BACAAJA, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Kali ini, aktor Hollywood Leonardo DiCaprio ikut menyoroti kondisi kebakaran di Kalimantan dan Sumatra, sekaligus mengangkat nasib satwa yang ikut terdampak, terutama orangutan.
Lewat akun Instagram-nya, Leonardo membagikan informasi mengenai luas hutan yang terbakar hingga dampaknya terhadap masyarakat dan satwa liar. Unggahan itu langsung menarik perhatian karena memperlihatkan bahwa persoalan karhutla Indonesia bukan cuma isu dalam negeri.
Dalam unggahan yang dibagikan Sabtu (3/10/2026), Leonardo menyebut lebih dari 2 juta ekar atau sekitar 800 ribu hektare hutan di Kalimantan dan Sumatra telah terbakar. Ia juga menyoroti jutaan orang yang harus berhadapan dengan paparan asap dari kebakaran tersebut.
Leonardo menjelaskan, kondisi cuaca yang makin panas dan kering akibat perubahan iklim ikut membuat wilayah tersebut lebih mudah terbakar. Aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian juga disebut menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi.
Kebakaran di lahan gambut menjadi persoalan tersendiri. Saat gambut terbakar, karbon dalam jumlah besar bisa dilepaskan ke atmosfer sehingga ikut memperburuk persoalan perubahan iklim dan memberikan tekanan tambahan terhadap keanekaragaman hayati.
Dampaknya bukan cuma dirasakan manusia. Leonardo juga menyoroti satwa yang kehilangan ruang hidup akibat api dan asap, termasuk orangutan yang terpaksa meninggalkan habitatnya untuk menyelamatkan diri.
Dalam unggahannya, ia menyebut orangutan yang berhasil diselamatkan kini mendapat perawatan. BKSDA Kalimantan Tengah bekerja sama dengan BOS Foundation dalam penanganan satwa terdampak tersebut.
Kondisi orangutan menjadi perhatian serius karena satwa ini punya ruang gerak terbatas ketika kebakaran meluas. Asap tebal dan kobaran api bisa membuat mereka kehilangan tempat berlindung sekaligus sumber makanan.
Leonardo juga mengungkap bahwa respons terhadap karhutla melibatkan banyak pihak. Pemerintah, petugas pemadam, masyarakat setempat, organisasi konservasi, tim penyelamat satwa liar, hingga peneliti ikut bergerak menghadapi dampak kebakaran.
Sejumlah organisasi konservasi juga turut mendukung upaya tersebut. Di antaranya Re, organisasi yang ikut didirikan Leonardo, serta sejumlah kelompok yang berada dalam jaringan IUCN untuk perlindungan kera kecil dan kera besar.
Perhatian Leonardo terhadap isu lingkungan sebenarnya bukan hal baru. Aktor peraih Oscar lewat film The Revenant itu sudah lama menggunakan popularitasnya untuk mengampanyekan perlindungan alam dan satwa yang terancam punah.
Indonesia juga bukan tempat yang asing bagi Leonardo. Pada 27-28 Maret 2016, ia pernah datang ke Taman Nasional Gunung Leuser bersama Adrien Brody dan Fisher Stevens.
Dalam kunjungan tersebut, Leonardo menyusuri Sungai Alas menggunakan perahu untuk melihat langsung kehidupan orangutan Sumatra. Ia kemudian menyoroti ancaman terhadap habitat satwa akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Orangutan Sumatra menjadi salah satu satwa yang paling mendapat perhatian dalam kunjungan itu. Leonardo mengingatkan bahwa pembukaan hutan untuk memenuhi kebutuhan industri minyak kelapa sawit dapat membuat habitat orangutan semakin terfragmentasi.
Ia juga menyinggung upaya rehabilitasi orangutan Sumatra melalui pusat karantina yang dikelola Sumatran Orangutan Conservation Programme. Satwa yang menjalani rehabilitasi diharapkan nantinya bisa kembali dilepasliarkan ke habitat yang aman.
Kepedulian Leonardo terhadap lingkungan sudah berjalan cukup lama. Pada 1998, ia mendirikan Leonardo DiCaprio Foundation yang mendukung berbagai gerakan konservasi dan perlindungan lingkungan di sejumlah negara.
Ia kemudian ikut mendirikan Re, organisasi yang fokus pada perlindungan ekosistem dan satwa yang terancam punah. Leonardo juga tercatat terlibat dalam sejumlah organisasi lingkungan internasional.
Beberapa organisasi yang pernah dikaitkan dengan aktivitas lingkungannya antara lain World Wildlife Fund (WWF), International Fund for Animal Welfare (IFAW), dan Natural Resources Defense Council (NRDC).
Di media sosial, Leonardo juga cukup aktif membagikan isu seputar lingkungan dan satwa liar. Mulai dari gorila, orangutan, hingga berbagai spesies yang menghadapi ancaman kehilangan habitat kerap menjadi bagian dari unggahannya.
Sorotan terbaru terhadap karhutla di Kalimantan dan Sumatra pun kembali mengingatkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan asap. Ada ekosistem yang rusak, karbon yang terlepas, masyarakat yang terdampak, serta satwa liar yang harus berjuang mencari tempat aman ketika habitatnya dilalap api. (*)

