BACAAJA, SEMARANG – Laju pembangunan terus melesat, kebutuhan hunian ikut naik. Tapi di balik itu, ada hal penting yang mulai terpinggirkan: lingkungan.
Pengamat lingkungan dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Prof. Rita Dwi Ratnani, mengingatkan agar pembangunan tidak berjalan tanpa kendali. Menurutnya, keseimbangan harus tetap dijaga.
Dia menegaskan, aturan soal tata ruang dan lingkungan sebenarnya sudah jelas. Bahkan disusun oleh para ahli yang memahami dampaknya secara menyeluruh.
Bacaaja: Sampah Jateng Tembus 6,4 Juta Ton Per Tahun, Baru 30 Persen Terurus
Bacaaja: Citra Satelit Nunjukin Ada Pembukaan Lahan Baru Dekat Danau BSB Seluas Ratusan Hektar
“Jadi kalau menurut saran saya, aturan sudah ada dan dibuat dengan benar. Tetapi pelaksanaan dan tanggung jawab moral itu yang masih kurang,” ujarnya kepada BacaAja.
Menurut dia, problem utamanya ada di lapangan. Banyak pihak menjalankan pembangunan, tapi abai terhadap dampak jangka panjang.
Guru Besar Ilmu Teknologi Pengelolaan Lingkungan ini menekankan, menjaga lingkungan bukan cuma tugas pemerintah. Masyarakat dan pengembang juga punya tanggung jawab yang sama.
“Lingkungan ini harus kita jaga bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja atau masyarakat saja, tapi keduanya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap wilayah tidak berjalan sendiri-sendiri. Pembangunan harus melihat dampak yang lebih luas, bukan sekadar kepentingan kawasan tertentu.
Contohnya, kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) City yang dinilai cukup baik dari sisi perencanaan. Namun ia mengingatkan, keseimbangan harus tetap dijaga saat ada pengembangan baru.
“Kalau tidak seimbang, ya pasti akan berpengaruh,” katanya.
Di sisi lain, ia menyoroti praktik pengembang kecil yang kerap asal bangun. Fokus utama mereka sering hanya pada harga murah dan cepat terjual.
“Pengembang kecil itu seringnya asal bangun, asal laku, sesuai budget. Tapi tidak mempertimbangkan lingkungan,” ujarnya.
Padahal, menurutnya, perumahan yang baik tidak harus mahal. Harga bisa menyesuaikan kemampuan masyarakat, tapi tetap wajib memperhatikan kualitas lingkungan.
Ia menekankan pentingnya ruang hijau dan area resapan air. Tanpa itu, kawasan permukiman akan kehilangan kesejukan dan berisiko menimbulkan masalah baru.
“Harusnya tetap mempertimbangkan supaya lingkungan itu tetap dingin, sejuk, asri, dan air masih bisa meresap,” jelasnya.
Jika semua lahan dihabiskan untuk bangunan dan jalan, dampaknya akan terasa cepat atau lambat. Suhu meningkat, daya serap air menurun, dan potensi banjir makin besar.
“Jalannya memang bagus, bersih. Tapi kalau tidak ada penghijauan, lama-lama akan panas,” pungkasnya.
Ia berharap, ke depan pembangunan tidak hanya mengejar kuantitas. Tapi juga kualitas, dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. (bae)


