BACAAJA, SEMARANG – Ngobrol memang gampang, tetapi menjaga setiap ucapan ternyata tidak selalu sesederhana itu. Satu kalimat yang keluar tanpa dipikir bisa membuat orang lain tersinggung, memicu pertengkaran, bahkan berubah menjadi fitnah.
Dalam Islam, lisan memiliki posisi penting karena bisa menjadi jalan datangnya pahala sekaligus dosa. Perkataan yang baik dapat membawa manfaat, sedangkan ucapan yang sembarangan bisa menimbulkan masalah panjang.
Karena itu, menjaga lisan bukan berarti harus selalu diam. Yang ditekankan adalah membiasakan diri berbicara dengan benar, baik, dan tidak menyakiti orang lain.
Berkata Baik atau Diam
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi cukup relevan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum berbicara, seseorang perlu mempertimbangkan apakah ucapannya membawa manfaat atau justru membuka masalah.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70–71:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Yā ayyuhallażīna āmanūttaqullāha wa qūlū qawlan sadīdan.
Yuslih lakum a‘mālakum wa yaghfir lakum zunūbakum.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.”
Setiap Ucapan Dicatat
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap perkataan manusia dicatat.
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Mā yalfizhu min qawlin illā ladaihi raqībun ‘atīd.
Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).
Karena itu, ucapan yang dianggap sepele tetap perlu diperhatikan. Sesuatu yang bagi pembicara mungkin hanya candaan bisa saja terasa menyakitkan bagi orang lain.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa satu kalimat bisa mendatangkan keridhaan Allah, tetapi satu kalimat lainnya juga dapat membawa kemurkaan-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Biasakan Dzikir
Salah satu cara melatih lisan adalah memperbanyak dzikir. Ketika lidah terbiasa mengucapkan hal-hal baik, seseorang diharapkan semakin mampu menjauhkan diri dari perkataan buruk.
Di antaranya:
سُبْحَانَ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.
Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.
Dzikir menjadi salah satu cara sederhana untuk membiasakan lidah dengan ucapan yang baik.
Jauhi Ghibah dan Fitnah
Ghibah termasuk perkara yang perlu dihindari dalam menjaga lisan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
Wa lā yaghtab ba‘dukum ba‘dan.
Artinya: “Janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Dalam ayat tersebut, ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Gambaran tersebut menunjukkan betapa buruknya perilaku menggunjing orang lain.
Santun Saat Berbicara
Menjaga lisan juga berarti memperhatikan cara berbicara. Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan perkataan yang baik dan penuh penghormatan, terutama ketika berbicara kepada orang tua.
Allah SWT berfirman:
فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
Fala taqul lahumā uffin wa lā tanharhumā.
Artinya: “Janganlah engkau berkata kasar kepada keduanya dan jangan membentak mereka.” (QS. Al-Isra’: 23).
Ucapan yang lembut menjadi bagian dari akhlak yang baik. Sebaliknya, perkataan kasar bisa merusak hubungan yang sudah dibangun lama.
Tidak Semua Debat Harus Diladeni
Perdebatan yang tidak perlu juga bisa menjadi pintu keluarnya ucapan kasar. Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan meninggalkan perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Dalam hadis disebutkan, “Aku menjamin rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud).
Lisan juga seharusnya dipakai untuk menjaga persaudaraan. Ucapan berupa doa, dukungan, dan nasihat yang lembut bisa mempererat hubungan antarmanusia.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya soal menghindari dosa. Kebiasaan berbicara dengan baik juga membantu membangun hubungan yang lebih sehat, membuat seseorang lebih dipercaya, dan menjadi bagian dari akhlak seorang Muslim. (*)

