Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).
Masyarakat Jawa kini tidak lagi sehierarkis seperti pada masa lalu. Ada ruang kesetaraan yang mulai dinegosiasikan melalui bahasa.
Pernahkah Anda mendengar lagu-lagu Campursari atau Pop Jawa yang belakangan digemari generasi muda? Setelah Didi Kempot tiada, muncul banyak talenta baru yang menghidupkan kembali warna musik Jawa dengan cara yang lebih segar. Popularitas Pop Jawa hari ini tidak lepas dari ekosistem digital.
Media sosial menjadi ruang baru bagi musik Jawa untuk berkembang dan diterima generasi muda (Hidayah dan Retpitasari, 2023). Melalui TikTok dan YouTube, lagu-lagu Jawa mengalami perluasan makna dan menjelma bagian dari budaya populer.
Nama-nama seperti Denny Cak Nan, Happy Asmara, hingga Ndarboy Genk, berhasil menghadirkan lirik-lirik yang dekat dengan keseharian tetapi tetap kaya metafora. Saya sering tersenyum-senyum sendiri mendengarkan kecanggihan mereka meramu majas—metafora, personifikasi, hingga hiperbola—dalam balutan musik yang sederhana tetapi hangat.
Salah satu lirik lagu yang menarik untuk dibaca adalah “Koyo Yogya Istimewa” gubahan Ndarboy Genk. Ada tiga bentuk perbandingan utama dalam lirik lagu ini, semua diarahkan kepada sosok perempuan yang dipanggil dengan kata “kowe.” Pilihan diksi ini sangat menarik.
Dalam tradisi Jawa, kedekatan hubungan sering ditandai dengan penggunaan bahasa ngoko. Lagu-lagu Jawa generasi sebelumnya kerap menggunakan sebutan yang lebih halus seperti sliramu, panjenengan, atau sampeyan.
Sistem ragam tutur Jawa adalah mekanisme semiotik yang menandai hubungan sosial, maka pilihan kata seperti ‘kowe’ dapat dibaca sebagai indikasi pergeseran relasi (Errington, 1988). Peralihan ke ‘kowe’ memberikan kesan kedekatan yang egaliter, seolah menunjukkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan di masyarakat Jawa kini tidak lagi sehierarkis seperti pada masa lalu. Ada ruang kesetaraan yang mulai dinegosiasikan melalui bahasa.
Isi lagu itu pada dasarnya adalah ungkapan kecintaan seorang laki-laki kepada pasangannya. Kesenangan dan kenyamanan berada bersama ‘kowe’ digambarkan melalui metafora keseharian: Mangan tempe rasane koyo mangan lawuh sate … Ngombe kembang tahu rasane koyo ngombe susu.
Hidup mungkin sederhana, tetapi kehadiran pasangan membuat segala sesuatu tampak lebih istimewa. Metafora ini dekat, membumi, dan justru karena sangat dekat itulah ia menjadi kuat: kebahagiaan bukan berasal dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan.
Puncak metafora lagu itu terdapat pada bait “Ibarat kotaku Yogya, kowe cen istimewa.” Sosok perempuan digambarkan sebagai sebuah kota—ruang luas yang berisi manusia, lanskap, dan alam. Yogya dikenal dengan keramahannya, tradisinya, suasananya yang bersahabat. Namun, Yogya juga memiliki sisi lain.
Laut Selatan dengan ombak besar yang ganas, serta Gunung Merapi dengan letusan yang berbahaya. Dua sisi ini—ramah sekaligus berbahaya—dijadikan gambaran kompleksitas seorang perempuan. Ia bisa hangat dan meneduhkan, sekaligus memiliki kedalaman emosi yang perlu dihormati. “Kowe” istimewa karena ia lengkap, karena ia seperti Yogya: memikat sekaligus menuntut kehati-hatian.
Lagu ini juga memunculkan metafora budaya lain: “janur melengkung.” Dalam tradisi Jawa, janur kuning yang melengkung di depan rumah menandai prosesi pernikahan. Dalam buku Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa karya Purnomo (2013: 63), janur dipahami dari akar kata jan (jannah, surga), nur (cahaya), dan ning (wening, suci).
Janur menjadi simbol doa: agar rumah tangga kelak damai seperti surga, bercahaya, dan suci; agar pasangan langgeng hingga akhir hayat. Metafora ini mengikat lirik lagu pada akar budaya Jawa, menunjukkan bahwa modernitas tidak serta-merta menghapus jejak tradisi.
Metafora-matofora dalam lagu “Koyo Yogya Istimewa” menunjukkan kecerdasan budaya para penciptanya. Mereka mampu mengambil lanskap, makanan, dan simbol-simbol ritual lalu mengubahnya menjadi ungkapan cinta yang segar. Inilah kekuatan Pop Jawa/Campursari hari ini: memadukan keseharian dengan kedalaman budaya dalam bentuk yang mudah diingat dan dinyanyikan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


