BACAAJA – Banyak yang bilang, emas adalah investasi jangka panjang yang aman dan menguntungkan. Di era digital, kredo tersebut apakah masih berlaku?
Bank investasi raksasa asal Amerika Serikat, JPMorgan Chase & Co., kembali bikin geger dunia finansial. Mereka menilai bitcoin (BTC) sekarang terlihat lebih menarik dibanding emas sebagai aset penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Pendapat ini muncul di tengah kondisi pasar global yang lagi nggak pasti dan pergeseran tren investasi dari aset tradisional ke digital.
Bacaaja: Bitcoin Keok! Turun 13% dalam 5 Hari, Level Terendah Sejak April 2025
Bacaaja: Emas Pegadaian Lagi Turun, Galeri24 dan UBS Ikutan
Nggak cuma lihat tren harga, analis JPMorgan membandingkan volatilitas alias tingkat naik-turun harga antara bitcoin dan emas. Hasilnya cukup mengejutkan.
Volatilitas emas justru naik setelah reli harga besar, sementara bitcoin malah relatif menurun. Bahkan, rasio volatilitas bitcoin terhadap emas disebut berada di titik terendah sepanjang sejarah.
Artinya, aset kripto yang dulu dikenal super fluktuatif kini dianggap punya profil risiko yang makin kompetitif dibanding logam mulia.
1 keping bisa menyentuh Rp4,4 miliar
Analis JPMorgan Nikolaos Panigirtzoglou menghitung, supaya bisa menyaingi investasi swasta di emas, kapitalisasi pasar bitcoin perlu tembus sekitar 8 triliun dollar AS.
Kalau itu kejadian, harga bitcoin dipatok bisa berada di kisaran 266.000 dollar AS per koin, atau sekitar Rp4,47 miliar (kurs Rp16.850).
Eits, tapi ini bukan ramalan harga dalam waktu dekat ya. Angka tersebut lebih ke gambaran potensi jangka panjang, seiring pasar kripto makin matang dan adopsi investor institusional makin luas.
Meski prospeknya terdengar wah, pergerakan bitcoin saat ini masih penuh tekanan. Kondisi ini dipengaruhi pelemahan pasar saham AS hingga arus keluar dana dari ETF bitcoin.
Bahkan, dalam beberapa periode bitcoin diperdagangkan di bawah biaya produksinya yang diperkirakan sekitar 87.000 dollar AS. Level ini biasanya dianggap sebagai “batas bawah psikologis” bagi penambang dan trader.
Kalau harga terus di bawah biaya produksi, ada kemungkinan sebagian penambang memilih jual asetnya ketimbang hold, meski keputusan akhirnya tetap bergantung pada ekspektasi jangka panjang mereka.
Intinya, bitcoin mungkin lagi goyang sekarang, tapi menurut JPMorgan, potensi masa depannya masih bikin banyak investor melirik. (*)


