BACAAJA, JAKARTA – Kabar soal anggaran pendidikan sempat bikin heboh. Ada yang bilang program Makan Bergizi Gratis alias MBG bikin jatah pendidikan jadi kepotong.
Tapi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, langsung pasang badan. Ia menegaskan, MBG sama sekali nggak menggerus anggaran pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Kalau ada anggapan bahwa MBG mengurangi anggaran pendidikan, kami sampaikan dengan tegas bahwa itu tidak benar. Program Presiden terkait pendidikan tetap terlaksana dengan sebaik-baiknya,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).
Ia memastikan semua program strategis tetap jalan. Bahkan, beberapa di antaranya justru diperluas.
Salah satu yang disorot adalah program revitalisasi sekolah. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan Rp16,9 triliun untuk memperbaiki 16.167 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Hasilnya? Realisasi pembangunan dan revitalisasi sudah tembus 93 persen. Angka ini disebut sebagai bukti kalau komitmen perbaikan infrastruktur pendidikan nggak main-main.
“Tahun 2025 realisasi program revitalisasi sekolah mencapai 93 persen. Ini bukti bahwa komitmen negara terhadap perbaikan infrastruktur pendidikan tetap kuat,” lanjutnya.
Masuk 2026, program ini nggak berhenti. Anggaran lebih dari Rp14 triliun sudah disiapkan untuk 11.474 sekolah.
Bahkan, Presiden Prabowo Subianto disebut berencana menambah anggaran revitalisasi untuk 60.000 sekolah lagi. Kalau semua masuk skema APBN, totalnya bisa menyentuh sekitar 71.000 satuan pendidikan yang direvitalisasi.
Selain bangunan sekolah, bantuan untuk siswa juga dipastikan aman. Program Indonesia Pintar (PIP) tetap jalan untuk SD, SMP, SMA, hingga SLB.
Menariknya, tahun 2026 bakal ada tambahan PIP khusus murid TK. Nilainya Rp450 ribu per tahun dan ditargetkan menyasar 888 ribu anak TK di seluruh Indonesia.
“Untuk 2026 ini akan ada dana PIP untuk murid TK sebanyak Rp450 ribu per tahun. Tahun ini akan kita alokasikan untuk 888 ribu murid TK di seluruh Indonesia,” jelas Mu’ti.
Lalu bagaimana dengan MBG? Menurut Mu’ti, program ini justru bagian dari strategi besar membangun kualitas SDM sejak dini.
Data per 18 Februari 2026 menunjukkan MBG sudah menjangkau 280.023 satuan pendidikan. Jumlah peserta didik penerima manfaatnya mencapai 43,17 juta siswa.
“Kalau kita lihat sekarang, satuan pendidikan yang menerima manfaat MBG sudah mencapai ratusan ribu, dan murid penerima manfaatnya lebih dari 43 juta. Ini menunjukkan bahwa MBG memiliki pengaruh yang sangat positif dan nyata,” pungkasnya.
Dengan angka-angka itu, Mu’ti ingin menepis anggapan bahwa MBG mengorbankan sektor lain. Menurutnya, pendidikan tetap jadi prioritas, baik dari sisi infrastruktur maupun dukungan langsung ke siswa.
Isu boleh beredar, tapi pemerintah menegaskan anggaran pendidikan tetap utuh. MBG jalan, revitalisasi lanjut, PIP aman, bahkan diperluas. (*)


