BACAAJA, SEMARANG- Wakil Ketua Komite I DPD RI, Muhdi blak-blakan soal keprihatinannya terhadap pelaksanaan MBG. Ia mengaku ikut memantau media sosial dan bahkan mengecek langsung ke sekolah.
Hasilnya? Menurutnya, menu yang dibagikan di beberapa tempat jauh dari ekspektasi makanan bergizi. Ada roti “kelas standar bawah”, buah kadang cuma pisang, kacang sesekali, dan telur satu butir yang nggak selalu hadir.
Baca juga: Sajikan Menu MBG Berulat dan Berjamur, SPPG Giyanti Temanggung Cuma Disanksi Libur Sepekan
“Kalau lihat di medsos itu ngeri juga,” kira-kira begitu gambaran situasinya. Muhdi mempertanyakan apakah Badan Gizi Nasional (BGN) sudah memberikan panduan yang jelas terkait menu MBG, apalagi di bulan puasa seperti sekarang.
Menurutnya, siswa SD sudah mulai belajar berpuasa. Tapi makanan tetap datang pagi hari seperti biasa. Ini dinilai perlu dipikirkan ulang. Apakah tetap dibagikan dalam bentuk makanan? Atau skemanya diubah?
Opsi Lain
Bahkan ia menyebut opsi lain seperti bantuan dalam bentuk uang bisa saja dipertimbangkan. Ia juga mengingatkan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak “memainkan” program ini dengan menyajikan menu yang tak memenuhi standar gizi yang dipersyaratkan.
Sebab, kalau kualitasnya mengecewakan, kepercayaan publik bisa turun drastis. Efek sampingnya sudah kelihatan: ada makanan yang tidak dimakan siswa dan akhirnya terbuang. Mubazir, dan tentu bertolak belakang dengan tujuan program.
Baca juga: Banyak Aduan Menu MBG saat Ramadan, Wali Kota Solo Respati Minta BGN Lakukan Evaluasi
Senator asal Jawa Tengah itu pun berharap Presiden tidak hanya mendengar laporan dari internal lembaga, tetapi juga membuka telinga terhadap laporan masyarakat yang kini makin kritis dan vokal.
Menurutnya, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan. Bahkan kalau perlu, semua pihak diajak duduk bareng, DPR, DPD, kepala daerah, hingga pelaksana di lapangan untuk membenahi program agar benar-benar tepat sasaran. Karena pada akhirnya, program sebagus apa pun kalau eksekusinya setengah matang, ya yang kenyang cuma laporan. Siswanya belum tentu. (tebe)


