BACAAJA, SEMARANG – Lonjakan kasus campak di Jawa Tengah bikin pemerintah daerah mulai pasang mode waspada. Di tengah situasi yang sempat adem setelah pandemi, penyakit lama ini justru muncul lagi dengan angka yang nggak bisa dianggap sepele.
Data dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah mencatat ada sekitar 1.423 kasus campak yang terdeteksi sepanjang awal 2026. Angka ini jadi sinyal bahwa penularan masih aktif dan perlu penanganan serius di berbagai wilayah.
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen atau yang akrab disapa Gus Yasin, mengingatkan bahwa campak bukan penyakit ringan yang bisa dianggap biasa. Justru, daya tularnya disebut jauh lebih tinggi dibanding COVID-19.
“Kalau COVID-19 satu orang menulari lima orang, campak bisa sampai 18 orang,” ujar Gus Yasin. Pernyataan ini sekaligus jadi alarm keras bahwa penyebaran campak bisa berlangsung sangat cepat jika tidak diantisipasi dengan baik.
Sejumlah daerah bahkan sudah masuk kategori yang memenuhi indikasi Kejadian Luar Biasa atau KLB. Tiga wilayah yang disebut adalah Cilacap, Klaten, dan Pati.
Selain itu, ada juga dua daerah yang masuk kategori suspek KLB, yaitu Brebes dan Kudus. Artinya, potensi lonjakan kasus di wilayah ini masih terus dipantau secara ketat.
Kalau ditarik lebih luas, total suspek campak di triwulan pertama 2026 mencapai 1.490 kasus dan tersebar di 35 kabupaten/kota. Ini menunjukkan penyebarannya nggak terpusat di satu titik saja, tapi merata di banyak daerah.
Kepala Dinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar, menjelaskan bahwa lonjakan tertinggi terjadi di bulan Januari dengan 792 kasus suspek. Setelah itu, angkanya mulai turun di Februari dan Maret, tapi tetap dalam kategori yang perlu diwaspadai.
Dari ribuan kasus suspek tersebut, ratusan sampel sudah diperiksa. Hasilnya, ditemukan 121 kasus positif campak dan 14 kasus positif rubella yang juga termasuk penyakit menular.
Wilayah dengan kasus suspek terbanyak berasal dari Kudus, disusul Brebes dan Banyumas. Sementara untuk kasus positif campak, Cilacap dan Pati jadi daerah dengan angka tertinggi.
Meski begitu, pemerintah daerah belum secara resmi menetapkan status KLB. Yunita menjelaskan bahwa ada kriteria tertentu yang harus terpenuhi sebelum status tersebut diumumkan.
Salah satu indikatornya adalah adanya dua kasus yang saling berhubungan secara epidemiologis dalam satu lingkungan, ditambah hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan positif.
“Secara kriteria ada tiga daerah yang memenuhi, tapi belum dideklarasikan. Yang penting penanganannya tetap jalan,” jelas Yunita.
Fokus utama saat ini adalah penanganan pasien agar tidak berkembang menjadi kasus yang lebih berat. Karena campak disebabkan oleh virus, pengobatan yang diberikan lebih bersifat meredakan gejala.
Misalnya jika pasien mengalami demam, maka yang ditangani adalah demamnya. Begitu juga dengan gejala lain seperti ruam atau gangguan pernapasan yang muncul.
Selain penanganan, langkah pencegahan juga terus digencarkan. Salah satu strategi yang dijalankan adalah Outbreak Response Immunization atau ORI di wilayah yang dianggap berisiko tinggi.
Program ini bertujuan menyisir kembali anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak, terutama yang sempat terlewat saat pandemi COVID-19 berlangsung.
Yunita menyebut, sebenarnya cakupan imunisasi di Jawa Tengah sudah cukup tinggi. Namun dampak pandemi beberapa tahun lalu membuat sebagian anak tidak mendapatkan vaksin sesuai jadwal.
Kondisi ini akhirnya menciptakan celah bagi virus campak untuk kembali menyebar. Ketika ada kelompok yang belum imunisasi, risiko penularan otomatis meningkat.
Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah perlindungan paling efektif. Bukan cuma untuk campak, tapi juga penyakit menular lainnya.
Situasi ini jadi pengingat bahwa ancaman kesehatan tidak selalu datang dari penyakit baru. Penyakit lama pun bisa kembali muncul jika kewaspadaan mulai kendor.
Dengan angka yang sudah tembus ribuan kasus, masyarakat diharapkan nggak lengah. Deteksi dini, imunisasi, dan kesadaran bersama jadi kunci agar lonjakan ini nggak berkembang jadi krisis yang lebih besar. (*)


