BACAAJA, SEMARANG – Saat azan Magrib berkumandang, segelas minuman manis hampir selalu jadi pilihan pertama untuk membatalkan puasa. Mulai dari es teh, sirup, sampai minuman kemasan yang sering diberi label “rendah gula”.
Tapi pernah tidak terpikir: rasa manis yang kita minum itu sebenarnya berasal dari gula murni atau gula buatan? Dan mana yang sebenarnya lebih baik untuk tubuh setelah seharian menahan lapar dan haus?
Gula murni bikin energi cepat kembali
Gula murni biasanya berasal dari bahan alami seperti tebu atau bit. Kita mengenalnya sebagai gula pasir. Selain itu ada juga gula aren, gula kelapa, hingga madu yang sering dianggap lebih alami.
Jenis gula ini mengandung kalori dan ketika masuk ke tubuh akan diubah menjadi glukosa, yaitu sumber energi utama.
Bacaaja: Microlibrary Warak Kayu Semarang: Ngabuburit Gratis & Nyaman, Luber Pengetahuan
Bacaaja: War Takjil Muladi Dome, Bukan Sekadar Bazar! Tetap Ramai meski Diguyur Hujan
Itulah sebabnya minuman manis sering terasa cepat mengembalikan tenaga setelah seharian berpuasa.
Namun ada satu hal yang perlu diingat. Jika dikonsumsi terlalu banyak saat berbuka, gula murni bisa membuat lonjakan gula darah terlalu cepat. Akibatnya tubuh justru bisa terasa lemas beberapa waktu setelahnya.
Gula buatan gak banyak kalori
Berbeda dengan gula murni, gula buatan dibuat melalui proses industri. Contohnya seperti aspartam, sakarin, atau sucralose.
Rasanya bisa jauh lebih manis dibanding gula biasa, tetapi kalorinya sangat rendah bahkan hampir nol. Karena itu pemanis jenis ini sering dipakai pada minuman diet atau produk dengan label “rendah gula”.
Meski begitu, bukan berarti pemanis buatan selalu lebih aman. Beberapa orang justru merasa lebih cepat lapar atau ingin minum lebih banyak setelah mengonsumsinya.
Respons tubuh terhadap pemanis buatan juga bisa berbeda pada tiap orang.
Cara mudah ngebedainnya
Kalau ingin tahu minuman yang kita konsumsi memakai gula murni atau gula buatan, cara paling gampang adalah membaca label kemasan.
Jika tertulis gula tebu, gula aren, atau gula kelapa, berarti itu gula alami.
Jika muncul nama seperti aspartam, sakarin, atau sucralose, berarti menggunakan pemanis buatan.
Dari rasa pun kadang bisa terasa berbeda. Pemanis buatan sering meninggalkan sensasi manis yang lebih tajam dan sedikit pahit di akhir.
So, mana yang lebih baik untuk buka puasa?
Sebenarnya tidak ada jawaban yang sepenuhnya hitam-putih. Setelah puasa, tubuh memang membutuhkan energi cepat sehingga sedikit gula bisa membantu. Namun yang paling penting saat berbuka adalah menghidrasi tubuh terlebih dahulu dengan air putih.
Minuman manis boleh saja, tapi sebaiknya tidak berlebihan.
Alternatif yang lebih seimbang adalah buah-buahan atau kurma, karena mengandung gula alami sekaligus serat dan nutrisi yang membantu tubuh beradaptasi kembali setelah berpuasa.
Pada akhirnya, bukan soal memilih gula murni atau gula buatan. Yang paling penting tetap satu: keseimbangan. (*)

