BACAAJA, SEMARANG- Kalau mental juara cuma modal omongan, trofi tak bakal pindah tangan. SMA Theresiana 1 dan SMP Islam Al Azhar 14 Semarang membuktikan bahwa kemenangan lahir dari latihan, kepercayaan diri, dan keberanian tampil saat pertandingan memasuki momen paling menentukan.
Keduanya sukses merajai Kejuaraan Beregu Hydroplus Junior & High School Badminton Invitation 2026 yang berakhir di Polytron Stadium Undip, Semarang, Minggu, (11/10/2026). Theresiana 1 berjaya di kategori SMA, sedangkan Al Azhar 14 menguasai persaingan tingkat SMP.
Di kategori SMA, perjalanan Theresiana 1 menuju podium tertinggi jauh dari kata santai. Berhadapan dengan Jakarta Intercultural School (JIS) di final, mereka harus melewati duel tiga partai yang berakhir dengan skor 2-1.
Malvino Noel Listyo membuka jalan kemenangan lewat laga tunggal yang sengit. Ia menundukkan Naren Louis dua gim langsung, 15-10 dan 15-13. JIS tak tinggal diam. Naren Louis/Icnacio Handoko menyamakan kedudukan setelah membungkam Axell Nariko Kurniawan/Justin Anderson dengan skor 15-5 dan 15-4.
Baca juga: “Selamat Jalan, Om Bambang”: Dari Kudus, Kenangan dan Jejak Besar yang Nggak Ikut Pergi
Ketika pertandingan memasuki partai penentu, Malvino kembali turun bersama Josefina Andaruni di nomor ganda campuran. Duet ini tampil solid dan menaklukkan Suvir Bhargava/Jovya Silaban dengan skor identik 15-9, 15-9.
Trofi pun resmi menjadi milik Theresiana 1. Sementara itu, posisi ketiga kategori SMA diraih SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Malvino menyebut latihan tambahan menjadi salah satu modal penting timnya.
Tak hanya mengandalkan ekstrakurikuler sekolah, mereka juga menyewa lapangan di GOR Bulutangkis Pamardi Utomo untuk mengasah kemampuan. “Kuncinya latihan rutin dan percaya diri tinggi. Kami tampil maksimal,” kata Malvino, yang juga bernaung di PB Matahari Terbit.
Kategori SMP
Cerita berbeda datang dari kategori SMP. SMP Islam Al Azhar 14 Semarang sukses membayar tuntas kegagalan tahun lalu, ketika langkah mereka terhenti di perempat final atau delapan besar. Kali ini, mereka tak memberi banyak ruang bagi SMP Muhammadiyah 01 Yogyakarta di partai puncak. Al Azhar 14 menang 2-0 sekaligus mengunci gelar juara.
Alaric Mahardika menjadi pembuka kemenangan setelah melibas Muhammad Rasyid dengan skor 15-6 dan 15-2. Berikutnya, Alaric berpasangan dengan M Farzan Hidayat untuk menghadapi ganda campuran lawan, Nafisah Bening Aisya Ara/Ahmad Athaya Ahza Putra.
Pertandingan kedua berlangsung lebih dramatis. Sempat kehilangan gim pertama 7-15, pasangan Al Azhar 14 bangkit, merebut gim kedua 16-14, lalu menuntaskan laga dengan kemenangan 15-12.
Bagi tim Al Azhar 14, gelar ini menjadi bukti bahwa kegagalan tahun lalu bukan akhir cerita. Persiapan yang lebih matang dan latihan mandiri menjadi bagian dari pembenahan mereka.
Baca juga: Djarum dan PBSI Jateng Bidik Bibit Pebulutangkis dari Sekolah
“Keberhasilan ini buah dari persiapan dan materi pemain yang jauh lebih matang dibanding tahun lalu. Selain ekstrakurikuler, para pemain rajin latihan mandiri,” ujar Ahmad Dwi Arianto, guru Bimbingan dan Konseling sekaligus pendamping tim.
Juara ketiga kategori SMP ditempati SMP Al Azhar 29 Semarang. Para pemenang kategori I, II, dan III masing-masing berhak memperoleh dana pembinaan Rp 6 juta untuk juara pertama, Rp 4 juta untuk juara kedua, dan Rp 2 juta bagi peringkat ketiga.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation sekaligus Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin menilai, persaingan tahun ini berlangsung ketat. Ke depan, panitia berencana mengundang lebih banyak SMA favorit dari provinsi lain, khususnya di Pulau Jawa, sekaligus mendorong kehadiran suporter agar atmosfer pertandingan makin meriah. Sementara Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf juga mengingatkan peserta agar menjadikan hasil kejuaraan sebagai pijakan untuk berkembang.
Pada akhirnya, Hydroplus 2026 memberi pesan sederhana: juara bukan sekadar soal siapa yang paling keras memukul kok, melainkan siapa yang paling siap ketika poin-poin krusial datang. Sebab, di lapangan bulutangkis, teriakan optimistis saja tak cukup. Kok tetap harus menyeberangi net, bukan cuma menyeberangi ekspektasi. (tebe)

