BACAAJA, JAKARTA – Mau Lebaran, kirim-kirim hampers itu udah jadi tradisi. Tapi hati-hati, buat ASN dan penyelenggara negara, parsel bisa berubah jadi masalah kalau salah langkah.
Lewat juru bicaranya, Budi Prasetyo, Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK ngingetin lagi soal potensi gratifikasi di balik bingkisan Idul Fitri.
“Setiap penerimaan itu ada potensi gratifikasi, termasuk parsel,” kira-kira begitu pesannya.
Lapor Nggak Harus Ribet
Biar nggak ada drama di belakang hari, KPK sudah nyiapin jalur laporan online. Jadi kalau ada ASN yang terlanjur nerima bingkisan dan bingung mau gimana, nggak perlu panik.
Cukup buka aplikasi atau situs Gratifikasi Online (GOL) di gol.kpk.go.id. Isi data diri, jelasin kronologi, sebutkan jenis pemberian. Kalau bentuknya barang, tinggal foto dan lampirkan. Nggak harus langsung kirim fisiknya ke KPK.
Nanti tim KPK yang analisis. Kalau barangnya ditetapkan jadi milik negara, baru dikirim. Kalau dinilai sah diterima, ya aman.
Kalau Makanan, Mending Dibagi
Nah, kalau parselya isinya kue kering atau makanan, KPK biasanya nyaranin buat dibagikan aja ke yang lebih butuh. Bisa ke panti asuhan, pos kamling, atau lingkungan sekitar.
Kenapa? Biar nggak muncul conflict of interest. Soalnya yang ditakutin itu efek jangka panjangnya.
Misal hari ini nerima bingkisan dari perusahaan tertentu. Eh besok-besok ada tender atau pengadaan barang dan jasa. Jangan sampai keputusan jadi bias gara-gara “utang budi” yang nggak kelihatan.
Swasta Juga Diingatkan
Bukan cuma ASN yang diingatkan. Pihak swasta juga kena warning halus: jangan kasih-kasih sesuatu ke pejabat publik atas nama relasi atau pelayanan.
Dalam aturan, tindak pidana gratifikasi memang lebih menjerat penerima. Kecuali kalau sudah masuk ranah suap—ada maksud supaya seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu—baru bisa kena pasal.
Tapi dari sisi pencegahan, KPK tetap minta pelaku bisnis buat tahan diri. Pelayanan publik itu memang sudah jadi tugas dan amanah pejabat negara, bukan sesuatu yang perlu “dibalas” dengan bingkisan.
Intinya simpel: Lebaran boleh hangat, silaturahmi jalan terus, tapi jangan sampai parsel berubah jadi pintu masuk masalah hukum. (*)


