Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
James T. Siegel sangat menentang gagasan bahwa kebudayaan merupakan sebuah teks yang terintegrasi secara rapi.
Pada 4 Oktober silam saya mendengar James T. Siegel alias Pak Jim berpulang. Kabarnya dia telah beberapa waktu menderita sakit. Sakitnya hampir mirip dengan sahabat intelektualnya di Universitas Cornell, Ben Anderson. Dia dementia. Ia mengalami kesulitan mengingat.
Bisa dibayangkan betapa menderitanya kehilangan kemampuan mengingat untuk orang yang hidupnya mengandalkan ingatan, bisa bicara banyak bahasa, membaca banyak buku, dan pikiran serta ingatannya melompat ke sana kemari.
Saya tidak banyak tahu tentang Pak Jim. Namun, selama beberapa waktu terakhir ini, saya menyiapkan sebuah naskah untuk merayakan hari ulang tahunnya. Mantan bos saya di Lembaga Studi Realino dan juga murid Pak Jim di Departemen Antropologi di Cornell, Pater Budi Susanto, SJ, serta sahabatnya yang membantu banyak penelitiannya di Jawa, Mas Arief Djati, menjadi editor untuk kumpulan tulisan itu.
Di antara semua penulis, saya kira saya adalah orang yang paling berjarak dan tidak akrab dengan Jim. Ketika tahun pertama di Cornell, saya pernah bermaksud mengambil kelas yang diasuh Pak Jim. Kalau tidak salah judulnya, “Seminar on Indonesia.”
Pada hari pertama kelas, demi melihat saya duduk di kelas itu, Pak Jim langsung bertanya, mau apa kamu di sini? Saya bilang, saya mau ikut kelas seminar ini. Pak Jim langsung tanya dengan nada gusar, kamu ‘kan orang Indonesia? Untuk apa belajar Indonesia? Keluar saja. Tidak ada yang bisa saya katakan, kecuali keluar dengan dongkol.
Namun minggu depannya, saya merasa diperlakukan tidak adil. Ada mahasiswa Indonesia yang boleh ikut kelas itu. Saya langsung ke ‘office hour’ Pak Jim dan bertanya, apa masalahnya saya tidak boleh ambil kelasnya. Dia cuman mendongak dan memandang saya dengan memperlihatkan dua gigi kelincinya, “Tidak ada alasan.” Saya sebutkan ada anak Indonesia di kelas itu. Dia cuman bilang, “Well, you can’t take my class.”
Kadang kami ketemu di beberapa kegiatan sosial dan pesta. Pernah juga beberapa kali di rumah Ben Anderson. Dan, saya selalu menghindar bicara dengan Pak Jim. Namun entah mengapa, saya selalu bersinggungan dengan dia. Ketika pindah ke Singapura, bos saya di kantor adalah juga murid Pak Jim!
Sekalipun demikian, saya tetap membaca karya-karyanya. Pernah suatu kali, dalam makan malam di rumah Ben Anderson, saya hendak memamerkan pengetahuan saya kepada Pak Jim. Saya bilang ke dia bahwa di antara semua bukunya, menurut saya bukunya tentang Aceh, The Rope of God adalah favorit saya.
Bukannya perbincangan lanjutan yang saya dapatkan. Kentara sekali, Pak Jim tidak suka. Dia mendengus dan bilang itu karya awal dan banyak hal di dalamnya perlu dipikirkan ulang. Saya langsung diam. Dan tidak banyak lagi yang bisa dibicarakan kecuali menenggak sisa wine di gelas dan menambahkannya lagi penuh-penuh.
Bagaimana pun juga, James T. Siegel untuk saya adalah ilmuwan sosial yang fenomenal. Dia memberikan tafsir baru dari hal sehari-hari yang kita anggap sepele. Itulah, menurut saya, derajat paling tinggi seorang intelek dan akademisi: mampu melihat hal-hal biasa sebagai sesuatu yang luar biasa dan memiliki kaitan dengan dunia yang luas.
Salah satu buku yang sangat mempesona saya adalah Solo in The New Order atau Solo di Jaman Orde Baru. Ini adalah karya etnografi yang luar biasa. Dalam penafsiran saya, karya Pak Jim ini bahkan melampaui atau kritik terhadap karya gurunya, Clifford Geertz, The Social History of an Indonesian Town yang membahas tentang Mojokuto.
Kedua murid-guru ini memang berbeda pendekatan dalam memandang antropologi dan kebudayaan. Dan, hanya karena mengetahui perbedaan itu kemudian, barulah saya menyadari mengapa Pak Jim tidak menyukai karya awalnya, The Rope of God.
Sekalipun karya ini adalah awal dari perpisahannya dengan Geertz. Karena The Rope of God mendekonstruksi pemahaman tentang akal, nafsu, kesatuan dan ketidakkoherenan unit-unit sosial di desa-desa, fungsi bahasa dan terjemahan yang gagal (mletho adalah kata Jawa yang lebih tepat). Namun The Rope of God tidak cukup jauh dari hermenetik tradisonal.
Untuk Geertz, kebudayan adalah sebuah sistem simbol yang terorganisasi dengan rapi. Ia adalah sebuah “teks publik” yang dapat dibaca dan ditafsirkan oleh antropolog dengan mengamati langsung praktik masyarakat setempat guna menemukan jalinan makna yang koheren. Metodenya adalah hermeneutik dan penafsiran atas simbol.
Geertz cenderung melihat bagaimana ritual dan simbol menyerap atau menampilkan konflik sosial tanpa membuat masyarakat berantakan. Dalam analisisnya tentang sabung ayam di Bali, Geertz menafsirkan peristiwa tersebut sebagai simulasi simbolis yang terstilisasi mengenai hierarki status dan tatanan sosial, yang pada akhirnya menstabilkan komunitas tersebut.
Pak Jim, terutama pada karya-karya sesudah The Rope of God, menjauh dari penafsiran hermenetik ke dekonstruksi ala Derrida, psikoanalisis (Lacan), dan teori sastra pascastrukturalis. Sehingga Pak Jim sangat menentang gagasan bahwa kebudayaan merupakan sebuah teks yang terintegrasi secara rapi.
Ia sangat dipengaruhi oleh sahabatnya Jacques Derrida dalam mendekonstruksi kebudayaan. Sehingga, Pak Jim fokus pada ketidakstabilan, kegagalan penerjemahan, dan kegagalan komunikasi. Alih-alih mencari tahu bagaimana simbol menciptakan pemahaman bersama, ia justru menyoroti keterbatasan bahasa, hal-hal yang “tidak dapat diterjemahkan”, serta bagaimana makna kerap kali luput atau terpecah.
Hal ini tampak dengan amat jelas pada Solo. Di tempat itu, Pak Jim melihat apa yang sudah umum kita ketahui, yakni hirarki bahasa Jawa. Hirarki ini tentu juga mengandung bobot kekuasaan. Dan, Pak Jim melangkah lebih jauh dari itu, tidak saja dalam bahasa Jawa. Hirarki itu juga turut diterjemahkan ke dalam bahasa yang kemudian banyak dipakai orang Jawa: Bahasa Indonesia!
Sekali pun demikan, ada juga yang menyelinap keluar dari hirarki, yang kalau kita tafsirkan adalah “kegagalan penerjemahan.” Inilah yang disebut oleh Pak Jim sebagai “aneh.” Dan “aneh” itu muncul di banyak hal: yang tidak teratur, liar, gagal, dan lain sebagainya itu. “Aneh” itu muncul pada Drakula dalam pertunjukan Srimulat, misalnya.
Selain itu, keanehan itu muncul pada “matematika Jawa’ (istilah saya) yakni pada kode-kode nomer buntut! Ada gabar-gambar binatang yang diterjemahkan ke dalam angka-angka, dan kemudian “dimistik” keluarlah sebuah nomor ajaib yang nanti akan keluar sebagai nomor lotre buntut. Yang buntutnya adalah penggandaan uang. (Sebenarnya kalau Pak Jim masih sehat, saya ingin titip pertanyaan apakah 10+6 = 17 itu adalah ‘aneh” seperti angka mistik kode buntut?)
Berbeda dengan gurunya, Clifford Geertz, studi-studi Pak Jim paska The Rope of God sangat dipengaruhi oleh kekerasan politik, khususnya tragedi pembantaian massal 1965. Clifford Geertz ada di Bali ketika pembantaian yang sangat kejam dan mengharu biru itu terjadi. Namun, Geertz tidak bersuara sedikit pun tentang hal itu. Dia senyap. Sunyi. Sepi. Karya-karyanya tetap tentang penafsiran atas simbol yang nir-kekerasan.
Sebaliknya, Pak Jim sangat dipengaruhi oleh peristiwa pembantaian massal tahun 1965 dan kekerasan politik di bawah rezim Orde Baru Soeharto. Geertz mengabaikan aspek kekuasaan dan sejarah, sementara Pak Jim justru menyoroti celah-celah tersebut. Dalam A New Criminal Type in Jakarta, Siegel menganalisis bagaimana bahasa dan kekuasaan negara saling bersinggungan dalam menciptakan ketakutan, trauma, dan momok politik, serta menelusuri cara negara mengendalikan kategori mengenai apa yang dianggap “normal” versus “kriminal.”
Hal yang sama dia lakukan dalam karya Naming the Witch. Ini adalah sebuah karya etnografis yang lahir dari pembantaian dukun-dukun santet di ujung Jawa Timur pada permulaan masa Reformasi.
Untuk Pak Jim, dukun santet (witch) adalah sebuah pemakaian bahasa dari negara atau kekuasaan yang tidak memerlukan penjelasan atau pengkajian lebih lanjut. Begitu penamaan ini dibangun, mereka yang terkena akan secara otomatis mengalami penyingkiran (exclusion). Negara tidak perlu menjelaskannya, masyarakat langsung paham dan tunduk dan dengan serta merta menyingkirkan siapa saja yang dinamakan dukun santet itu. Proses yang mirip terjadi pada Komunis, PKI, dan lain sebagainya itu.
Ada beberapa karya Pak Jim, yang hingga saat ini masih membuat saya terheran-heran saking anehnya. Pak Jim punya ketertarikan yang sangat besar dengan hal-hal yang bersifat seperti hantu dan dunia perhantuan (spectral). Ia menelusuri bagaimana para penyintas trauma hebat, seperti korban pembantaian massal tahun 1965 atau tsunami 2004, berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang telah meninggal.
Bagi Pak Jim, antropologi bukan sekadar memetakan pandangan dunia sadar suatu masyarakat, melainkan juga menggali alam bawah sadar serta kecemasan-kecemasan terpendam yang menghantui sebuah budaya.
Sebuah karya yang sampai sekarang “menghantui” dan membuat saya berpikir adalah Images and Odors in Javanese Practices Surrounding Death (1983). Di sini Siegel melihat bagaimana mayat orang Jawa diselimuti jarik dan dikelilingi oleh suasana yang takzim. Selain itu ada bau-bauan seperti dupa dan kembang.
Pak Jim melihat ini sebagai pengalaman indrawi, khususnya citra visual dan isyarat penciuman, dalam membentuk pemahaman, penyikapan, dan pengelolaan sosial masyarakat Jawa terhadap kematian. Di sini ada tensionless serenity (ikhlas), ada bau (menyan dan kembang) yang menjadi batas antara yang hidup dan yang mati, dan hirarki tempat mendiang (khususnya yang berbahasa Ngoko) kehilangkan posisinya sebagai Ngoko. Orang mulai “boso” atau berbahasa Kromo dengan yang meninggal. Di beberapa tempat, dia dipanggil “Kiai.”
Ini semua membuktikan bahwa kebudayaan bukan sekedar aksi simbolik yang dibagi bersama. Ia bisa jadi adalah kesalahan-kesalahan (seperti kematian) yang membentuk dan mengendalikan komunitas.
Membaca Pak James Siegel tidaklah mudah. Namun, untuk saya sangat mengasyikkan. Karya dan pendekatannya membuat saya berpikir, dan berpikir setiap kali membaca ulang. Terutama karena pergaulan intelektualnya dengan Ben Anderson. Mereka mungkin tidak dekat secara pribadi. Tapi saya tahu mereka berdua saling mengagumi, dan saling bertukar untuk membaca teks sebelum dipublikasikan.
Satu keberuntungan saya adalah bahwa saya tidak pernah diajar langsung oleh Pak Jim. Sehingga saya belajar hanya dari karya-karyanya dan dari bergaul, berdiskusi, dan bertanya dengan murid-muridnya.
Tidak banyak orang yang mempelajari Indonesia dengan gaya Pak Jim ini. Orang yang belajar dari sebuah wilayah dan kemudian membangun teori-teori besar dari wilayah (region) yang dipelajarinya. Sebagian besar ilmuwan sosial saat ini berangkat dari teori-teori besar dan kemudian mengujinya di lapangan, mereka akan memperbaiki teori-teori besar (grand theories) itu sedikit demi sedikit berdasarkan temuan di lapangan—dikonfirmasi dengan sedikit deviasi.
Memang hilang sudah jaman ketika orang datang ke lapangan, hidup berbulan-bulan di masyarakat, membaca teori-teori besar, kemudian membangun teorinya sendiri dari refleksi riset lapangannya. Ini ilmu sosial yang terlalu mahal dan tidak praktis.
Jaman memang berubah. Namun, harapan saya, mudah-mudahan karya-karya yang nyaris menjadi klasik ini dibaca oleh generasi ilmuwan sosial selanjutnya. Bukan berarti ia lebih baik namun ia menawarkan perspektif lain.
Selamat jalan Pak Jim! Terima kasih sudah menyertai perjalanan saya dalam bergelut dengan ilmu-ilmu sosial. Now, you can rest in your peace and converse with spirits and ghosts you once only studied, Pak Jim. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

