BACAAJA, SEMARANG – Kasus kanker pada kalangan Generasi Z dan milenial kini menjadi perhatian serius para peneliti dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pasien berusia muda terus bertambah, bahkan banyak di antaranya berasal dari kelompok yang dikenal aktif dan menerapkan pola hidup sehat.
Fenomena ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan ilmuwan. Sebab, banyak pasien yang tidak memiliki faktor risiko klasik seperti obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat kanker dalam keluarga.
Riset terbaru mengarah pada satu dugaan yang cukup mengejutkan, yakni tubuh sebagian anak muda mengalami penuaan biologis lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Kondisi ini diyakini dapat meningkatkan peluang munculnya berbagai jenis kanker sejak usia produktif.
Profesor Kedokteran Harvard Medical School sekaligus ahli gastroenterologi, dr. Andrew Chan, mengaku mulai melihat perubahan tersebut sejak sekitar dua dekade terakhir. Di kliniknya, pasien kanker kolorektal berusia muda kini semakin sering berdatangan.
Menurutnya, dulu penderita kanker usia muda hanya mencakup sebagian kecil dari seluruh pasien. Kini angkanya meningkat lebih dari dua kali lipat dan menjadi tren yang tidak bisa lagi diabaikan.
Yang membuat para dokter semakin penasaran, banyak pasien justru memiliki gaya hidup yang tergolong sehat. Ada yang rutin berlari maraton, menjaga pola makan, hingga tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga.
Data dari American Cancer Society 2026 juga memperlihatkan tren serupa. Meski angka kanker kolorektal secara keseluruhan menurun, kasus pada kelompok usia di bawah 50 tahun justru terus bertambah sekitar 2,9 persen setiap tahun.
Tak hanya meningkat jumlahnya, kanker yang menyerang usia muda juga cenderung berkembang lebih agresif. Hal inilah yang membuat penelitian mengenai penyebabnya semakin diprioritaskan.
Untuk mencari jawabannya, dr. Andrew Chan memimpin proyek riset internasional yang melibatkan ilmuwan dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, hingga India. Penelitian tersebut mengkaji berbagai kemungkinan pemicu yang berasal dari lingkungan maupun gaya hidup modern.
Beberapa faktor yang sedang diteliti antara lain konsumsi makanan ultra-proses, paparan mikroplastik, bahan kimia yang sulit terurai, alkohol, hingga perubahan lingkungan yang memengaruhi kesehatan manusia.
Temuan menarik datang dari penelitian yang dipimpin dr. Yin Cao dari Washington University School of Medicine. Timnya menganalisis lebih dari 150 ribu sampel darah menggunakan sembilan penanda biologis untuk melihat proses penuaan di dalam tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang lahir setelah tahun 1965 memiliki peluang sekitar 23 persen lebih tinggi mengalami percepatan penuaan biologis dibanding mereka yang lahir pada awal 1950-an.
Kondisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker paru-paru, kanker saluran pencernaan, hingga kanker rahim.
Penuaan biologis berbeda dengan usia berdasarkan tanggal lahir. Seseorang bisa saja berusia 35 tahun secara kronologis, tetapi kondisi biologis tubuhnya menyerupai orang yang jauh lebih tua.
Saat penuaan biologis berlangsung lebih cepat, sel-sel tubuh lebih rentan mengalami kerusakan. Kondisi itu dapat memicu stres oksidatif, perubahan DNA, hingga pertumbuhan sel kanker.
Para ilmuwan kini mengembangkan berbagai teknologi untuk mengukur usia biologis, salah satunya melalui metode epigenetic clock atau jam epigenetik. Teknologi ini dinilai berpotensi membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini.
Di masa depan, pemeriksaan usia biologis diperkirakan bisa menjadi bagian dari layanan kesehatan rutin. Dengan begitu, dokter dapat mengenali orang yang berisiko sebelum penyakit berkembang lebih jauh.
Meski begitu, para peneliti menegaskan belum ada satu penyebab tunggal yang bisa menjelaskan lonjakan kanker pada generasi muda. Penelitian masih terus berlangsung untuk mengungkap faktor-faktor lain yang mungkin ikut berperan.
Para ahli juga mengingatkan bahwa pola hidup sehat tetap penting dijalankan, meski bukan satu-satunya penentu. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi makanan olahan, dan membatasi alkohol tetap menjadi langkah yang dianjurkan.
Selain itu, skrining kanker sesuai usia dan faktor risiko juga tidak boleh diabaikan. Deteksi sejak dini masih menjadi cara paling efektif untuk meningkatkan peluang kesembuhan ketika kanker berhasil ditemukan pada tahap awal. (*)

