BACAAJA, SEMARANG- Christopherus Music School bakal menggelar kompetisi band dan bass pada 18-19 April 2026 di Uptown Mall BSB City, Semarang. Ajang ini dirancang bukan sekadar lomba biasa, tapi sebagai wadah lahirnya musisi yang punya kelas.
Di bawah naungan Yayasan Christopherus Music School, kompetisi ini terbuka untuk umum tanpa batasan usia. Jadi, siapapun yang merasa punya skill dan visi bermusik, boleh banget ikut.
Pendiri yayasan, Andreas Christanday menegaskan, ajang ini berupaya mencari talenta dengan standar tinggi, bahkan tak ragu mengacu pada kualitas musisi dunia.
Baca juga: Festival Kota Lama 2025 Siap Pecah Banget! Dari Musik, Fashion, Sampai Kuliner Nostalgia, Semua Ada!
Ia menyebut band legendaris seperti Deep Purple sebagai benchmark. Bukan cuma soal skill, tapi juga musikalitas dan arah bermusik. “Tidak cukup hanya mahir secara teknis. Musik juga harus membawa nilai,” ujarnya.
Menariknya, kompetisi bass jadi salah satu highlight. Instrumen yang sering “di balik layar” ini justru diangkat ke depan, buat cari bassist berbakat yang selama ini kurang terekspos.
Ruang Berkembang
Ketua panitia, Steve Handoyo bilang, ajang ini penting banget buat generasi muda yang butuh ruang berkembang. “Peserta nggak cuma tampil, tapi juga dapat arahan yang jelas dalam bermusik,” jelasnya.
Seleksi bakal dilakukan bertahap, mulai dari online sampai final. Dari target 30-50 peserta, cuma 15 terbaik yang bakal naik ke panggung utama. Penilaiannya pun nggak main-main: teknik, aransemen, kekompakan, sampai ekspresi musikal semua masuk hitungan.
Baca juga: Rotary Semarang dan Musisi Rumanfaat Tanam Pohon di Lereng Ungaran
Deretan juri juga diisi nama-nama berpengalaman seperti Gilang NR, Berry Likumahua, Amos Cahyadi, dan Steve Handoyo sendiri. Peserta wajib membawakan lima lagu pilihan dari musisi seperti Diskoria, Sheila Majid, Sheila on 7, Kotak, hingga God Bless.
Nggak cuma lomba, acara ini juga bakal diramaikan penampilan siswa terbaik, lomba line dance, tenant UMKM, sampai karaoke interaktif. Total hadiah yang disiapkan pun tembus puluhan juta rupiah.
Menariknya lagi, Yayasan Christopherus saat ini juga mulai merambah dunia perfilman sebagai bagian dari pengembangan kreativitas yang lebih luas. Lewat event ini, mereka ingin menghidupkan kembali ekosistem seni di Semarang, sekaligus membantah anggapan kalau kota ini minim ruang kreatif.
Jadi, kalau selama ini musik cuma soal viral dan trending, ajang ini kayak pengingat: jadi musisi itu bukan sprint, tapi maraton. Viral boleh, tapi kalau nggak punya kualitas… ya siap-siap dilupakan. (tebe)


