BACAAJA, SEMARANG – Ngopi sudah jadi rutinitas harian banyak orang, dari pagi sampai sore bahkan malam. Tapi di balik kebiasaan itu, masih banyak yang bingung soal satu hal penting: sebenarnya mana yang lebih “kuat”, espresso atau kopi biasa?
Buat yang sering nongkrong di coffee shop, espresso sering dijuluki sebagai “pendekar” kafein. Ukurannya kecil, tapi rasanya tajam dan bikin melek seketika. Sekilas, minuman ini memang terlihat lebih powerful.
Di sisi lain, kopi seduh justru jadi pilihan banyak orang buat teman aktivitas harian. Disajikan dalam gelas besar, rasanya lebih ringan dan bisa dinikmati lebih lama.
Nah, di sinilah sering muncul salah paham. Banyak yang mengira espresso otomatis punya kafein lebih tinggi dibanding kopi biasa, padahal faktanya nggak sesederhana itu.
Espresso sendiri dibuat dengan teknik khusus, yaitu mengekstraksi air panas bertekanan tinggi lewat bubuk kopi yang sangat halus. Proses ini menghasilkan cairan kopi yang pekat dengan lapisan crema di atasnya.
Karena prosesnya cepat dan tekanan tinggi, rasa espresso jadi lebih intens dibanding kopi seduh biasa. Itulah kenapa sekali teguk saja sudah terasa “nendang”.
Kalau bicara angka, satu shot espresso biasanya mengandung sekitar 63 mg kafein dalam takaran sekitar 30 ml atau satu ons. Angka ini bisa sedikit berbeda tergantung jenis biji kopi dan teknik penyajian.
Sementara itu, kopi seduh standar ukuran 240 ml atau sekitar 8 ons mengandung kurang lebih 95 mg kafein. Artinya, total kafeinnya justru lebih besar dibanding satu shot espresso.
Tapi kalau dihitung per ons, espresso jelas lebih unggul. Kandungan kafeinnya jauh lebih padat dibanding kopi seduh yang cenderung lebih encer.
Jadi bisa dibilang, espresso itu “kuat per tetes”, sedangkan kopi biasa “unggul di total volume”. Dua-duanya punya karakter masing-masing.
Hal ini penting dipahami supaya kamu nggak salah kaprah saat memilih minuman. Apalagi kalau tujuanmu adalah mengontrol asupan kafein harian.
Banyak orang yang tanpa sadar mengonsumsi kafein berlebihan hanya karena merasa kopi yang diminum “ringan”. Padahal volumenya besar dan diminum berkali-kali.
Menurut Food and Drug Administration, batas aman konsumsi kafein untuk orang dewasa sehat adalah sekitar 400 mg per hari.
Kalau dikonversi, batas itu setara dengan sekitar 5 sampai 6 shot espresso, atau sekitar 4 cangkir kopi seduh ukuran standar.
Namun perlu diingat, kafein tidak hanya datang dari kopi. Banyak minuman dan makanan lain yang juga menyumbang asupan kafein harian.
Misalnya teh hijau yang mengandung sekitar 30–50 mg kafein per cangkir. Lalu minuman bersoda seperti Diet Coke yang punya sekitar 46 mg kafein per kaleng.
Belum lagi cokelat hitam yang juga mengandung kafein, meski dalam jumlah lebih kecil. Semua ini bisa menumpuk tanpa disadari.
Efek kafein sendiri bisa berbeda-beda di tiap orang. Ada yang langsung segar, tapi ada juga yang jadi gelisah atau sulit tidur.
Kalau dikonsumsi dalam waktu singkat dan jumlah besar, efeknya bisa lebih terasa, seperti jantung berdebar atau rasa cemas.
Untuk kelompok tertentu seperti ibu hamil, batas konsumsi kafein bahkan lebih rendah, yaitu sekitar 200 mg per hari.
Karena itu, penting untuk lebih aware dengan apa yang kita konsumsi setiap hari, terutama kalau sudah jadi kebiasaan rutin.
Balik lagi ke pertanyaan awal, mana yang lebih tinggi kafeinnya? Jawabannya tergantung cara melihatnya.
Espresso memang lebih pekat dan kuat per ons, tapi kopi seduh biasanya menang di total kafein karena porsinya lebih besar.
Jadi, pilihan terbaik sebenarnya tergantung kebutuhan dan gaya hidup kamu sendiri.
Kalau butuh “kick” cepat, espresso bisa jadi pilihan. Tapi kalau ingin santai sambil ngopi lama, kopi seduh jelas lebih cocok.
Yang paling penting, tetap jaga batas konsumsi supaya tubuh tetap nyaman dan nggak kena efek samping berlebihan.
Karena pada akhirnya, ngopi itu bukan cuma soal kuat-kuatan kafein, tapi juga soal menikmati momen dengan cara yang pas. (*)

