BACAAJA, ACEH – Presiden Prabowo Subianto bilang kondisi di Sumatera membaik. Faktanya di lapangan, banyak yang bisa bikin kita menangis.
Di Aceh, data sementara menyebut puluhan ribu anak terdampak, bahkan hampir 100 ribu anak kehilangan tempat tinggal di 18 kabupaten/kota.
Itu baru di Aceh. Ya ya hanya di Aceh, belum dua provinsi lain: Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut).
Bacaaja: Prabowo Ancam Copot Pejabat yang Tak Becus Kerja! Wah Banyak itu Pak!
Bacaaja: Prabowo Pengin Papua Jadi Kebun Sawit, Gak Belajar dari Bencana Sumatera?
Koordinator Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, menyebut kondisi di lapangan jauh dari kata layak.
Banyak bayi dan balita terpaksa bertahan hidup dengan mi instan, karena makanan bergizi dan susu formula nyaris tak tersedia.
“Hampir 100 ribuan anak kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang. Lebih menyedihkan lagi, bayi dan anak-anak cuma dikasih mi instan buat bertahan hidup. Ini nggak seharusnya terjadi,” ujar Nasruddin, Selasa (16/12/2025).
Tim Yayasan Geutanyoe yang turun langsung ke lokasi menyaksikan sendiri kondisi memilukan itu. Bayi-bayi menangis karena susu formula kosong, sementara orang tua kebingungan mencari alternatif.
“Kami lihat sendiri anak-anak cuma bisa menangis. Susu nggak ada, makanan bergizi nggak tersedia. Mi instan jadi pilihan terakhir,” katanya.
Darurat gizi
Yayasan Geutanyoe mendesak agar bantuan untuk bayi dan balita jadi prioritas utama. Mulai dari susu formula, makanan pendamping ASI, hingga perlengkapan bayi seperti popok dan selimut.
“Anak-anak butuh nutrisi cukup buat tumbuh. Mi instan jelas nggak cukup,” tegas Nasruddin.
Selain masalah pangan, bencana ini juga bikin anak-anak kehilangan akses sekolah, layanan kesehatan, dan rasa aman. Kondisi ini berisiko menimbulkan dampak jangka panjang, bukan cuma fisik tapi juga mental.
Tak hanya makanan, anak-anak korban bencana juga butuh dukungan psikologis. Trauma akibat banjir dan kehilangan rumah membuat banyak anak mengalami tekanan emosional.
Di tengah banjir dan longsor, satu hal yang nggak boleh ikut hanyut: masa depan anak-anak Aceh.
Bikin wartawan yang liputan menangis
Suasana siaran langsung CNN Indonesia dari Aceh mendadak berubah sendu. Di tengah laporan banjir dan longsor yang sudah lebih dari sepekan melanda, reporter Irine Wardani tak sanggup lagi menahan emosi. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, dan tangis pun pecah di layar, Rabu (17/12/2025).
Irine mengungkapkan kelelahan batin setelah lebih dari seminggu berada di Aceh bersama juru kamera Urip Handoyo. Yang paling bikin nyesek: kondisi warga nyaris tidak berubah.
“Lebih dari seminggu saya dan rekan saya berada di Aceh, tidak ada perubahan,” kata Irine dengan suara tertahan.
Irine menyebut, salah satu alasan Pemerintah Aceh menyurati UNDP dan UNICEF untuk meminta bantuan internasional adalah karena situasi kemanusiaan yang belum tertangani maksimal.
“Masih banyak anak-anak di sana yang tidak makan,” ucap Irine sambil menunjuk area pengungsian saat siaran berlangsung.
“Kami dititipkan pesan sebagai jurnalis agar memberitakan yang sebenarnya soal Aceh. Ini berat buat kami,” katanya.
Tangis seorang jurnalis di lokasi bencana jadi pengingat keras: di balik data, grafik, dan konferensi pers—
ada anak-anak yang lapar, ada warga yang putus asa, dan ada jeritan yang belum sepenuhnya didengar.
Dan hari itu, jeritan itu terdengar jelas—lewat suara yang bergetar di layar kaca.
Di sisi pemerintah, Presiden Prabowo Subianto terus-terusan bilang: kondisi Aceh, Sumbar, dan Sumut telah membaik. Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya, Pak Presiden! (*)


