Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Inilah Alasan Orang Asing di Indonesia Dipanggil Bule
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Inilah Alasan Orang Asing di Indonesia Dipanggil Bule

Di masa kolonial, orang Indonesia lebih sering menyebut orang Eropa dengan panggilan "Tuan" atau "Nyonya". Sapaan itu muncul karena pengaruh sistem sosial zaman penjajahan yang menempatkan orang Barat dalam posisi lebih tinggi. Seiring waktu, penggunaan sapaan tersebut mulai berubah. Masyarakat perlahan mencari istilah yang lebih netral dan terasa setara tanpa memandang status atau asal-usul seseorang.

Nugroho P.
Last updated: Juni 30, 2026 11:05 am
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi Bule.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Kalau dengar kata bule, hampir semua orang Indonesia langsung paham siapa yang dimaksud. Biasanya, sebutan ini dipakai buat orang asing berkulit putih yang datang, tinggal, atau sekadar liburan di Indonesia.

Menariknya, kata bule ternyata punya cerita panjang yang jarang diketahui banyak orang. Sebutan yang sekarang terdengar santai dan akrab itu ternyata lahir dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap orang asing.

Di masa kolonial, orang Indonesia lebih sering menyebut orang Eropa dengan panggilan “Tuan” atau “Nyonya”. Sapaan itu muncul karena pengaruh sistem sosial zaman penjajahan yang menempatkan orang Barat dalam posisi lebih tinggi.

Seiring waktu, penggunaan sapaan tersebut mulai berubah. Masyarakat perlahan mencari istilah yang lebih netral dan terasa setara tanpa memandang status atau asal-usul seseorang.

Dalam bahasa Indonesia sendiri, istilah bule diyakini berasal dari kata “bulai”. Kata ini sudah lama dikenal dan tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Bulai memiliki arti putih di seluruh tubuh atau kondisi ketika seseorang mempunyai rambut yang cerah akibat kekurangan pigmen. Awalnya, istilah ini tidak hanya dipakai untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lainnya.

Penggunaan kata bule untuk menyebut orang asing berkulit putih baru mulai populer sekitar dekade 1960-an. Dari sinilah istilah tersebut perlahan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Salah satu sosok yang sering dikaitkan dengan penyebaran istilah ini adalah Benedict Anderson, seorang ahli sejarah dan Indonesianis yang memiliki kedekatan kuat dengan Indonesia.

Benedict dikenal sebagai akademisi yang banyak meneliti sejarah, budaya, dan politik Indonesia. Pemikirannya juga cukup berpengaruh dalam memahami identitas bangsa dan hubungan sosial di masyarakat.

Dalam sejumlah catatan, Benedict disebut ikut mempopulerkan penggunaan kata bule sebagai alternatif sapaan yang lebih membumi dibanding panggilan Tuan atau Nyonya yang identik dengan masa kolonial.

Tujuannya sederhana, yakni menghapus kesan adanya jarak sosial antara masyarakat Indonesia dengan orang asing berkulit putih yang tinggal atau berkunjung ke Nusantara.

Karena itulah, kata bule kemudian berkembang menjadi istilah yang sifatnya lebih santai dan akrab. Sebutan tersebut tidak lagi membawa nuansa hierarki seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.

Meski begitu, penggunaan kata bule tetap perlu memperhatikan situasi dan kenyamanan orang yang bersangkutan. Tidak semua orang asing merasa nyaman jika dipanggil berulang-ulang oleh orang yang belum dikenalnya.

Sejumlah wisatawan memang menganggap sebutan bule sebagai hal yang biasa. Mereka memahami bahwa istilah itu sudah menjadi bagian dari budaya bahasa di Indonesia.

Namun, ada pula yang merasa risih jika kata tersebut digunakan terus-menerus sambil menarik perhatian atau menjadikannya bahan candaan di ruang publik.

Karena itu, banyak pihak mengingatkan bahwa istilah bule sebaiknya dipakai sekadar sebagai penanda umum, bukan untuk mengganggu, mengejek, atau mengolok-olok seseorang.

Di Indonesia sendiri, kata bule kini sudah sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, istilah itu sering muncul dalam percakapan santai, media sosial, hingga pemberitaan tentang wisata dan budaya.

Menariknya lagi, masyarakat Indonesia umumnya memakai kata bule tanpa maksud negatif. Sebutan tersebut lebih sering dipahami sebagai istilah praktis untuk menyebut orang asing berkulit putih.

Selain soal asal-usul kata, banyak orang juga mengenal ciri umum ras Kaukasoid yang identik dengan kulit terang, warna mata beragam, serta bentuk hidung yang cenderung mancung.

Meski demikian, identitas seseorang tentu tidak bisa hanya dilihat dari penampilan fisik semata. Latar belakang budaya, negara asal, dan pengalaman hidup setiap orang tetap berbeda-beda.

Pada akhirnya, istilah bule bukan sekadar kata populer dalam bahasa Indonesia. Di balik sapaan yang terdengar santai itu, tersimpan sejarah perubahan sosial, semangat kesetaraan, dan cara masyarakat Indonesia membangun hubungan yang lebih akrab dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. (*)

You Might Also Like

NDX AKA Guncang Jepara, Gubernur Luthfi Balas Lagu dengan “Merdeka!”

The Future of AI: How Artificial Intelligence is Transforming Industries

Bingung Cari Bukber? Ini Spot Asyik Buka Puasa Tegal

Gunung Krasheninnikov di Rusia Meletus Setelah Tidur 600 Tahun

Ngulik Purwokerto, Sejuk, Unik, Ngapak, dan Bikin Betah

TAGGED:bulesejarah buletuanunik
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article LATSARMIL - Calon manajer KDMP mengikuti latihan militer dasar. Wow! Biaya Pelatihan Calon Manajer KDMP Rp45 Juta per Orang, Paling Gede untuk Latsarmil
Next Article Sejarah Gamis Jadi Favorit, Ternyata Berawal dari Padang Pasir

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nggak Cuma Healing, Traveling Juga Punya Banyak Bonus Buat Tubuh

Toko Roti Murah di Purwokerto, Ada yang Berdiri Sejak 1898

Sejarah Gamis Jadi Favorit, Ternyata Berawal dari Padang Pasir

Inilah Alasan Orang Asing di Indonesia Dipanggil Bule

LATSARMIL - Calon manajer KDMP mengikuti latihan militer dasar.

Wow! Biaya Pelatihan Calon Manajer KDMP Rp45 Juta per Orang, Paling Gede untuk Latsarmil

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

Serangan Gas Air Mata Polisi Dimana-Mana, Ini Cara Hadapi, Bukan Pakai Odol

Agustus 30, 2025
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.
Unik

Muhammadiyah Tolak Putusan MK soal Pendidikan Dasar Gratis, Timbang Ajukan Gugatan

Juni 4, 2025
Hotman Paris dan tim mendampingi kliennya, bos Sritex dalam sidang kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (27/4/2026). (bae)
HukumUnik

Hotman Bongkar Fakta Mengejutkan: Bos Sritex Disikat setelah Tolak Gabung BUMN Danareksa

April 28, 2026
Jaksa menyerahkan surat tuntutan kepada terdakwa Robig Zaenudin dalam sidang di PN Semarang, Selasa (872025). (bae)
Unik

Aipda Robig Dituntut Hukuman 15 Tahun Penjara, Polisi Tembak Mati Pelajar SMK di Semarang

Juli 8, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Inilah Alasan Orang Asing di Indonesia Dipanggil Bule
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?