BACAAJA, SEMARANG – Perjalanan jauh saat mudik sering melewati jalan menanjak dan turunan panjang. Dalam tradisi Islam, ada zikir sederhana yang bisa diamalkan saat melewati kondisi jalan seperti itu. Amalan ini bahkan diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari adab ketika safar.
Dalam beberapa riwayat hadits, Rasulullah mencontohkan bacaan tertentu saat melewati tanjakan maupun turunan. Ketika jalan mulai menanjak, beliau mengucapkan takbir sebagai bentuk mengagungkan Allah. Sebaliknya, saat kendaraan menurun, dianjurkan membaca tasbih.
Riwayat ini salah satunya datang dari sahabat Jabir bin Abdullah. Ia menceritakan bahwa para sahabat mengikuti kebiasaan Nabi ketika dalam perjalanan. Saat naik mereka bertakbir, dan ketika turun mereka bertasbih.
Hadits tersebut tercatat dalam kitab hadits seperti Shahih Al-Bukhari dan juga diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Riwayat lain juga menyebut kebiasaan yang sama dilakukan Rasulullah bersama pasukannya saat safar. Amalan ini kemudian menjadi salah satu zikir yang dianjurkan ketika bepergian.
Bacaan takbir yang dianjurkan ketika melewati jalan menanjak sangat sederhana. Umat Muslim cukup membaca kalimat berikut:
اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Allahu akbar
Artinya: Allah Mahabesar.
Sementara ketika melewati jalan menurun, dianjurkan membaca tasbih. Zikir ini menjadi bentuk pengagungan kepada Allah dalam setiap kondisi perjalanan.
سُبْحَانَ اللّٰهِ
Subhanallah
Artinya: Maha Suci Allah.
Menariknya, dalam riwayat tersebut tidak disebutkan jumlah tertentu berapa kali zikir dibaca. Selama perjalanan masih berada di jalan menanjak, Rasulullah tetap membaca takbir. Ketika kendaraan turun, bacaan tasbih terus diucapkan.
Kondisi jalan di masa Rasulullah memang berbeda dengan sekarang. Di kawasan Jazirah Arab, jalur perjalanan dulu banyak yang berbatu, menanjak, bahkan curam saat turun. Karena itu zikir menjadi pengingat agar manusia tetap bergantung kepada Allah selama perjalanan.
Selain menjadi sunnah, zikir saat safar juga memiliki keutamaan besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disebutkan bahwa doa seorang musafir termasuk doa yang mudah dikabulkan. Hal ini menunjukkan perjalanan menjadi momen yang baik untuk memperbanyak doa dan zikir.
Rasulullah juga menjelaskan bahwa zikir merupakan amalan yang sangat utama. Dalam riwayat sahabat Mu’adz bin Jabal disebutkan bahwa tidak ada amalan yang lebih menyelamatkan manusia dari azab Allah selain zikir. Karena itu umat Muslim dianjurkan memperbanyak zikir dalam berbagai situasi.
Bagi para pemudik, amalan sederhana ini bisa menjadi pegangan selama perjalanan. Tak perlu bacaan panjang, cukup takbir saat menanjak dan tasbih ketika menurun. Zikir singkat ini bisa menjadi pengingat agar perjalanan selalu berada dalam lindungan Allah. (*)


