BACAAJA, PURBALINGGA – Ramadan di Purbalingga tahun ini terasa beda. Bukan cuma soal ibadah dan ngabuburit, tapi juga soal suasana kota yang mendadak glowing karena ratusan lampion tematik menyala tiap malam.
Di kawasan Alun-alun Purbalingga, cahaya lampion berderet cantik, bikin area yang biasanya jadi titik kumpul warga makin hidup. Begitu adzan Maghrib lewat dan langit makin gelap, warna-warni lampion langsung jadi pusat perhatian.
Nggak cuma di alun-alun, beberapa ruas jalan utama juga ikut disulap jadi lorong cahaya. Jalan Jenderal Soedirman Purbalingga, Jalan MT Haryono Purbalingga, dan Jalan Pierre Tendean Purbalingga tampil lebih semarak sepanjang Ramadan.
Festival cahaya ini resmi dibuka langsung oleh Bupati Purbalingga, Fahmi M Hanif, bareng Wakil Bupati Dimas Prasetyahani dan jajaran Forkopimda. Penekanan tombol simbolis di tengah alun-alun jadi tanda dimulainya Ramadan Light Festival 2026.
Begitu lampion menyala serempak, suasana langsung berubah. Ramadan bukan cuma terasa di masjid dan mushola, tapi juga di ruang-ruang publik yang kini dipenuhi cahaya dan kebersamaan.
Fahmi menyebut, festival ini jadi bagian dari rangkaian kegiatan selama Ramadan 1447 Hijriah. Harapannya sederhana tapi dalam, kota dan warganya bisa sama-sama “bercahaya” saat menjalani puasa.
Event ini digelar mulai 19 Februari sampai 28 Maret 2026, bahkan berlanjut hingga H+7 Lebaran. Artinya, sepanjang Ramadan hingga arus balik, suasana kota tetap semarak.
Selain bikin suasana makin syahdu, festival ini juga diharapkan ngasih efek positif buat ekonomi lokal. Warga yang datang buat ngabuburit, buka bersama, atau sekadar jalan santai, otomatis ikut menggerakkan roda usaha kecil di sekitar lokasi.
Kepala Dinporapar Purbalingga, Sadono, menjelaskan peserta festival dibagi dua kategori: lomba dan partisipan. Konsepnya kolaboratif, jadi banyak elemen ikut terlibat.
Untuk kategori lomba, tiap lima desa di satu kecamatan bikin satu lampion. Sekolah-sekolah dari jenjang SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA juga turut ambil bagian dengan kreasi terbaik mereka.
Sedangkan kategori partisipan melibatkan Forkopimda, OPD, instansi vertikal, perguruan tinggi, puskesmas, BUMD, hingga pelaku usaha dan pertokoan. Jadi suasananya benar-benar gotong royong satu kota.
Warga pun menikmati vibe Ramadan yang beda ini. Windi, warga Babakan, bilang festival lampion bikin ngabuburit makin asyik.
Menurutnya, lampion-lampion unik itu jadi spot foto favorit bareng keluarga dan teman. “Sambil nunggu buka, bisa foto-foto dulu. Jadi Ramadan terasa lebih seru dan estetik,” ujarnya.
Di tengah rutinitas puasa dan aktivitas harian, cahaya lampion ini seperti jadi pengingat kecil bahwa Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Tapi juga soal merawat kebersamaan, menghidupkan kota, dan menikmati momen dengan cara yang sederhana tapi berkesan. (*)


