Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Redaktur Opini
Last updated: Januari 12, 2026 7:40 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS. 

Anak yang terus menerus menerima sebuah ejekan akan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri, tertutup, enggan menyuarakan pendapat.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, ucapan yang kita anggap hanyalah candaan ternyata sebuah ejekan yang bisa menurunkan mental seseorang, terutama anak-anak. Di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan masyarakat sekitar, candaan seperti “pendek”, “hitam”, “cengeng”, atau gitu aja ngga bisa”, kerap terlontar tanpa kita sadari.

Fenomena itu sudah lama dianggap wajar dalam kehidupan sosial, seakan-akan ejekan adalah bentuk keakraban. Sayangnya, sedikit orang yang menyadari bahwa ucapan yang dilontarkan kepada anak-anak justru bisa melukai mental anak.

Di tengah kebiasaan masyarakat yang senang akan bercanda dengan cara merendahkan, anak-anak menjadi korban paling rentan. Mereka belum mampu membedakan mana candaan dan mana sebuah penghinaan. Saat ejekan datang dari orang-orang terdekat maupun lingkungan sekitar, di saat itu juga anak merasa bahwa dirinya adalah sosok yang selalu salah sehingga layak direndahkan.

Fenomena ini juga terjadi di media sosial. Banyak orang dewasa dengan mudah merekam dan menyebarkan momen anak diejek atau dipermalukan, dan hal itu mereka sebut sebagai hiburan. Anak yang dijadikan bahan candaan publik bukan hanya kehilangan rasa percaya diri, tetapi juga harga dirinya. Menjadikan anak sebagai objek candaan memperlihatkan betapa mudahnya kesehatan mental anak diabaikan.

Sayangnya, ejekan yang paling membekas terkadang datang dari lingkungan keluarga. Dalam keluarga, orang tua tanpa sadar melontarkan candaan yang tujuan awalnya sebagai bentuk kedekatan, tetapi ternyata justru merendahkan anaknya. Orang tua adalah sosok pertama yang membentuk cara anak menilai dirinya. Akan tetapi ejekan justru muncul dari keluarga, tempat yang seharusnya memberi perlindungan bagi anak. Keluarga berubah menjadi sumber luka bagi anak.

Secara sosial, anak yang terus menerus menerima sebuah ejekan akan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri, tertutup, enggan menyuarakan pendapat. Hal ini tidak hanya berdampak pada pribadi masing-masing, tetapi juga pada masyarakat. Anak-anak yang kehilangan kepercayaan diri akan kesulitan berpartisipasi aktif, tidak berani berpendapat, dan sulit mengembangkan potensinya di lingkungan masyarakat. Sehingga fenomena ini membentuk generasi yang kurang berani, cenderung pasif, dan kerap meragukan dirinya sendiri.

Masyarakat sering berasumsi bahwa anak zaman sekarang terlalu sensitif. Padahal masalah utamanya bukan terhadap sensitivitas anak, tetapi pada lingkungan sosial yang kurang berempati. Normalisasi ejekan menjadi tanda bahwa masyarakat kurang peka dalam menjaga cara berkomunikasi dengan anak-anak yang mentalnya masih rentan.

Sudah saatnya kebiasaan ini disadari dan diperbaiki secara bersama, karena candaan seharusnya menjadi sarana kehangatan, bukan sesuatu yang melukai perasaan seseorang terutama seorang anak. Setiap ucapan orang dewasa, baik di lingkungan keluarga maupun sosial, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan mental anak. Oleh sebab itu, menjaga cara berbicara bukan sekadar soal sopan santun. Itu adalah tanggung jawab moral bersama agar anak dapat tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan sehat secara emosional.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

 

You Might Also Like

Andil Orang Dewasa Ketika Ada Seorang Anak Menyakiti Temannya

Menimbang Keadilan Upah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Merayakan Kebebasan dengan Kata-Kata

Debat Publik dan Devaluasi Kepakaran

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Barcelona menang 3-2 atas Real Madrid di final Piala Super Spanyol 2026, Senin (12/1/2026) dini hari WIB, yang digelar di Jeddah, Arab Saudi. Rekor! Barcelona Jadi Raja Final El Clasico: Real Madrid Kena Hattrick Kekalahan Beruntun
Next Article Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Panitia PSMTI Funwalk & Run Jaring Peserta ke Sejumlah Kota

ANTISIPASI VIRUS--Selebaran berisi edukasi pencegahan Hantavirus yang dibuat Polda Jateng. (ist)

Hantavirus Lagi Rame, Semarang Masih Aman tapi . . . .

Kalapas Purwodadi Ajak WBP Hidup Sehat

Souvenir Wanginya Kebangetan, Nikahan Anak Soimah Malah Makin Ramai Dibahas

Jakarta Mulai Waspada, Hantavirus Diam-Diam Bikin Geger Warga

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Maret 28, 2026
Opini

Cara Terbaik Seorang Istri Memahami Suami yang Hobi Memancing

Januari 14, 2026
Opini

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Desember 5, 2025
Opini

Menengok Metode Suzuki, Upaya Menjaga Jarak dari Apropriasi Budaya

Februari 4, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?