BACAAJA, SEMARANG – Ucapan Masya Allah sudah akrab di telinga umat Islam. Kalimat ini sering spontan keluar saat melihat sesuatu yang indah, mengagumkan, atau membuat hati merasa kagum.
Meski sering diucapkan, ternyata masih banyak yang belum benar-benar memahami makna di balik kalimat tersebut. Padahal, Masya Allah bukan sekadar ungkapan kagum, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT.
Secara bahasa, Masya Allah berarti apa yang dikehendaki Allah atau inilah yang terjadi atas kehendak Allah. Kalimat ini menjadi pengingat bahwa segala keindahan, keberhasilan, maupun karunia yang ada bukan semata hasil usaha manusia.
Karena itu, ketika melihat rumah yang bagus, anak yang lucu, pemandangan indah, hasil panen melimpah, atau keberhasilan seseorang, umat Islam dianjurkan mengucapkan Masya Allah sebagai bentuk syukur sekaligus mengakui kebesaran Allah.
Anjuran tersebut memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 39:
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ
Artinya:
“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ‘Masyaallah, la quwwata illa billah’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS Al-Kahfi: 39)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa saat menikmati nikmat atau melihat sesuatu yang memukau, seorang Muslim dianjurkan mengingat Allah, bukan malah larut dalam rasa bangga atau kagum berlebihan kepada makhluk.
Ulama besar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, juga menjelaskan bahwa kalimat Masya Allah memiliki makna yang sangat dalam. Dalam tafsirnya terhadap Surat Al-Kahfi, beliau memaparkan dua penafsiran yang saling melengkapi.
Makna pertama adalah “Inilah yang dikehendaki oleh Allah.” Kalimat ini menunjukkan bahwa apa pun yang sedang disaksikan terjadi karena izin dan kehendak-Nya.
Dalam bentuk lengkapnya, ungkapan itu dipahami sebagai:
هذا ما شاء الله
Latin: Hadzaa maa syaa Allah.
Artinya: Inilah yang dikehendaki oleh Allah.
Sementara makna kedua berbunyi “Apa yang dikehendaki Allah, pasti akan terjadi.” Penjelasan ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa di dunia yang lepas dari ketentuan Allah SWT.
Bentuk lengkapnya adalah:
ما شاء الله كان
Latin: Maa syaa Allahu kaana.
Artinya: Apa yang dikehendaki Allah, maka itulah yang akan terjadi.
Dua makna tersebut sama-sama mengajarkan bahwa manusia hanya bisa berusaha. Adapun hasil akhirnya tetap berada dalam kuasa Allah SWT.
Karena itulah, Masya Allah bukan sekadar ucapan kagum yang diucapkan karena kebiasaan. Kalimat ini merupakan dzikir yang mengandung tauhid, rasa syukur, sekaligus pengingat agar hati tidak mudah sombong terhadap nikmat yang dimiliki.
Membiasakan mengucapkan Masya Allah saat melihat sesuatu yang indah juga menjadi cara menjaga hati agar tetap rendah diri. Semua pencapaian, kecantikan, kekayaan, maupun keberhasilan pada akhirnya adalah karunia dari Allah SWT yang patut disyukuri, bukan dibanggakan secara berlebihan. (*)

