BACAAJA, SEMARANG – Antusiasme warga terhadap program pengobatan gratis yang digelar DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah terlihat sejak pagi. Warga datang silih berganti, membentuk antrean panjang untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa biaya.
Sebagian datang untuk pemeriksaan ringan, sebagian lain membawa keluhan yang sudah lama dirasakan. Bagi mereka, kesempatan ini menjadi alternatif di tengah keterbatasan akses dan biaya pengobatan.
Ari (42), warga Karang Tempel, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Ia merasa terbantu karena bisa mengetahui kondisi kesehatannya secara langsung.
Bacaaja: Dapur Marhaen: dari Makan hingga Urusan Kesehatan, Bikin PDIP Makin Dekat ke Rakyat
Bacaaja: Catat Tanggalnya! Dapur Marhaen PDIP Rutin Digelar Tiap Tanggal 10 Serempak di Jateng
“Jadi tahu kesehatan kita, apa yang kurang, apa yang harus diperhatikan,” katanya, Jum’at (10/4/2026)
Di sisi lain, Anggwatin (50) datang dengan cerita kesehatan yang cukup panjang. Ia mengaku sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit, hingga akhirnya terpapar Covid-19 dua kali dan mengalami gangguan autoimun.
“Sekarang jadi banyak keluhan. Tadi saya juga sempat tanya ke dokter di sini,” ujarnya.
Meski hanya mendapatkan vitamin, ia tetap merasa terbantu karena bisa berkonsultasi tanpa harus mengeluarkan biaya.
Namun di balik tingginya antusiasme, muncul persoalan teknis di lapangan. Masyiadi, Ketua RT setempat, mengungkapkan adanya kendala dalam pendataan dan distribusi kuota layanan.
“Kami sudah mendata warga, sekitar 10 orang. Tapi yang bisa periksa hanya enam, karena kuotanya sudah habis,” jelasnya.
Meski demikian, warga tetap mengapresiasi adanya program ini. Mereka berharap ke depan pelaksanaannya bisa lebih tertata, agar manfaatnya benar-benar bisa dirasakan secara merata.
Bagi banyak warga, pengobatan gratis ini bukan hanya soal layanan kesehatan, tetapi juga tentang harapan bahwa akses berobat tidak selalu harus mahal. (dul)

