BACAAJA, SEMARANG- Pemerintah Kota Semarang resmi ngegas revisi sistem Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Bukan sekadar ganti format, tapi ganti mindset. Dalam Forum Group Discussion (FGD) Raperwal Musrenbang buat nyusun RKPD 2027 di Ruang Lokakrida, Gedung Moch. Ichsan, Senin (2/3/2026), Agustina blak-blakan: sistem lama yang fokus ke angka dan pagu anggaran sekarang digeser ke pendekatan “jemput bola”.
“Kita bergeser dari sistem yang sekadar ngasih angka anggaran jadi sistem yang sepenuhnya aspirasi. Kita susun daftar belanja masalah, lihat kebutuhan wilayah secara riil,” tegasnya. Sekadar informasi, FGD ini nggak kaleng-kaleng. Ada 417 peserta mulai dari perangkat daerah, kecamatan, kelurahan, LPMK, sampai aparat penegak hukum. Lengkap. Jadi bukan cuma formalitas kopi-kopi.
Baca juga: Wali Kota Agustina Paparkan Enam Prioritas Pembangunan 2026, Tekankan Peran Aktif Warga
Langkah revisi ini juga bukan tiba-tiba. Agustina bilang, perubahan mekanisme Musrenbang ini jadi tindak lanjut rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi dan aparat penegak hukum. Tujuannya jelas: tata kelola makin bersih, aparatur makin aman dari risiko hukum.
Tingkatkan Kepercayaan
Buat Pemkot Semarang, pendampingan itu justru dianggap cuan, bukan dalam arti duit, tapi dalam arti kepercayaan publik. “Kami berterima kasih atas pendampingan itu. FGD ini bukti komitmen kita jalankan rencana aksi pencegahan korupsi dan memastikan APBD benar-benar bermanfaat,” ujarnya.
Salah satu perubahan paling krusial? Pembangunan fisik bakal dipindah dari kecamatan ke dinas teknis. Jadi urusan standar material, teknis konstruksi, sampai lelang diserahkan ke yang memang ahlinya.
Tapi tenang, camat dan lurah nggak diparkir. Mereka tetap jadi “jembatan aspirasi”. Fokusnya balik ke pelayanan dan memastikan suara warga nggak tenggelam di meja birokrasi. “Aspirasi warga nggak akan hilang. Rembug warga tetap jadi nakhoda pembangunan. Dari tingkat RW, nanti diproses transparan sampai jadi prioritas kota,” tegas Agustina.
Baca juga: Ketua DPRD Jateng: Musrenbang Jangan Cuma Rapi di Kertas
Lewat sistem baru ini, aspirasi bakal diverifikasi dan diselaraskan dengan perencanaan teknis. Targetnya? Pembangunan yang tepat sasaran, nyambung satu sama lain, dan berkelanjutan. Agustina optimistis, reformasi Musrenbang ini bisa jadi fondasi baru tata kelola yang lebih bersih dan solid. Nggak cuma keren di laporan, tapi terasa di lapangan.
Kalau dulu Musrenbang identik dengan “yang penting anggaran cair”, sekarang vibes-nya berubah jadi “yang penting masalah kelar dan nggak ada yang kebawa ke meja hukum.” Di ibukota Jateng ini, ternyata bukan cuma jalan yang diaspal, tapi juga sistemnya yang lagi dirapikan biar nggak licin. (tebe)


