BACAAJA, SEMARANG- Universitas Diponegoro (Undip) lewat pendanaan Equity Undip menggelar program psikoedukasi diabetes yang fokus ke satu hal yang sering luput: emosi pasien. Program ini jadi ajang kolaborasi lintas negara antara akademisi Undip, King’s College London, dan layanan kesehatan primer di Kota Semarang yakni Puskesmas Rowosari.
Program ini dipimpin oleh Ryka Widyaningtyas, S.Kep, MSc, bersama tim lintas disiplin diantaranya Lut Fika Daru Azmi, SKep, MKep, Kholidil Amin, MI.Kom, Prof Dr Meidiana Dwidiyanti, SKp, MSc, serta Sri Padma Sari, SKep, MNS, PhD.
Mereka berlatar belakang disiplin ilmu keperawatan, komunikasi kesehatan, hingga praktik klinis. Intinya satu: diabetes nggak bisa ditangani sendirian, apalagi cuma dari satu sudut pandang.
Baca juga: Bunda PAUD Jateng Gandeng Psikologi Undip Masuk Posyandu
Kepala Puskesmas Rowosari, Nugraheni Panca Indriawati menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, pendekatan psikososial kayak gini memang dibutuhkan pasien diabetes di level puskesmas. Harapannya, kolaborasi kampus dan tenaga kesehatan nggak berhenti di acara seremonial, tapi terus berlanjut dan terasa dampaknya di masyarakat.
Mengelola Emosi
Di sesi pelatihan, peserta diajak kenalan lebih dekat dengan cara mengelola emosi dan stres. Bukan teori ribet, tapi strategi yang bisa dipraktikkan sehari-hari. Soalnya, saat emosi lebih stabil, pasien cenderung lebih patuh menjalani perawatan diri, dan itu ikut membantu pengendalian gula darah.
Nuansa internasional makin terasa saat akademisi dari King’s College London, Dr. Mary Leamy dan Dr. Maria Duaso, berbagi pengalaman praktik self-care di Inggris. Mereka menekankan pentingnya peran aktif pasien, termasuk lewat aktivitas fisik ringan yang rutin. Jalan santai, gerak kecil, tapi konsisten, efeknya bukan cuma ke badan, tapi juga ke kepala.
Baca juga: Ribuan Mahasiswa Undip Turun ke Desa
Program ini juga bukan agenda sekali datang lalu bubar. Dalam beberapa bulan ke depan, rangkaian psikoedukasi akan terus digelar. Targetnya jelas: bikin penyandang diabetes makin mandiri, adaptif, dan tetap punya kualitas hidup yang oke meski hidup bareng kondisi kronis.
Jadi sekarang jelas, ngurus diabetes itu bukan cuma soal diet dan obat. Kadang, yang paling butuh dikontrol justru bukan gula darah, tapi isi kepala yang kebanyakan mikir. (tebe)


