BACAAJA, JAKARTA – Pemerintah mutusin siswa tetap belajar tatap muka di tengah situasi global yang lagi nggak santai, karena kualitas pendidikan dianggap nggak boleh ikut goyah. Menteri Koordinator PMK Pratikno bareng Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti kompak bilang belum ada rencana balik ke sistem online, jadi sekolah tetap jalan normal lima hari. Keputusan ini juga sejalan dengan arahan Prabowo Subianto yang pengen efisiensi jalan, tapi sektor pendidikan tetap dijaga performanya.
Salah satu alasan utama kebijakan ini adalah menjaga kualitas pendidikan tetap stabil. Pemerintah nggak mau proses belajar jadi setengah-setengah. Tatap muka dinilai masih jadi metode paling efektif.
Pengalaman selama pandemi jadi pelajaran penting. Banyak siswa mengalami penurunan pemahaman karena keterbatasan belajar daring. Hal ini yang ingin dihindari terulang lagi.
Istilah learning loss jadi perhatian serius pemerintah. Kondisi ini bikin siswa kehilangan sebagian kemampuan akademik. Dampaknya bisa panjang kalau nggak segera dicegah.
Makanya, pembelajaran langsung di kelas dianggap solusi paling aman. Interaksi antara guru dan siswa dinilai lebih maksimal. Ini penting buat menjaga ritme belajar.
Sempat muncul wacana pembelajaran hybrid atau campuran. Tapi setelah dibahas lintas kementerian, opsi itu dianggap belum mendesak. Jadi belum akan diterapkan dalam waktu dekat.
Pemerintah juga lagi fokus meningkatkan kualitas SDM secara keseluruhan. Pendidikan jadi salah satu sektor kunci yang nggak boleh terganggu. Ini jadi prioritas utama di tengah kondisi apa pun.
Program revitalisasi sekolah juga terus didorong. Termasuk pengembangan sekolah unggulan di berbagai daerah. Semua ini untuk ngejar kualitas pendidikan yang lebih merata.
Di sisi lain, efisiensi tetap dilakukan di sektor lain. Termasuk kemungkinan WFH untuk beberapa bidang pekerjaan. Tapi pendidikan tetap diposisikan berbeda.
Kesimpulannya, sekolah tetap jalan seperti biasa tanpa skema daring. Pemerintah ingin memastikan generasi muda tetap dapat akses belajar terbaik. Jadi meskipun dunia lagi nggak pasti, ruang kelas tetap jadi prioritas utama. (*)


