Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia

Redaktur Opini
Last updated: September 18, 2026 9:03 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Muhammad Fiam Setyawan adalah alumnus mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.

Kebebasan sejati baru dirasakan saat manusia berani berkata cukup dan berhenti menjadikan dirinya bahan bakar mesin neoliberalisme.

Di masa lalu, kekuasaan mencari legitimasi melalui perang dan kekerasan. Ketakutan disebarkan sebagai alat untuk memudahkan penguasa dalam mengatur rakyat. Melalui serangkaian kekejaman, kekuasaan dapat bertahan dan tidak mudah digoyahkan.

Seiring berkembangnya kesadaran akan hak asasi manusia, metode pendisiplinan yang kejam mulai ditinggalkan. Era kapitalisme kemudian mengubah lanskap kendali sosial dengan menerapkan pendisiplinan tubuh yang lebih terstruktur dan rasional. Walaupun memang masih terdapat paksaan secara fisik, tetapi tidak sekejam apa yang terjadi di masa lalu.

Michel Foucault dalam bukunya Discipline and Punish (1975), menerangkan cara kekuasaan mendisiplinkan masyarakat lewat institusi seperti sekolah, rumah sakit, dan penjara. Pendisiplinan ini dilakukan untuk menyeragamkan tubuh agar bergerak selayaknya komponen mesin yang sudah diatur penggunaannya. Tubuh individu dibentuk agar efisiensi kerja dapat diperah secara maksimal.

Upaya pendisiplinan dilakukan oleh penguasa untuk mengatur cara kerja masyarakat agar lebih mudah diarahkan dan dieksploitasi. Masyarakat tidak dibiarkan bebas sepenuhnya karena terus merasa diawasi oleh mekanisme pengawasan tak kasat mata. Foucault menyebutnya panopticon. Perasaan terus diawasi membuat masyarakat secara tidak langsung merasa berdosa jika tidak bekerja sesuai aturan.

Pergeseran kapitalisme yang bermutasi menjadi neoliberalisme mengubah paradigma pendisiplinan dari fisik menuju dominasi psikologis. Byung-Chul Han, filsuf asal Korea Selatan, dalam bukunya Psikopolitik (2017) membedah bagaimana neoliberalisme mendisiplinkan masyarakat dengan cara yang lebih halus. Kekuasaan baru ini tidak lagi menindas tubuh, melainkan mengarahkan jiwa manusia agar sukarela menjadi hamba kapitalisme.

Era neoliberalisme ditandai oleh doktrin pasar bebas yang menuntut semua pemilik modal bersaing dalam kemelut bisnis ekonomi. Di samping itu, pesatnya kemajuan teknologi abad ini menawarkan kecepatan sekaligus kebebasan. Dua hal inilah yang kemudian menjadi alat utama bagi kerja neoliberalisme dalam mengendalikan masyarakat.

Media sosial, misalnya, hadir sebagai platform penting bagi umat manusia untuk membentuk dunia baru. Dunia yang praktis, luas, tetapi pada saat yang sama palsu. Celakanya, sebagian besar masyarakat dengan sukarela menyerahkan informasi pribadinya ke dalam rangkuman Big Data.

Sebagian besar masyarakat modern secara sadar menuhankan gawai dan pasrah pada dorongan algoritma dalam setiap detik kehidupannya. Gawai tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang sakral tempat arah hidup ditentukan. Dari pagi hingga malam, jemari manusia bergerak menelusuri lini masa yang dirancang mengikat perhatian emosional.

Tingginya daya tawar kebebasan membuat setiap individu menganggap apa yang dilakukannya adalah murni pilihan pribadinya sendiri. Padahal, keputusan tersebut merupakan dorongan kuat dari situasi sosial-politik dan algoritma yang sengaja dibentuk. Sensasi memilih secara independen ini hanyalah manipulasi persepsi yang sangat halus.

Dalam kondisi inilah kemudian eksploitasi dan kebebasan menyatu secara sempurna menjadi fenomena auto-eksploitasi. Seseorang tidak lagi membutuhkan ancaman hukuman dari luar untuk memaksa dirinya bekerja tanpa mengenal lelah. Ketakutan akan tertinggal membuat manusia secara sukarela memeras tenaga dan pikirannya demi standar buatan sistem.

Pendisiplinan psikis, atau dalam bahasa Han disebut Psikopolitik, tidak lagi bersifat menindas, menghukum, atau memaksa secara fisik. Psikopolitik justru bekerja melalui serangkaian pengalaman yang memuaskan, menyenangkan, dan membahagiakan jiwa manusia. Kekuasaan baru ini tidak menghancurkan kehendak individu, melainkan menggodanya agar bertindak sesuai kepentingan pasar.

Psikopolitik bekerja sangat efektif lewat kumpulan Big Data dan mempermainkan emosi impulsif manusia. Melalui analisis pola perilaku yang presisi, sistem tahu waktu seseorang merasa kesepian atau membutuhkan validasi sosial. Hasrat emosional tersebut kemudian disuntikkan dengan konsumsi berlebih dan narasi produktivitas yang seolah memberi kebahagiaan sejati.

Pada akhirnya, masyarakat mendorong dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang menurutnya adalah pilihan bebasnya. Padahal, ambisi tersebut sebenarnya sudah dikonstruksi sedemikian rupa agar mereka terus mengejarnya tanpa henti. Kebebasan ilusi ini menyamarkan kenyataan bahwa manusia sedang berlari di roda putar yang dirancang orang lain.

Kondisi mengejar proyeksi kebebasan yang tidak kunjung usai ini pada akhirnya melahirkan depresi dan terbentuknya burnout society. Manusia tenggelam dalam kelelahan psikis mendalam karena tidak pernah merasa cukup dengan pencapaiannya. Jiwa yang terus dituntut untuk selalu mengoptimalkan diri akhirnya patah di bawah tekanan ambisi pribadinya.

Solusi yang ditawarkan oleh Han untuk keluar dari jebakan ini adalah idiotisme atau proses depsikologisasi. Idiotisme dalam konteks filosofis merujuk pada keberanian individu menarik diri dari jaringan informasi masif. Menjadi seorang “idiot” berarti memilih menjadi pribadi yang tidak dapat diakses maupun diprediksi oleh algoritma pasar.

Depsikologisasi mengajak manusia untuk berhenti memusatkan seluruh perhatian pada ego dan perasaan pribadi di ruang digital. Ketika emosi tidak lagi dijadikan komoditas utama yang dipermainkan Big Data, kekuasaan neoliberalisme akan kehilangan daya cengkeramnya. Pembatasan akses emosional ini memulihkan jarak kritis antara pikiran manusia dengan godaan pasar.

Jalan ini menuntut keteguhan hati untuk memeluk kesunyian di tengah kebisingan informasi yang tak pernah berhenti. Ketika seseorang berani diam dan menolak tuntutan kesempurnaan, ia mulai merebut kembali kedaulatan pikirannya. Kesunyian tersebut bukan bentuk keputusasaan, melainkan benteng pertahanan untuk menjaga kewarasan jiwa.

Perjalanan sejarah dari era kekerasan fisik Foucault menuju pendisiplinan psikis Han memperlihatkan perubahan wujud kekuasaan yang semakin canggih. Jika panopticon Foucault memenjarakan tubuh dalam pengawasan visual, psikopolitik Han memenjarakan jiwa dengan biusan kenikmatan. Kebebasan semu ini menjadi bentuk perbudakan yang aneh karena korbannya merasa bahagia saat diperbudak.

Kunci memutus rantai auto-eksploitasi terletak pada kesadaran kritis akan batas diri dan keberanian untuk bersikap tidak produktif. Menolak untuk selalu tersedia di dunia maya dan melepaskan ambisi buatan adalah bentuk perlawanan nyata abad ini. Kebebasan sejati baru dirasakan saat manusia berani berkata cukup dan berhenti menjadikan dirinya bahan bakar mesin neoliberalisme.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Pidato Berapi-api di PBB: Momentum Emas atau Janji Manis Prabowo di Panggung Dunia?

Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article BLUSUKAN KE GUDANG - Bupati Temanggung Agus Setyawan (Agus Gondrong) blusukan ke gudang tembakau perwakilan pabrikan rokok di Temanggung, untuk memastikan tembakau petani terserap dengan harga layak, Rabu (16/9/2026). Menkeu Suahasil Diminta Tak Naikkan Tarif Cukai Rokok, APTI: Jangan Bikin Petani Makin Tertekan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia

BLUSUKAN KE GUDANG - Bupati Temanggung Agus Setyawan (Agus Gondrong) blusukan ke gudang tembakau perwakilan pabrikan rokok di Temanggung, untuk memastikan tembakau petani terserap dengan harga layak, Rabu (16/9/2026).

Menkeu Suahasil Diminta Tak Naikkan Tarif Cukai Rokok, APTI: Jangan Bikin Petani Makin Tertekan

6 Amalan untuk Meraih Syafaat Nabi di Akhirat

Jangan Asal Share, Ini Adab Tabayyun dalam Islam

6 Amalan Jaga Lisan, Biar Nggak Terjebak Ghibah

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

Februari 12, 2026
Opini

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Februari 11, 2026
Opini

Menyoal Ucapan “Anak Bukan Investasi”

Desember 19, 2025
Opini

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Februari 13, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?