BACAAJA, SEMARANG – Kalau dengar kata bule, hampir semua orang Indonesia langsung paham siapa yang dimaksud. Biasanya, sebutan ini dipakai buat orang asing berkulit putih yang datang, tinggal, atau sekadar liburan di Indonesia.
Menariknya, kata bule ternyata punya cerita panjang yang jarang diketahui banyak orang. Sebutan yang sekarang terdengar santai dan akrab itu ternyata lahir dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap orang asing.
Di masa kolonial, orang Indonesia lebih sering menyebut orang Eropa dengan panggilan “Tuan” atau “Nyonya”. Sapaan itu muncul karena pengaruh sistem sosial zaman penjajahan yang menempatkan orang Barat dalam posisi lebih tinggi.
Seiring waktu, penggunaan sapaan tersebut mulai berubah. Masyarakat perlahan mencari istilah yang lebih netral dan terasa setara tanpa memandang status atau asal-usul seseorang.
Dalam bahasa Indonesia sendiri, istilah bule diyakini berasal dari kata “bulai”. Kata ini sudah lama dikenal dan tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Bulai memiliki arti putih di seluruh tubuh atau kondisi ketika seseorang mempunyai rambut yang cerah akibat kekurangan pigmen. Awalnya, istilah ini tidak hanya dipakai untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lainnya.
Penggunaan kata bule untuk menyebut orang asing berkulit putih baru mulai populer sekitar dekade 1960-an. Dari sinilah istilah tersebut perlahan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Salah satu sosok yang sering dikaitkan dengan penyebaran istilah ini adalah Benedict Anderson, seorang ahli sejarah dan Indonesianis yang memiliki kedekatan kuat dengan Indonesia.
Benedict dikenal sebagai akademisi yang banyak meneliti sejarah, budaya, dan politik Indonesia. Pemikirannya juga cukup berpengaruh dalam memahami identitas bangsa dan hubungan sosial di masyarakat.
Dalam sejumlah catatan, Benedict disebut ikut mempopulerkan penggunaan kata bule sebagai alternatif sapaan yang lebih membumi dibanding panggilan Tuan atau Nyonya yang identik dengan masa kolonial.
Tujuannya sederhana, yakni menghapus kesan adanya jarak sosial antara masyarakat Indonesia dengan orang asing berkulit putih yang tinggal atau berkunjung ke Nusantara.
Karena itulah, kata bule kemudian berkembang menjadi istilah yang sifatnya lebih santai dan akrab. Sebutan tersebut tidak lagi membawa nuansa hierarki seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
Meski begitu, penggunaan kata bule tetap perlu memperhatikan situasi dan kenyamanan orang yang bersangkutan. Tidak semua orang asing merasa nyaman jika dipanggil berulang-ulang oleh orang yang belum dikenalnya.
Sejumlah wisatawan memang menganggap sebutan bule sebagai hal yang biasa. Mereka memahami bahwa istilah itu sudah menjadi bagian dari budaya bahasa di Indonesia.
Namun, ada pula yang merasa risih jika kata tersebut digunakan terus-menerus sambil menarik perhatian atau menjadikannya bahan candaan di ruang publik.
Karena itu, banyak pihak mengingatkan bahwa istilah bule sebaiknya dipakai sekadar sebagai penanda umum, bukan untuk mengganggu, mengejek, atau mengolok-olok seseorang.
Di Indonesia sendiri, kata bule kini sudah sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, istilah itu sering muncul dalam percakapan santai, media sosial, hingga pemberitaan tentang wisata dan budaya.
Menariknya lagi, masyarakat Indonesia umumnya memakai kata bule tanpa maksud negatif. Sebutan tersebut lebih sering dipahami sebagai istilah praktis untuk menyebut orang asing berkulit putih.
Selain soal asal-usul kata, banyak orang juga mengenal ciri umum ras Kaukasoid yang identik dengan kulit terang, warna mata beragam, serta bentuk hidung yang cenderung mancung.
Meski demikian, identitas seseorang tentu tidak bisa hanya dilihat dari penampilan fisik semata. Latar belakang budaya, negara asal, dan pengalaman hidup setiap orang tetap berbeda-beda.
Pada akhirnya, istilah bule bukan sekadar kata populer dalam bahasa Indonesia. Di balik sapaan yang terdengar santai itu, tersimpan sejarah perubahan sosial, semangat kesetaraan, dan cara masyarakat Indonesia membangun hubungan yang lebih akrab dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. (*)

