BACAAJA, JAKARTA – Kita hidup di masa di mana napas terasa otomatis, bangun tidur langsung hirup udara tanpa mikir panjang. Tapi di balik hal sesederhana itu, ilmuwan justru lagi ngebahas sesuatu yang cukup mind-blowing. Mereka mencoba menjawab satu pertanyaan besar: sampai kapan oksigen di Bumi bakal cukup buat menopang hidup?
Pertanyaan ini mungkin kedengarannya kayak plot film sci-fi, tapi risetnya beneran serius. Para peneliti nggak cuma berandai-andai, mereka pakai data ilmiah dan simulasi canggih buat cari jawabannya. Hasilnya pun mulai kasih gambaran tentang masa depan planet kita.
Salah satu riset datang dari Universitas Toho di Jepang yang ngulik soal umur biosfer Bumi. Studi ini bahkan sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Nature Geoscience. Jadi bukan sekadar teori liar, tapi sudah melewati proses ilmiah yang ketat.
Dalam penelitian itu, ilmuwan juga memanfaatkan model dari NASA buat simulasi kondisi atmosfer. Mereka menjalankan ratusan ribu skenario untuk melihat kemungkinan perubahan di masa depan. Dari situ mulai kelihatan pola bagaimana oksigen bisa berkurang drastis.
Hasilnya cukup bikin merinding, karena kehidupan di Bumi diprediksi punya batas waktu. Para peneliti memperkirakan kehidupan seperti sekarang hanya bisa bertahan sekitar satu miliar tahun lagi. Setelah itu, kondisi planet bakal berubah drastis.
Penyebab utamanya datang dari Matahari yang makin panas seiring waktu. Kenaikan suhu ini bikin keseimbangan kimia di Bumi terganggu. Dampaknya, oksigen yang jadi penopang hidup perlahan bakal menurun.
Ketika oksigen mulai menipis, kehidupan kompleks seperti manusia dan hewan bakal kesulitan bertahan. Tanaman juga bakal terdampak karena siklus karbon ikut melemah. Padahal, tanaman adalah produsen utama oksigen di Bumi.
Dalam jangka panjang, atmosfer Bumi diprediksi bakal balik ke kondisi purba. Kandungan metana bisa meningkat, sementara oksigen jadi sangat minim. Situasi ini mirip dengan Bumi sebelum terjadi perubahan besar dalam sejarah atmosfernya.
Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perkiraan sebelumnya terlalu optimistis. Dulu, ilmuwan mengira kehidupan bisa bertahan sampai dua miliar tahun lagi. Tapi data terbaru justru mempercepat timeline tersebut jadi sekitar satu miliar tahun.
Meski masih sangat lama, temuan ini tetap penting buat memahami masa depan planet. Ilmuwan juga mulai mikirin bagaimana tanda kehidupan bisa tetap terdeteksi meski oksigen rendah. Jadi, riset ini bukan cuma soal akhir, tapi juga tentang cara memahami kehidupan di semesta. (*)


