumbuh, pesan yang disampaikan sederhana tapi dalam: damai itu bukan bonus, tapi syarat utama. Karena kalau kota sibuk bertengkar, jangankan wisatawan datang, telur pun nggak bakal netas. (tebe)


