Lulu Aprilia, mahasiswi jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang. Asal Banyumas.
Konsekuensi dari perbedaan pilihan ormas dari orang tuanya itu tidak main-main. Anak itu sering bingung dengan tradisi keagamaan yang akan ia ikuti.
“Mba, jenengan ini NU atau Muhammadiyah?”
“Wah, saya ini apa, ya? Saya bukan NU atau Muhammadiyah. Saya Islam saja, Pak. Hehe.”
Seorang anak perempuan duduk di tepi masjid. Ia mengenakan seragam hijau dan tangannya memegang jajanan. Ia sontak kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan seorang bapak pengurus masjid yang menghampirinya itu. Sudah lama bapak itu mengamati anak perempuan itu.
Bukan tanpa alsan pertanyaan itu serta merta terucap. Sebelumnya, anak itu sudah menjadi buah bibir tetangga sekitar karena terlahir dari pasangan orang tua dengan pilihan ormas keagamaan yang berbeda. Bapaknya memilih Nahdatul Ulama (NU), sementara ibunya lebih memilih Muhammadiyah.
Konsekuensi dari perbedaan pilihan ormas dari orang tuanya itu tidak main-main. Anak itu sering bingung dengan tradisi keagamaan yang akan ia ikuti. Itu semua lantaran di rumahnya sering terjadi perdebatan kecil antara ayah dan ibunya. Sang ayah memintanya menghafal doa qunut di saat menunaikan salat Subuh. Juga membaca Surah Yassin ketika malam Jumat. Niat ayah tentu baik. Sang ayah ingin anaknya ikut menunaikan rutinitas positif yang dilakukannya. Tentunya berdasarkan tradisi di NU.
Sementara itu, ibunya adalah penganut Muhammadiyah. Meskipun sikap ibu berseberangan dengan ayah. Ibu tidak pernah memaksakan ajaran yang akan diikuti anaknya. Namun, tetap saja perdebatan tentang itu tidak terelakkan. Penyebabnya tentu saja karena tradisi keagamaan antara kedua ormas tersebut memang tidak sejalan. Bahkan tidak hanya di rumah anak itu. Di lingkungan masyarakat pun sama saja. Masyarakat di lingkungan anak perempuan itu tinggal punya satu pandangan umum: orang harus jelas ikut mana. NU atau Muhammadiyah.
Perbedaan pilihan ormas akan sangat berdampak pada beberapa hal, terutama di desa anak perempuan itu. Masjid bercat hijau sering diidentikkan dengan masjid dari kalangan NU. Ciri-cirinya biasanya pengeras suara di sana cenderung lebih sering digunakan, dibandingkan masjid yang lain. Lantunan puji-pujian dan ayat suci sering terdengar di antara jeda azan dan ikamah. Uniknya masjid itu terlihat mencolok justru karena berada di lingkungan penganut Muhammadiyah. Sepengamatan anak perempuan itu, ada beberapa warga yang tidak mau singgah ke masjid itu lantaran beda ormas.
Di sisi lain, masjid para jamaah Muhammadiyah terkesan lebih megah. Itu misalnya terlihat dari bangunannya yang berlantai dua. Dari model berpakaiannya juga berbeda. Imam di masjid ini sering kali mengenakan jubah sebagai pakaian yang dianggap baik untuk salat. Tidak ada lantunan apa pun di antara azan dan ikamah. Bacaan surahnya pun lebih panjang, dan jumlah masjidnya pun lebih banyak karena di sana Muhammadiyah adalah mayoritas.
Beberapa tahun berlalu sejak momen si anak perempuan itu ditegur pengurus masjid, ia kini beranjak dewasa. Takdir membawanya menempuh pendidikan di kampus yang cenderung dekat dengan ajaran NU yang kental. Ia kini berstatus mahasiswi. Ia pun semakin kebingungan. Apalagi semenjak ia diwajibkan oleh aturan kampus untuk tinggal mondok di pesantren. Ditambah lagi, teman-teman sepantarannya rata-rata adalah lulusan pesantren NU.
“Kamu lupa pake qunut?”
Perkataan itu spontan terlontar dari teman sekamar yang melihat mahasiswi itu salat Subuh tanpa melafalkan doa qunut. Setalah ia menjelaskan ke teman-temannya, bahwa ia memilih tidak membaca qunut, teman-temannya justru langsung menganggap mahasiswa itu penganut Muhammadiyyah. Padahal, dari lubuk hati yang terdalam, mahasisiwi itu merasa bukanlah penganut kedua ormas itu. Orang awam bilang, Islam pemerintah. Islam sewajarnya.
Setelah sekian lama akhirnya ia sadar bahwa dua aliran ormas besar itu tidak serta merta baik, tetapi juga tidak buruk. Keduanya memiliki alasan terkait amalan yang mereka anut. Perlu beberapa waktu bagi mahasiswi itu untuk mempelajari keduanya, dan berdamai dengan perbedaan amalan yang begitu berseberangan di antara keduanya.
Masing-masing ormas itu punya landasan dan kitab yang bisa dipertanggunjawabkan. Semua aliran benar jika dilakukan sesuai dari apa yang sudah tertulis di kitab yang mereka anggap sebagai pedoman. Si anak yang kini tumbuh dewasa sebagai mahasiswi itu tidak kebingungan lagi. Dan ia tetap pada pendiriannya: tidak memilih keduanya. Keyakinannya sama. Islam ya Islam saja. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


