Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Redaktur Opini
Last updated: Februari 3, 2026 10:36 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Lulu Aprilia, mahasiswi jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang. Asal Banyumas.

Konsekuensi dari perbedaan pilihan ormas dari orang tuanya itu tidak main-main. Anak itu sering bingung dengan tradisi keagamaan yang akan ia ikuti.

 

“Mba, jenengan ini NU atau Muhammadiyah?”

“Wah, saya ini apa, ya? Saya bukan NU atau Muhammadiyah. Saya Islam saja, Pak. Hehe.”

Seorang anak perempuan duduk di tepi masjid. Ia mengenakan seragam hijau dan tangannya  memegang jajanan. Ia sontak kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan seorang bapak pengurus masjid yang menghampirinya itu. Sudah lama bapak itu mengamati anak perempuan itu.

Bukan tanpa alsan pertanyaan itu serta merta terucap. Sebelumnya, anak itu sudah menjadi buah bibir tetangga sekitar karena terlahir dari pasangan orang tua dengan pilihan ormas keagamaan yang berbeda. Bapaknya memilih Nahdatul Ulama (NU), sementara ibunya lebih memilih Muhammadiyah.

Konsekuensi dari perbedaan pilihan ormas dari orang tuanya itu tidak main-main. Anak itu sering bingung dengan tradisi keagamaan yang akan ia ikuti. Itu semua lantaran di rumahnya sering terjadi perdebatan kecil antara ayah dan ibunya. Sang ayah memintanya menghafal doa qunut di saat menunaikan salat Subuh. Juga membaca Surah Yassin ketika malam Jumat. Niat ayah tentu baik. Sang ayah ingin anaknya ikut menunaikan rutinitas positif yang dilakukannya. Tentunya berdasarkan tradisi di NU.

Sementara itu, ibunya adalah penganut Muhammadiyah. Meskipun sikap ibu berseberangan dengan ayah. Ibu tidak pernah memaksakan ajaran yang akan diikuti anaknya. Namun, tetap saja perdebatan tentang itu tidak terelakkan. Penyebabnya tentu saja karena tradisi keagamaan antara kedua ormas tersebut memang tidak sejalan. Bahkan tidak hanya di rumah anak itu. Di lingkungan masyarakat pun sama saja. Masyarakat di lingkungan anak perempuan itu tinggal punya satu pandangan umum: orang harus jelas ikut mana. NU atau Muhammadiyah.

Perbedaan pilihan ormas akan sangat berdampak pada beberapa hal, terutama di desa anak perempuan itu. Masjid bercat hijau sering diidentikkan dengan masjid dari kalangan NU. Ciri-cirinya biasanya pengeras suara di sana cenderung lebih sering digunakan, dibandingkan masjid yang lain. Lantunan puji-pujian dan ayat suci sering terdengar di antara jeda azan dan ikamah. Uniknya masjid itu terlihat mencolok justru karena berada di lingkungan penganut Muhammadiyah. Sepengamatan anak perempuan itu, ada beberapa warga yang tidak mau singgah ke masjid itu lantaran beda ormas.

Di sisi lain, masjid para jamaah Muhammadiyah terkesan lebih megah. Itu misalnya terlihat dari bangunannya yang berlantai dua. Dari model berpakaiannya juga berbeda. Imam di masjid ini sering kali mengenakan jubah sebagai pakaian yang dianggap baik untuk salat. Tidak ada lantunan apa pun di antara azan dan ikamah. Bacaan surahnya pun lebih panjang, dan jumlah masjidnya pun lebih banyak karena di sana Muhammadiyah adalah mayoritas.

Beberapa tahun berlalu sejak momen si anak perempuan itu ditegur pengurus masjid, ia kini beranjak dewasa. Takdir membawanya menempuh pendidikan di kampus yang cenderung dekat dengan ajaran NU yang kental. Ia kini berstatus mahasiswi. Ia pun semakin kebingungan. Apalagi semenjak ia diwajibkan oleh aturan kampus untuk tinggal mondok di pesantren. Ditambah lagi, teman-teman sepantarannya rata-rata adalah lulusan pesantren NU.

“Kamu lupa pake qunut?”

Perkataan itu spontan terlontar dari teman sekamar yang melihat mahasiswi itu salat Subuh tanpa melafalkan doa qunut. Setalah ia menjelaskan ke teman-temannya, bahwa ia memilih tidak membaca qunut, teman-temannya justru langsung menganggap mahasiswa itu penganut Muhammadiyyah. Padahal, dari lubuk hati yang terdalam, mahasisiwi itu merasa bukanlah penganut kedua ormas itu. Orang awam bilang, Islam pemerintah. Islam sewajarnya.

Setelah sekian lama akhirnya ia sadar bahwa dua aliran ormas besar itu tidak serta merta baik, tetapi juga tidak buruk. Keduanya memiliki alasan terkait amalan yang mereka anut. Perlu beberapa waktu bagi mahasiswi itu untuk mempelajari keduanya, dan berdamai dengan perbedaan amalan yang begitu berseberangan di antara keduanya.

Masing-masing ormas itu punya landasan dan kitab yang bisa dipertanggunjawabkan. Semua aliran benar jika dilakukan sesuai dari apa yang sudah tertulis di kitab yang mereka anggap sebagai pedoman. Si anak yang kini tumbuh dewasa sebagai mahasiswi itu tidak kebingungan lagi. Dan ia tetap pada pendiriannya: tidak memilih keduanya. Keyakinannya sama. Islam ya Islam saja. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

Surat Terbuka untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Tubuh Mahasiswa Bukan Wilayah Otoritas Akademik

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Aksi dr Erli Meichory Viorika di pesawat Citilink viral usai selamatkan balita kejang. (AI) Viral! Detik-detik Dokter Selamatkan Nyawa Balita di Pesawat, IDAI Sampaikan Ini
Next Article Presiden Prabowo Subianto meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dan Bali International Hospital (BIH) di Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Rabu, 25 Juni 2025. (BPMI Setpres) Atap Seng Gak Indah, Prabowo Gulirkan ‘Gentengisasi’ di Penjuru Indonesia, Duit Siapa?

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketua Pengarah Pelaksana Soekarno Run SOC 2026, Aria Bima, memaparkan prediksi perputaran uang dari event yang ia helat, Minggu (28/6/2026). (bae)

Soekarno Run Dongkrak Ekonomi Solo, Perputaran Uang Ditaksir Tembus Rp5 Miliar

DAPAT MOBIL--Pelari asal Boyolali, Fikri (berkacamata hitam) menerima hadiah mobil listrik secara simbolis di panggung Soekarno Run SOC 2026. (rng)

Doa Orang Tua Antar Fikri Pelari Boyolali Boyong Mobil Listrik di Soekarno Run 2026

PEMER MEDALI--Nava (dua dari kiri) dan koleganya pamer medali usia mengikuti Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Kesaksian Wabup Purworejo hingga Pelari Pemula: Soekarno Run 2026 Bikin Ketagihan

OMZET MENINGKAT--Kedai Bunzen Coffee di kawasan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta dipenuhi konsumen yang habis ikut Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Berkah Soekarno Run 2026: UMKM Solo Ketiban Rezeki, Dagangan Laris Sejak Subuh

PAPARAN - Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Andhika Satya Wasistho menyampaikan pemaparan terkait tanggung jawab industri saat Kunjungan Kerja Panitia Khusus DPR RI dalam rangka pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Desain Industri ke Provinsi Jawa Tengah.

Usul Progresif Legislator Muda Andhika Satya: Industri Abaikan Warga dan UMKM Kena Sanksi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Desember 4, 2025
Opini

Tidak Ada Alasan Bermusuhan, Semua Manusia Bersaudara Atas Nama Kemanusiaan

Juni 25, 2026
Opini

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Januari 6, 2026
Opini

Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan

Januari 30, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?