Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.
Anak yang terus menerus menerima sebuah ejekan akan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri, tertutup, enggan menyuarakan pendapat.
Dalam kehidupan sehari-hari, ucapan yang kita anggap hanyalah candaan ternyata sebuah ejekan yang bisa menurunkan mental seseorang, terutama anak-anak. Di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan masyarakat sekitar, candaan seperti “pendek”, “hitam”, “cengeng”, atau gitu aja ngga bisa”, kerap terlontar tanpa kita sadari.
Fenomena itu sudah lama dianggap wajar dalam kehidupan sosial, seakan-akan ejekan adalah bentuk keakraban. Sayangnya, sedikit orang yang menyadari bahwa ucapan yang dilontarkan kepada anak-anak justru bisa melukai mental anak.
Di tengah kebiasaan masyarakat yang senang akan bercanda dengan cara merendahkan, anak-anak menjadi korban paling rentan. Mereka belum mampu membedakan mana candaan dan mana sebuah penghinaan. Saat ejekan datang dari orang-orang terdekat maupun lingkungan sekitar, di saat itu juga anak merasa bahwa dirinya adalah sosok yang selalu salah sehingga layak direndahkan.
Fenomena ini juga terjadi di media sosial. Banyak orang dewasa dengan mudah merekam dan menyebarkan momen anak diejek atau dipermalukan, dan hal itu mereka sebut sebagai hiburan. Anak yang dijadikan bahan candaan publik bukan hanya kehilangan rasa percaya diri, tetapi juga harga dirinya. Menjadikan anak sebagai objek candaan memperlihatkan betapa mudahnya kesehatan mental anak diabaikan.
Sayangnya, ejekan yang paling membekas terkadang datang dari lingkungan keluarga. Dalam keluarga, orang tua tanpa sadar melontarkan candaan yang tujuan awalnya sebagai bentuk kedekatan, tetapi ternyata justru merendahkan anaknya. Orang tua adalah sosok pertama yang membentuk cara anak menilai dirinya. Akan tetapi ejekan justru muncul dari keluarga, tempat yang seharusnya memberi perlindungan bagi anak. Keluarga berubah menjadi sumber luka bagi anak.
Secara sosial, anak yang terus menerus menerima sebuah ejekan akan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri, tertutup, enggan menyuarakan pendapat. Hal ini tidak hanya berdampak pada pribadi masing-masing, tetapi juga pada masyarakat. Anak-anak yang kehilangan kepercayaan diri akan kesulitan berpartisipasi aktif, tidak berani berpendapat, dan sulit mengembangkan potensinya di lingkungan masyarakat. Sehingga fenomena ini membentuk generasi yang kurang berani, cenderung pasif, dan kerap meragukan dirinya sendiri.
Masyarakat sering berasumsi bahwa anak zaman sekarang terlalu sensitif. Padahal masalah utamanya bukan terhadap sensitivitas anak, tetapi pada lingkungan sosial yang kurang berempati. Normalisasi ejekan menjadi tanda bahwa masyarakat kurang peka dalam menjaga cara berkomunikasi dengan anak-anak yang mentalnya masih rentan.
Sudah saatnya kebiasaan ini disadari dan diperbaiki secara bersama, karena candaan seharusnya menjadi sarana kehangatan, bukan sesuatu yang melukai perasaan seseorang terutama seorang anak. Setiap ucapan orang dewasa, baik di lingkungan keluarga maupun sosial, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan mental anak. Oleh sebab itu, menjaga cara berbicara bukan sekadar soal sopan santun. Itu adalah tanggung jawab moral bersama agar anak dapat tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan sehat secara emosional.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


