BACAAJA, YOGYAKARTA – Debu proyek, suara besi beradu, dan panas terik matahari pernah jadi bagian sehari-hari dalam hidup Alfath. Tapi siapa sangka, dari rutinitas itu justru lahir cerita yang bikin banyak orang berhenti sejenak dan mikir ulang soal mimpi. Kini, nama Alfath Qornain Isnan Yuliadi dikenal sebagai salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas Gadjah Mada, sebuah capaian yang dulu terasa jauh dari jangkauan.
Perjalanan Alfath jelas bukan jalur “umum” yang sering dibicarakan. Ia datang dari bangku SMK, jalur yang sering dipandang lebih dekat ke dunia kerja dibanding pendidikan tinggi. Tapi di tengah arus itu, ia memilih belok arah, mengambil risiko, dan memperjuangkan sesuatu yang bahkan sempat diragukan orang terdekatnya sendiri.
Di sekolahnya di Klaten, Alfath jadi satu-satunya siswa yang berhasil lolos ke UGM. Bukan cuma itu, ia juga jadi orang pertama di keluarganya yang bisa duduk di bangku kuliah. Fakta ini bukan sekadar angka, tapi cerita panjang tentang keberanian melawan keadaan dan keyakinan pada diri sendiri.
Awalnya, keinginan kuliah bukan hal yang langsung didukung. Orang tuanya punya alasan kuat—secara ekonomi, jalur SMK dianggap lebih realistis karena bisa langsung kerja. Apalagi Alfath adalah anak kedua dari enam bersaudara, yang artinya setiap keputusan harus dipikirkan matang-matang.
Namun Alfath punya cara sendiri untuk meyakinkan. Ia tidak hanya bicara soal mimpi, tapi juga tentang peluang berkembang. Ia percaya, jika berhenti di SMK saja, ruang geraknya akan terbatas. Keinginan itu perlahan meluluhkan hati orang tuanya, meski prosesnya tidak instan.
Perjuangan sebenarnya justru dimulai setelah izin didapat. Alfath tidak ingin membebani keluarga, jadi ia memilih mencari biaya sendiri. Sejak kelas dua SMK, ia ikut ayahnya bekerja di proyek bangunan, menjalani pekerjaan yang tidak ringan demi satu tujuan: bisa ikut seleksi masuk perguruan tinggi.
Dari menggali tanah hingga mengangkat material berat, semua ia jalani. Upahnya sekitar Rp50 ribu per hari, jumlah yang mungkin terlihat kecil, tapi sangat berarti baginya. Uang itu ia kumpulkan perlahan untuk biaya UTBK dan kebutuhan sekolah lainnya.
Rutinitasnya padat. Pagi sampai sore bekerja, malam hari belajar. Bahkan menjelang ujian, ia menyusun strategi sendiri—empat hari kerja, tiga hari fokus belajar penuh. Tidak ada ruang untuk santai, semuanya dihitung dan dimaksimalkan.
Di tengah perjuangan itu, ujian datang tidak hanya dari soal-soal ujian, tapi juga dari keadaan. Alfath pernah mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek. Momen itu sempat membuatnya overthinking dan khawatir masa depannya terhenti di situ.
Namun bukannya menyerah, kejadian itu justru jadi bahan bakar baru. Ia memilih bangkit dan melanjutkan perjuangannya. Baginya, berhenti bukan pilihan, apalagi setelah sejauh itu melangkah.
Hari pengumuman UTBK jadi salah satu momen paling emosional dalam hidupnya. Ia membuka hasilnya sendirian di kamar, dan ketika melihat kata “lolos”, semuanya terasa campur aduk. Tangis, lega, dan bahagia jadi satu.
Ia langsung memeluk ibunya, lalu berlari mencari kakeknya. Momen itu begitu membekas, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya. Ia menjadi simbol harapan baru di tengah keterbatasan.
Masuk ke dunia kampus membawa perubahan besar. Dari yang dulu cenderung pendiam dan fokus akademik saja, Alfath mulai membuka diri. Ia aktif berorganisasi, mencoba hal-hal baru, dan perlahan keluar dari zona nyamannya.
Perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Lingkungan kampus memberinya perspektif baru bahwa prestasi tidak hanya soal nilai, tapi juga pengalaman, relasi, dan keberanian mencoba.
Sejak semester tiga, Alfath mulai aktif ikut lomba. Hal yang dulu ia hindari, kini justru jadi jalan pembuka berbagai peluang. Satu per satu kompetisi ia jalani dengan penuh keseriusan.
Hasilnya tidak main-main. Ia berhasil mengoleksi sekitar 15 prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, ia pernah menjadi finalis dalam ajang kompetisi di Nanyang Technological University, sebuah pengalaman yang semakin memperluas wawasannya.
Prestasi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan sebagai Insan Berprestasi UGM tahun 2025. Sebuah pencapaian yang mungkin dulu hanya ada di angan-angan, kini jadi kenyataan.
Bagi keluarganya, ini lebih dari sekadar penghargaan. Ini adalah bukti bahwa perjuangan yang mereka jalani bersama tidak sia-sia. Rasa bangga itu terasa begitu nyata, terutama bagi orang tua yang dulu sempat ragu.
Kisah Alfath jadi pengingat bahwa latar belakang bukan penentu akhir. Dari anak tukang bangunan, ia mampu berdiri sejajar dengan mahasiswa lain dan bahkan melampaui ekspektasi banyak orang.
Ia juga membuka jalan bagi adik-adiknya dan generasi setelahnya, bahwa kuliah bukan sesuatu yang mustahil, bahkan bagi mereka yang berasal dari jalur yang tidak biasa.
Di tengah semua pencapaiannya, Alfath tetap memegang satu prinsip sederhana: fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang. Baginya, masa depan bukan untuk ditebak, tapi diperjuangkan.
Cerita ini bukan cuma tentang sukses, tapi tentang proses panjang yang penuh jatuh bangun. Tentang keberanian memilih jalan berbeda, dan konsistensi menjalani pilihan itu.
Dari proyek ke kampus, dari ragu ke percaya diri, Alfath membuktikan satu hal—mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh selalu punya cara untuk sampai tujuan. (*/ugm.ac.id)

