BACAAJA, BANYUMAS – Dalam yang harusnya adem justru nyaris panas di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Dugaan tawuran berkedok “perang sarung” bikin warga resah sebelum akhirnya keburu digagalkan polisi, Sabtu (21/2/2026) dini hari.
Sekitar pukul 00.15 WIB, suasana di Jalan Raya Rawalo–Purwokerto mendadak jadi sorotan. Tepatnya di depan SMK Diponegoro Rawalo, aparat mengamankan belasan remaja yang diduga hendak bentrok.
Personel gabungan dari Polsek Rawalo bersama Unit 2 Satintelkam Polresta Banyumas bergerak cepat setelah dapat laporan warga. Informasinya, ada dua kelompok remaja yang sudah janjian buat “perang sarung”.
Kapolresta Banyumas, Petrus Silalahi, menjelaskan langkah cepat itu dilakukan demi mencegah bentrokan yang bisa membahayakan pengguna jalan dan warga sekitar.
“Personel yang tengah patroli langsung bergerak menuju lokasi setelah menerima informasi dari warga. Tindakan ini merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi konflik fisik yang berisiko menimbulkan korban luka maupun gangguan keamanan,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, semua bermula dari tantangan di media sosial. Sebuah unggahan bertuliskan “P Sarung??” diduga jadi pemantik, lalu berkembang jadi ajakan duel antar kelompok.
Dua kubu yang disebut-sebut terlibat berasal dari wilayah Bonjok Wetan dan Bonjok Kulon. Tantangan itu rupanya bukan yang pertama kali.
Dua hari sebelumnya, mereka sempat bertemu di Lapangan Tambaknegara untuk perang sarung. Tapi karena kalah jumlah, salah satu kelompok kabur setelah dikejar lawan.
Alih-alih kapok, tantangan justru muncul lagi. Pertemuan lanjutan direncanakan Jumat (20/2) malam, sebelum akhirnya polisi lebih dulu datang dan membubarkan rencana tersebut.
Dalam penindakan itu, petugas mengamankan 15 remaja. Selain itu, 14 sepeda motor dan 14 telepon genggam berbagai merek ikut dibawa untuk pemeriksaan.
Warga sekitar mengaku khawatir. Menurut salah satu pelapor, perang sarung sering kali bukan sekadar permainan biasa.
“Awalnya memang seperti permainan, tapi biasanya di dalam sarung sudah diisi benda keras. Kalau dibiarkan bisa berbahaya,” ungkapnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sarung yang diisi benda keras jelas bisa berubah jadi senjata dan memicu luka serius.
Saat ini, kelima belas remaja tersebut diamankan di Mapolsek Rawalo untuk didata dan dibina. Polisi juga memanggil orang tua masing-masing agar ikut bertanggung jawab.
Mereka diminta membuat surat pernyataan supaya kejadian serupa tidak terulang. Pendekatannya lebih ke pembinaan, bukan langsung proses pidana.
Kapolresta kembali mengingatkan pentingnya peran keluarga. Apalagi ini bulan Ramadhan, waktu yang mestinya diisi kegiatan positif, bukan adu gengsi tengah malam.
“Pengawasan keluarga sangat penting untuk mencegah anak-anak terlibat dalam aktivitas negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta menjauhi perbuatan yang berpotensi melanggar hukum,” tegasnya.
Peristiwa ini jadi alarm bareng. Perang sarung yang terlihat sepele bisa berubah jadi tawuran sungguhan kalau dibiarkan.
Untungnya, kali ini bentrokan belum sempat terjadi. Tapi pesan yang tersisa jelas, jangan sampai tradisi atau permainan dijadikan kedok buat cari ribut. (*)


