BACAAJA, SOLO – Sri Susuhunan Paku Buwono XIII, atau yang memiliki nama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hangabehi, adalah raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dikenal luas sebagai sosok bijaksana dan sederhana. Ia lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948, dan merupakan putra tertua dari Paku Buwono XII, raja sebelumnya yang memimpin sejak 1945 hingga 2004.
PB XIII naik takhta pada tahun 2004, menggantikan ayahandanya, dan sejak saat itu memegang peran penting sebagai simbol pelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Dalam kepemimpinannya, ia menegaskan bahwa keraton bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat spiritual, seni, dan kebudayaan yang hidup.
Sebagai raja, PB XIII dikenal memiliki kepribadian tenang, rendah hati, dan penuh wibawa. Ia jarang tampil berlebihan di depan publik, namun pengaruhnya terasa kuat dalam setiap kegiatan kebudayaan dan keagamaan yang digelar di Keraton Surakarta.
Ia menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai seorang putra, Gusti Raden Mas (GRM) Suryo Aryo Mustiko yang kini dikenal dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Purbaya.
Selama kepemimpinannya, PB XIII aktif menjaga keberlangsungan berbagai upacara adat seperti Sekaten, Tingalan Jumenengan Dalem, Grebeg Maulud, serta Labuhan Ageng. Ia juga menaruh perhatian besar pada kesenian klasik Jawa seperti karawitan, wayang, dan tari bedhaya yang menjadi identitas utama keraton.
PB XIII tak hanya menjaga tradisi lama, tapi juga berupaya menjembatani masa lalu dengan masa kini. Ia mendorong kolaborasi antara Keraton dengan seniman muda, akademisi, dan pemerintah daerah untuk memperluas akses publik terhadap nilai-nilai budaya Jawa.
Salah satu langkah yang mendapat apresiasi luas adalah membuka Keraton Surakarta sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi. Melalui program ini, masyarakat bisa melihat langsung kehidupan adat di lingkungan keraton dan memahami filosofi di balik setiap ritual.
Di mata para abdi dalem, PB XIII adalah sosok pemimpin yang ngemong, atau mengayomi. Ia tidak memerintah dengan suara tinggi, melainkan dengan keteladanan. Banyak yang menyebutnya sebagai “raja yang sabar dan halus budi.”
Meski memimpin di era serba digital, PB XIII tetap teguh memegang falsafah Jawa yang diajarkan turun-temurun — “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha” — berjuang tanpa kekerasan, menang tanpa merendahkan, berwibawa tanpa kesaktian, dan kaya tanpa harta.
Selain menjaga urusan adat, PB XIII juga dikenal dekat dengan masyarakat sekitar. Ia sering hadir dalam acara budaya lokal dan kegiatan sosial, menegaskan bahwa keraton bukan hanya milik bangsawan, tapi juga bagian dari kehidupan rakyat.
Di balik penampilannya yang tenang, PB XIII memiliki visi besar: menjadikan Keraton Surakarta sebagai pusat kebudayaan yang relevan dan berdaya di masa kini. Ia percaya bahwa budaya Jawa bukan warisan masa lalu semata, melainkan panduan moral untuk masa depan.
Selama dua dekade kepemimpinannya, PB XIII berhasil membawa stabilitas di tengah dinamika internal keraton. Ia menjadi simbol persatuan dan keteguhan, terutama di masa-masa ketika modernitas mulai mengikis nilai-nilai tradisional.
Dokumentasi di akun Instagram resmi @pakoeboewono.13 kerap menampilkan aktivitas PB XIII, baik dalam balutan busana kebesaran maupun dalam momen kebersamaan sederhana bersama keluarga dan abdi dalem.
Kepergian PB XIII pada 2 November 2025, di usia 77 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Solo dan para pecinta budaya Nusantara. Namun warisan yang ia tinggalkan — berupa dedikasi terhadap pelestarian adat dan nilai luhur Jawa — akan terus hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, nama Sri Susuhunan Paku Buwono XIII tak hanya dikenang sebagai raja terakhir yang memimpin di era modern, tetapi juga sebagai penjaga tradisi, penjaga ketenangan, dan simbol kebijaksanaan Jawa yang abadi. (*)


