BACAAJA, SEMARANG- Turunan Silayur lokasinya di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan. Buat yang sering lewat, pasti paham: turunan ini curam, panjang, dan bikin deg-degan, apalagi kalau ketemu truk gede dari arah atas.
Masalahnya, kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, jalan ini memang dari awal bukan buat kendaraan bertonase berat. Jadi ketika sekarang tiap hari dilibas truk kontainer, ya tinggal nunggu waktu aja kapan apesnya datang.
Baca juga: Ngeri! Truk Ugal-ugalan Picu Kecelakaan Beruntun di Silayur, Polisi Ungkap Kondisi Korban
“Memang dari awal nggak layak buat kendaraan berat,” tegasnya. Dan benar saja, Jumat, (10/4/2026) pagi kejadian lagi. Satu truk kontainer, mobil Yaris, dan motor Vario terlibat kecelakaan. Dampaknya nggak main-main, macet sampai lima jam. Aktivitas warga ke-lock, dan rasa waswas makin numpuk tiap kali harus lewat jalur itu.
Ironinya, jalur ini juga jadi akses penting ke kawasan industri. Artinya, meskipun jelas-jelas nggak ideal, truk tetap “dipaksa” lewat karena memang nggak banyak pilihan lain. Agustina juga nggak coba cari pembenaran.
Terkendala Anggaran
Dia terang-terangan bilang ini kesalahan tata ruang yang harus dibenerin. Tapi realitanya, ada tembok besar bernama anggaran. Buat ngerombak turunan Silayur, butuh sekitar Rp 60 miliar. Dan kondisi keuangan Pemkot saat ini? Belum sanggup.
Akhirnya, solusi yang dipakai masih klasik: koordinasi. Pemkot gandeng Dinas Perhubungan, kepolisian, sampai pengusaha buat ngatur lalu lintas truk. Tapi jujur aja, ini bukan hal baru, dan hasilnya juga belum banyak berubah.
Baca juga: Jalan Prof Hamka-Ngaliyan Sudah Mulus, tapi Warga Masih Khawatir Soal Silayur
Soal larangan truk lewat? Itu bukan kewenangan Pemkot. Harus lewat kepolisian. Bahkan untuk nutup akses perusahaan pun, pemerintah kota nggak punya kuasa penuh.
Silayur itu kayak alarm yang bunyi terus, tapi semua orang milih snooze. Jalan sudah “teriak” nggak kuat, kecelakaan datang berkala, solusi muter di rapat ke rapat. Mungkin yang kurang bukan data atau koordinasi, tapi keberanian buat bilang: ini darurat, bukan sekadar rutinitas. (tebe)

