BACAAJA, BALI – Suasana malam di halaman Fakultas Hukum Universitas Udayana awalnya berjalan santai seperti forum diskusi mahasiswa pada umumnya. Sejumlah mahasiswa duduk lesehan sambil menyaksikan film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Namun suasana mendadak berubah saat acara hampir selesai diputar.
Di tengah penayangan film yang memasuki bagian akhir, seorang pria berseragam loreng khas tentara tiba-tiba datang ke lokasi kegiatan. Kehadirannya langsung membuat suasana yang sebelumnya tenang berubah canggung dan bikin banyak mahasiswa saling melirik.
Kegiatan nonton bareng sekaligus diskusi itu diketahui digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana pada Kamis malam, 14 Mei 2026. Acara tersebut merupakan bagian dari forum diskusi mahasiswa yang selama ini rutin membahas berbagai isu sosial dan nasional.
Kepala Bidang Kajian dan Aksi Strategis BEM FH Unud, Gusde Manuaba, mengatakan kedatangan anggota TNI itu terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada panitia. Menurutnya, prajurit tersebut langsung masuk ke area acara ketika film hampir selesai diputar.
“Menjelang akhir film, kami dikagetkan dengan kehadiran salah seorang anggota TNI yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam lingkup acara,” ujar Gusde.
Kehadiran aparat berseragam di tengah forum mahasiswa itu langsung memancing rasa penasaran peserta. Beberapa mahasiswa terlihat tetap fokus menonton film, sementara sebagian lain mulai memperhatikan situasi di sekitar lokasi kegiatan.
Menurut pihak BEM, anggota TNI tersebut mengaku sebagai Babinsa Dauh Puri Kelod. Setelah datang ke lokasi, ia disebut mulai mempertanyakan izin pelaksanaan acara nobar dan diskusi yang sedang berlangsung di lingkungan kampus.
Ketua BEM FH Unud, I Gusti Agung Roman Kertajaya, mengaku heran karena selama ini forum diskusi mahasiswa di kampusnya berjalan biasa tanpa pernah didatangi aparat militer. Karena itu, kehadiran prajurit TNI malam itu dianggap cukup janggal oleh panitia.
Roman mengatakan BEM Fakultas Hukum Udayana sebenarnya sudah cukup sering mengadakan kegiatan bertajuk “Beranda Hukum” yang membahas berbagai isu nasional. Namun baru kali ini kegiatan mereka didatangi aparat berseragam dan ditanya soal izin acara.
“Kami sedari dulu sering melakukan kegiatan bertajuk Beranda Hukum dan diskusi mengenai suatu isu, tapi baru kali ini didatangi oleh pihak TNI dan bertanya seputar perizinan,” katanya.
Menurut Roman, kegiatan tersebut sebenarnya sudah mendapat izin resmi dari pihak dekanat Fakultas Hukum Universitas Udayana. Karena itu panitia tetap melanjutkan acara sampai selesai meski suasana sempat terasa tidak nyaman.
Film dokumenter yang diputar malam itu sendiri mengangkat isu proyek strategis nasional dan dampaknya terhadap ruang hidup masyarakat adat Papua. Tema itulah yang kemudian memicu banyak diskusi setelah kejadian tersebut ramai dibicarakan publik.
Meski sempat membuat suasana memanas, pihak BEM memastikan tidak ada tindakan kekerasan ataupun keributan fisik selama acara berlangsung. Forum diskusi tetap berjalan sampai selesai walaupun sebagian peserta mengaku suasana jadi berbeda setelah kedatangan aparat.
Menurut Gusde, prajurit TNI tersebut akhirnya hanya memperhatikan jalannya acara dari area lorong dekat lokasi pemutaran film. Posisi itu cukup dekat dengan para peserta yang sedang mengikuti nobar dan diskusi.
“Prajurit TNI itu akhirnya melihat dari lorong saja. Jaraknya agak dekat dengan penonton,” ucapnya.
Kejadian itu kemudian cepat menyebar ke media sosial dan memicu perdebatan panjang soal kebebasan akademik di lingkungan kampus. Banyak pihak mempertanyakan apakah aparat militer memang perlu hadir dalam forum diskusi mahasiswa yang bersifat akademik.
Sebagian mahasiswa dari berbagai kampus ikut menyoroti insiden tersebut. Ada yang menilai kehadiran aparat bisa membuat ruang diskusi kampus terasa tidak bebas, terutama ketika topik yang dibahas menyangkut isu sosial dan politik.
Namun ada juga yang meminta masyarakat tidak buru-buru mengambil kesimpulan sebelum ada penjelasan resmi dari pihak TNI. Sebab sampai saat ini belum ada keterangan detail terkait alasan kedatangan anggota TNI tersebut ke lokasi acara.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, Donny Pramono, diketahui belum memberikan tanggapan resmi mengenai peristiwa itu. Sementara itu, pihak kampus juga masih menunggu penjelasan lebih lanjut terkait kejadian yang mendadak viral tersebut.
Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudarsana, mengaku belum mengetahui detail pelaksanaan kegiatan nobar itu. Meski begitu, ia menegaskan kampus tetap menjaga independensi dan kebebasan mimbar akademik selama tidak melanggar norma etika akademik.
“Kami tetap menindak tegas apabila kegiatan akademik itu materinya bermuatan pada esensi yang mengarah pada pelanggaran norma etika akademik,” ujarnya.
Kini, insiden di halaman Fakultas Hukum Udayana itu bukan cuma jadi cerita soal nobar film dokumenter biasa. Peristiwa tersebut berubah menjadi bahan diskusi yang lebih luas tentang ruang kebebasan akademik, posisi kampus sebagai tempat bertukar gagasan, dan bagaimana mahasiswa memandang kehadiran aparat dalam forum-forum intelektual mereka. (*)

