BACAAJA, SEMARANG – Tradisi salaman sambil mencium tangan kiai sudah jadi pemandangan biasa di pesantren dan majelis taklim. Biasanya, itu dianggap wujud hormat dari santri kepada guru. Tapi, sebagai kieia besar KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha justru punya pandangan unik yang bikin banyak orang kaget sekaligus kagum.
Dalam sebuah ceramah yang dikutip dari di kanal YouTube Santri Gayeng, Gus Baha mengaku tidak terlalu suka kalau setiap kali salaman tangannya dicium. Bukan karena merasa risih, tapi karena khawatir muncul penyakit hati, baik dari yang mencium maupun dari dirinya sendiri.
“Yang mencium rawan hina, yang dicium rawan ujub,” begitu kata Gus Baha lugas. Ia menekankan, sunnah Rasulullah memang membolehkan salaman dengan mencium tangan, tapi niatnya harus lurus. Kalau sampai bikin orang merasa lebih mulia atau lebih rendah, itu justru berbahaya.
Murid kinasih Mbah Maimoen Zubair ini bahkan menyinggung teladan Uwais Al-Qarni, tokoh besar dalam sejarah Islam yang terkenal rendah hati. Uwais disebut pernah menolak salaman agar terhindar dari rasa bangga yang bisa merusak keikhlasan. Dari situlah Gus Baha belajar, bahwa kadang menolak cium tangan justru lebih selamat bagi hati.
Menurutnya, adab kepada ulama tidak melulu soal simbol fisik seperti salaman dan mencium tangan. Menghormati guru juga bisa lewat hal sederhana: mendoakan, menyimak ilmunya, dan mengamalkan ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Gus Baha tidak serta-merta melarang orang bersalaman dengannya. Ia memilih jalan tengah: salaman boleh, tapi tidak selalu disertai dengan cium tangan. Sikap itu ia sebut sebagai “madzhab pribadi” yang lahir dari pertimbangan panjang demi menjaga kejernihan hati.
Pesan dari Gus Baha ini sederhana tapi dalam: hormat itu penting, tapi jangan sampai cara kita menunjukkan hormat justru menjerumuskan pada kesombongan atau merendahkan diri sendiri. Bagi Gus Baha, menjaga hati tetap bersih jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan tradisi yang bisa bikin lalai. (*)


