Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Rakyat Selalu Bertaruh Nyawa saat Coba Bersuara, Jejak Demo Berdarah di Indonesia
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Politik

Rakyat Selalu Bertaruh Nyawa saat Coba Bersuara, Jejak Demo Berdarah di Indonesia

Rakyat Indonesia bertaruh nyawa saat mereka coba bersuara, mengungkapkan keresahan mereka. Demonstrasi berujung korban jiwa, bukan kali ini saja terjadi.

R. Izra
Last updated: September 7, 2025 1:37 pm
By R. Izra
2 Min Read
Share
Ilustrasi aksi demonstrasi.. Polisi Tangkap 7 Pemilik Akun Medsos Diduga Provokasi Demo Ricuh. (grafis/tera).
Ilustrasi aksi demonstrasi..(grafis/tera).
SHARE

TBACAAJA, SEMARANG – Sejarah negeri ini sering kali terasa ironis. Setiap kali rakyat membuka suara, entah lewat mimbar kampus atau turun ke jalan untuk demonstrasi, selalu ada harga mahal yang harus dibayar. Dan sialnya, harga itu bukan rupiah, tapi nyawa.

Catatan panjang demonstrasi di Indonesia membuktikan hal itu. Tahun 1966, mahasiswa dan rakyat mendesak pembubaran Partai Komunis Indonesia sekaligus menuntut turunnya Soekarno. Dua orang tewas, dan itu baru awal.

Delapan tahun kemudian, 1974, pecah Peristiwa Malari. Ribuan mahasiswa turun ke jalan menolak derasnya investasi asing, terutama dari Jepang, sambil mengkritik korupsi Orde Baru. Protes itu berujung ricuh, sebelas orang meninggal, puluhan luka-luka, dan ratusan ditangkap.

Kisah paling diingat tentu tragedi 1998. Dari Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa, kerusuhan Mei dengan korban lebih dari seribu jiwa, hingga Semanggi I dan II yang kembali merenggut belasan nyawa. Reformasi memang lahir, tapi dengan ongkos darah yang tidak sedikit.

Dua dekade setelahnya, 2019, gelombang protes kembali mengguncang. Kali ini soal pelemahan KPK dan pasal-pasal kontroversial di RKUHP. Data YLBHI mencatat ada 51 orang meninggal. Tujuh jelas karena peluru dan gas air mata, sementara 44 lainnya meninggal tanpa penyebab pasti—seolah-olah nyawa bisa lenyap begitu saja tanpa catatan resmi.

Kini, 2025, pola itu berulang. Aksi protes Agustus–September menolak tunjangan DPR dan menyorot krisis ekonomi lagi-lagi dibayar dengan korban. Komnas HAM melaporkan sepuluh orang tewas.

Dari masa ke masa, suara rakyat memang tak pernah padam. Tapi di balik setiap orasi dan spanduk yang dibentangkan, selalu ada cerita kehilangan. Pertanyaan sederhana pun menggantung: sampai kapan rakyat harus mati dulu, baru penguasa mau mendengar? (bae)

You Might Also Like

Eks Bos BMKG Pernah Kasih Peringatan ke Bobby Nasution Soal Bencana Banjir Dahsyat, Tapi…

SPMB Belum Mulai, Ombudsman Sudah Cium “Bau” Ribetnya

Upgrade Skill, Mahasiswa Semarang Ramai-ramai Ikut Beasiswa Menulis Bacaaja

Rabu Nggak Harus ke Kantor, Pemkot Surakarta Jajal WFA

Klarifikasi dan Sanksi: Kontroversi Wahyudin Moridu Viral “Rampok Uang Negara”

TAGGED:demonstrasiheadlinejejak demo berdarahkorban jiwarakyat bertaruh nyawa
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Rutin Sarapan Telur Rebus, Tubuh Bisa Jadi Seperti Ini Lho!
Next Article Rektor Undip (tengah) bersama konten kreator menunjukkan perbedaan warna almet lama (kanan) dan almet batu (kiri). (instagram @thesadewa) Jas Almet Undip Ganti Warna, Rektor: Masa Keren Gini Dibilang Mirip Terpal

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

GEMPAT NTT - Warga di NTT menunjukkan kerusakan rumah terdampak gempa, Sabtu (15/8/2026).

Ada 37 Gempa Susulan Guncang NTT, BNPB: Dua Korban Jiwa di Sikka

Sekda sekaligus Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Semarang, Handi Priyanto. (ist)

Pajak Seret, Pemkot Semarang Sesuaikan Belanja APBD 2026

Lima Kuliner Legendaris Pilihan Pramono Anung

MABA UNNES--BEM Unnes mengunggah postingan duka cita atas meninggalnya maba saat berangkat ospek. (ist)

Unnes Dihujani Kritik: Gelar Ospek Dini Hari sebelum Subuh, Picu Korban Jiwa

Ilustrasi gempa bumi.

Berpotensi Tsunami, NTT Diguncang Gempa Magnitudo 7,7

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Hujan Sore, Banjir Malam: 12 Desa di Grobogan Kebanjiran

April 3, 2026
Daerah

Lawan Beras Oplosan, Pemkot Andalkan Srikandi Pangan

Juli 22, 2025
Pendidikan

Stand Indonesia Diserbu di Yordania: dari Wayang sampai Es Cendol, Semua Laris Manis!

April 23, 2026
Daerah

Jateng Panen Penghargaan: Layanan Kesehatan Ngebut, Warga Desa Ikut Ketularan Sehat

Desember 2, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Rakyat Selalu Bertaruh Nyawa saat Coba Bersuara, Jejak Demo Berdarah di Indonesia
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?