Nggak semua orang tinggal dekat masjid. Ada yang di kantor kedap suara, di perjalanan, atau di daerah yang adzannya nggak terlalu terdengar.
Nah, soal ini pernah dijelaskan gamblang oleh Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya. Pengasuh LPD Al-Bahjah ini menekankan satu hal penting: berbuka itu harus berdasarkan keyakinan kuat bahwa maghrib sudah masuk.
Jadi bukan sekadar feeling. Bukan juga kira-kira, “Kayaknya sudah ya?”
Dalam salah satu pengajian yang tayang di kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjawab pertanyaan jamaah yang kesulitan dengar adzan karena minim masjid di sekitarnya. Pertanyaannya simpel: sah nggak kalau buka cuma lihat jadwal imsakiyah?
Jawabannya: sah, selama ada dasar yang bisa dipercaya. Intinya bukan pada suara adzannya, tapi pada kepastian waktunya.
Menurutnya, tanda masuk maghrib bisa diketahui dengan banyak cara. Bisa dengar adzan, dengar bedug, lihat jam yang sinkron dengan jadwal resmi, atau cek aplikasi waktu sholat yang valid.
Yang nggak boleh itu buka cuma karena langit sudah agak gelap lalu menebak-nebak sendiri. Ibadah itu butuh dasar, bukan spekulasi.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ
Summa atimmus-siyāma ilal-lail.
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menegaskan bahwa batas puasa adalah datangnya malam, yang secara syariat ditandai dengan terbenamnya matahari. Jadi yang jadi patokan adalah masuknya waktu, bukan semata-mata suara adzan.
Di zaman sekarang, teknologi justru memudahkan. Jadwal imsakiyah disusun berdasarkan hitungan astronomi yang akurat, bukan asal tebak.
Kalau jadwal itu berasal dari sumber terpercaya, maka boleh dijadikan pegangan. Bahkan notifikasi aplikasi sholat pun bisa jadi pengingat yang sah.
Tentu saja, kalau bisa dengar adzan langsung dari masjid, itu lebih utama. Selain jadi tanda waktu, adzan juga mengingatkan untuk segera sholat maghrib.
Tapi kalau situasinya nggak memungkinkan, Islam nggak bikin ribet. Nggak harus maksa cari suara adzan dulu baru boleh minum.
Buya Yahya mengingatkan, yang penting adalah adanya dugaan kuat atau keyakinan bahwa maghrib benar-benar sudah tiba. Kalau sudah yakin, jangan ditunda-tunda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
‘An Sahl bin Sa‘d, anna rasûlallâh ṣallallâhu ‘alaihi wasallam qâl: lâ yazâlun-nâsu bikhairin mâ ‘ajjalul-fithr.
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa menyegerakan berbuka itu justru dianjurkan. Jadi kalau sudah yakin waktunya masuk, nggak perlu ragu lagi.
Kadang orang justru terlalu hati-hati sampai akhirnya menunda berbuka tanpa alasan jelas. Padahal prinsipnya sederhana: yakin dulu, lalu segera berbuka.
Intinya, dengar adzan itu bagus. Tapi bukan satu-satunya cara memastikan maghrib.
Lihat jadwal imsakiyah di HP? Boleh. Pakai aplikasi waktu sholat? Sah. Selama sumbernya jelas dan akurat.
Dengan pemahaman seperti ini, ibadah jadi lebih tenang. Nggak panik, nggak waswas, dan nggak saling menyalahkan.
Karena yang dicari bukan dramanya, tapi ketepatan waktunya. Kalau maghrib sudah masuk, ya sudah, minum dulu, lalu lanjut sholat dengan hati yang lega. (*)


