BACAAJA, SEMARANG – Lagi puasa tapi kok napas terasa kurang bersahabat? Tenang, kamu nggak sendirian. Masalah bau mulut saat Ramadhan itu klasik banget, hampir selalu muncul tiap tahun dan bikin sebagian orang jadi kurang pede buat ngobrol dekat-dekat.
Banyak yang langsung nuduh menu sahur sebagai biang keroknya. Padahal, penyebabnya nggak sesimpel itu. Bukan cuma soal makan petai atau bawang, tapi ada proses alami di tubuh yang ikut main peran.
Saat puasa, tubuh nggak dapat asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Efeknya, produksi air liur menurun drastis. Nah, di sinilah awal mula drama itu muncul.
Air liur sebenarnya punya fungsi penting banget. Selain bantu proses pencernaan, dia juga jadi “pembersih alami” di dalam mulut. Ketika jumlahnya berkurang, bakteri jadi lebih leluasa berkembang biak.
Bakteri inilah yang kemudian menghasilkan senyawa sulfur atau yang dikenal sebagai Volatile Sulfur Compounds (VSCs). Gas ini yang bikin aroma napas jadi kurang sedap, terutama saat mulut dalam kondisi kering.
Menurut drg. Paulus Januar dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), sebagian besar kasus bau mulut termasuk kategori patologis. Artinya, memang ada aktivitas bakteri yang cukup dominan di rongga mulut.
Jenis ini biasanya muncul karena bakteri anaerob yang bersarang di pangkal lidah, sela gigi, karang gigi, atau gusi yang meradang. Nggak heran kalau bau mulut sering terasa lebih kuat saat bangun tidur—situasinya mirip dengan kondisi saat puasa.
Selain faktor bakteri, ada juga bau mulut yang dipicu makanan beraroma tajam. Petai, jengkol, bawang putih, sampai rokok bisa meninggalkan jejak aroma yang cukup lama.
Bedanya, jenis ini biasanya hilang sendiri kalau sumbernya sudah nggak dikonsumsi lagi. Jadi kalau kamu habis makan bawang waktu sahur, wajar aja kalau siangnya masih terasa efeknya.
Menariknya lagi, ada kondisi yang disebut pseudohalitosis. Ini situasi ketika seseorang merasa napasnya bau, padahal secara medis nggak ditemukan aroma tak sedap sama sekali.
Kondisi ini sering berkaitan dengan kecemasan berlebih atau halitofobia. Jadi kadang yang bermasalah bukan napasnya, tapi rasa khawatirnya yang terlalu jauh.
Kalau mau benar-benar memastikan ada bau mulut atau tidak, dokter gigi biasanya melakukan pemeriksaan khusus. Bisa lewat metode organoleptik alias penilaian langsung lewat penciuman, sampai menggunakan alat seperti halimeter.
Pemeriksaan ini penting supaya jelas sumbernya di mana. Apakah memang dari bakteri di lidah, dari gigi berlubang, atau cuma perasaan saja.
Lalu gimana cara menyiasatinya selama puasa? Kuncinya sebenarnya sederhana, mulai dari sahur.
Perbanyak minum air putih saat sahur supaya tubuh nggak gampang dehidrasi. Asupan cairan yang cukup bisa bantu menstimulasi produksi air liur meski sedang berpuasa.
Kalau mulut terasa kering banget, kamu juga bisa berkumur dengan air biasa. Cara simpel ini lumayan membantu mengurangi bakteri yang menumpuk di rongga mulut.
Jangan lupa sikat gigi dengan benar, termasuk membersihkan lidah. Banyak orang cuma fokus ke gigi, padahal bakteri paling sering “nongkrong” di bagian belakang lidah.
Mengurangi makanan beraroma tajam saat sahur juga bisa jadi langkah aman. Bukan berarti nggak boleh sama sekali, tapi setidaknya tahu risikonya.
Buat yang merokok, momen Ramadhan bisa jadi kesempatan emas untuk mengurangi atau bahkan berhenti. Selain bikin napas lebih segar, dampaknya juga bagus buat kesehatan secara keseluruhan.
Kalau semua cara sudah dilakukan tapi bau mulut tetap mengganggu, ada baiknya konsultasi ke dokter gigi. Siapa tahu ada masalah gigi atau gusi yang memang perlu ditangani lebih lanjut.
Intinya, bau mulut saat puasa itu wajar dan manusiawi. Nggak perlu panik berlebihan. Dengan pola hidup yang lebih rapi sejak sahur sampai berbuka, kamu tetap bisa jalani puasa dengan percaya diri tanpa drama aroma tak diundang. (*)


