BACAAJA, SEMARANG – Pernah mendengar seseorang disebut sedang meneteskan air mata buaya? Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada orang yang terlihat sedih atau menyesal, tetapi perasaannya dianggap tidak tulus alias cuma pura-pura.
Menariknya, istilah tersebut ternyata berkaitan dengan perilaku asli buaya. Reptil ini memang bisa mengeluarkan air mata, tetapi bukan karena merasa bersalah setelah memangsa hewan lain.
Lantas, dari mana asal istilah air mata buaya? Apakah buaya benar-benar menangis, atau justru manusia yang keliru memahami perilakunya?
Air Mata Buaya Bukan Tanda Penyesalan
Buaya memang dapat mengeluarkan cairan dari kelenjar air matanya. Namun, cairan tersebut tidak bisa disamakan dengan tangisan manusia yang muncul karena sedih, terharu, atau menyesal.
Salah satu fungsi kelenjar air mata buaya berkaitan dengan pengeluaran kelebihan garam dari tubuh. Jadi, ketika buaya terlihat mengeluarkan air mata, proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme alami tubuhnya.
Perilaku itu kemudian dikaitkan dengan kebiasaan buaya setelah memangsa hewan lain. Dalam sejumlah kisah dan kepercayaan lama, buaya digambarkan seolah-olah menangis setelah memakan mangsanya.
Padahal, air mata tersebut tidak menunjukkan bahwa buaya merasa bersalah atau menyesali perbuatannya. Dari sinilah muncul gambaran tentang kesedihan yang tidak benar-benar tulus.
Kenapa Disebut Air Mata Buaya?
Istilah air mata buaya digunakan untuk menggambarkan tangisan yang dibuat-buat. Seseorang yang mengucapkan penyesalan, tetapi sebenarnya tidak merasakan kesedihan yang tulus, bisa disebut sedang meneteskan air mata buaya.
Ungkapan ini menggambarkan perilaku yang tampak menyedihkan di luar, tetapi tidak sesuai dengan perasaan sebenarnya. Karena itu, istilah tersebut sering dipakai untuk menyindir orang yang dianggap hanya berpura-pura menyesal.
Meski begitu, kisah mengenai buaya yang menangis setelah memakan mangsa tidak bisa dijadikan bukti bahwa hewan tersebut memiliki niat untuk menipu. Air mata buaya berkaitan dengan fungsi biologis tubuhnya, bukan kepura-puraan.
Buaya Juga Menghadapi Ancaman Kepunahan
Di balik istilah yang sering dipakai untuk menyindir manusia, buaya juga menghadapi persoalan nyata. Permintaan terhadap kulit buaya untuk berbagai produk fashion telah menjadi salah satu perhatian dalam upaya perlindungan satwa ini.
Kulit buaya banyak dimanfaatkan untuk membuat sepatu, tas, koper, ikat pinggang, dan berbagai barang lainnya. Material tersebut dikenal memiliki tekstur khas, kuat, dan tahan lama.
Namun, pemanfaatan kulit buaya perlu memperhatikan kelestarian populasi serta aturan perdagangan satwa yang berlaku. Eksploitasi berlebihan dapat mengancam keberadaan beberapa spesies buaya di alam.
Jadi, istilah air mata buaya memang menggambarkan tangisan palsu. Tetapi, kalau buayanya sendiri mengeluarkan air mata, itu bukan berarti sedang berakting atau merasa menyesal setelah makan. (*)

