BACAAJA, JAKARTA – Gelombang teknologi kecerdasan buatan alias AI makin terasa efeknya, bukan cuma soal kemudahan kerja, tapi juga mulai menggerus lapangan pekerjaan. Riset terbaru dari Goldman Sachs menunjukkan fakta yang bikin banyak orang mulai waspada, terutama pekerja muda.
Dalam laporan yang juga dikutip oleh Yahoo Finance, para ekonom menemukan bahwa AI telah menghilangkan sekitar 16.000 pekerjaan bersih setiap bulan di Amerika Serikat selama satu tahun terakhir. Angka ini bukan kecil, apalagi terjadi secara konsisten.
Fenomena ini jadi gambaran bahwa transformasi digital tidak selalu datang dengan kabar baik. Di satu sisi membuka peluang baru, tapi di sisi lain juga memangkas posisi kerja yang dianggap bisa digantikan teknologi.
Lebih dalam lagi, analisis dari Goldman Sachs menunjukkan bahwa sekitar 25.000 pekerjaan per bulan benar-benar tergantikan oleh AI. Ini terjadi ketika sistem otomatis mampu mengambil alih hampir seluruh tugas utama dalam suatu pekerjaan.
Namun di saat yang sama, AI juga menciptakan sekitar 9.000 pekerjaan baru setiap bulan. Artinya, ada dua efek yang berjalan bersamaan—menghilangkan sekaligus menciptakan peluang kerja baru.
Sayangnya, jumlah pekerjaan baru itu belum cukup untuk menutup kehilangan yang terjadi. Selisihnya masih cukup jauh, sehingga dampak bersihnya tetap negatif bagi pasar tenaga kerja.
Laporan tersebut ditulis oleh ekonom Goldman Sachs, Elsie Peng, yang mencoba membedah dampak AI secara lebih rinci dengan pendekatan yang cukup kompleks.
Para peneliti menggabungkan skor paparan AI dengan indeks komplementaritas dari International Monetary Fund untuk melihat mana pekerjaan yang berisiko tinggi tergantikan dan mana yang justru bisa terbantu oleh AI.
Dari situ terlihat bahwa pekerjaan dengan tugas rutin dan administratif punya risiko paling tinggi untuk digantikan. Misalnya pekerjaan seperti entri data, penagihan, atau layanan pelanggan.
Di sisi lain, pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia, interaksi langsung, atau keahlian khusus masih relatif aman. Profesi seperti dokter, pengacara, atau manajer konstruksi belum mudah tergantikan sepenuhnya.
Yang paling menarik sekaligus mengkhawatirkan, dampak ini paling keras dirasakan oleh generasi muda, khususnya Generasi Z yang baru masuk dunia kerja.
Kelompok usia di bawah 30 tahun disebut mengalami tekanan lebih besar dibanding pekerja berpengalaman yang sudah punya jam terbang lebih tinggi.
Kesenjangan tingkat pengangguran antara pekerja muda dan pekerja usia 31–50 tahun bahkan melebar cukup tajam dibandingkan kondisi sebelum pandemi.
Bukan cuma soal pekerjaan, gap gaji juga ikut terdampak. Analisis Goldman menunjukkan bahwa paparan tinggi terhadap AI bisa memperlebar kesenjangan upah hingga sekitar 3,3 persen.
Kondisi ini memperlihatkan adanya masalah struktural dalam cara generasi muda masuk ke dunia kerja modern yang sudah berubah drastis.
Banyak dari mereka bekerja di sektor yang justru paling mudah diotomatisasi oleh AI, seperti pekerjaan kantoran level awal yang sifatnya repetitif.
Tanpa pengalaman panjang atau keahlian spesifik, posisi mereka jadi lebih rentan tergeser oleh sistem otomatis yang dianggap lebih efisien.
Sementara pekerja senior cenderung punya perlindungan alami karena pengalaman, jaringan, dan kemampuan pengambilan keputusan yang tidak mudah digantikan mesin.
Situasi ini juga jadi peringatan bagi dunia pendidikan dan pelatihan kerja agar mulai menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan masa depan.
Skill seperti analisis, kreativitas, komunikasi, dan problem solving jadi semakin penting karena sulit digantikan oleh AI.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai mengubah strategi rekrutmen dengan lebih selektif memilih kandidat yang punya nilai tambah di luar kemampuan teknis dasar.
Transformasi ini sebenarnya tidak bisa dihindari, karena perkembangan AI memang terus melaju tanpa jeda.
Yang jadi tantangan sekarang adalah bagaimana memastikan transisi ini tidak meninggalkan terlalu banyak korban, terutama dari kalangan muda.
Kalau tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin gelombang PHK akibat AI akan terus membesar dalam beberapa tahun ke depan.
Namun di balik ancaman itu, tetap ada peluang bagi mereka yang siap beradaptasi dan meningkatkan skill sesuai kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, AI bukan sekadar ancaman atau peluang, tapi realitas baru yang menuntut semua pihak untuk bergerak lebih cepat dan cerdas dalam menghadapi perubahan. (*)


