BACAAJA, SEMARANG– Ekonomi kreatif bukan sekadar soal produk yang estetik, festival yang ramai, atau stan UMKM yang laris selama acara berlangsung.
Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah panggung dibongkar: apakah produk kreatif mampu menembus pasar, mendatangkan pendapatan berkelanjutan, dan membuka lapangan kerja?
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena mengingatkan, kreativitas warga memang bisa menggerakkan ekonomi. Namun, potensi itu tidak otomatis berubah menjadi bisnis yang berkembang jika pelaku usaha belum memahami kebutuhan pasar dan belum memiliki strategi untuk memperluas jangkauan konsumen.
Hal itu disampaikan Samuel seusai menjadi narasumber Dialog Publik di TVRI Stasiun Semarang, Jumat (16/10/2026) bertajuk Kreativitas Warga dan Masa Depan Kota menuju World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Baca juga: Pemprov Jateng Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
Menurut Samuel, kegiatan kreatif bisa berfungsi sebagai ruang ekspresi sekaligus menggerakkan transaksi ekonomi. Persoalannya, pelaku ekonomi kreatif perlu menyadari apakah aktivitas mereka benar-benar menghasilkan perputaran uang atau baru sebatas memamerkan karya.
Samuel menilai, salah satu tantangan ekonomi kreatif adalah kesenjangan antara kualitas produk dan kebutuhan konsumen. Produk bisa memiliki desain menarik, kualitas bagus, serta nilai artistik tinggi, tetapi belum tentu memiliki permintaan pasar yang memadai.
Ia membedakan pasar artisan, yang memberi ruang bagi ekspresi dan idealisme pencipta, dengan pasar komersial yang lebih berorientasi pada kebutuhan konsumen.
Keduanya sama-sama memiliki nilai. Namun, pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis secara komersial perlu memahami siapa calon pembelinya, seberapa besar permintaannya, dan bagaimana produk tersebut bisa dipasarkan secara berkelanjutan.
Dengan kata lain, kreativitas harus berjalan beriringan dengan kemampuan membaca pasar. Tanpa itu, produk berpotensi berhenti sebagai karya menarik yang sulit berkembang menjadi sumber penghasilan.
Basis Data
Bagi Samuel, penguatan ekonomi kreatif juga membutuhkan basis data yang jelas. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mengetahui produk unggulan setiap daerah, subsektor yang berpotensi dikembangkan, kebutuhan pembiayaan, serta peluang pasarnya.
Ia menyoroti pentingnya kemampuan daerah mengidentifikasi produk unggulan dari 21 subsektor ekonomi kreatif. Pemetaan tersebut diperlukan agar program pengembangan tidak berhenti pada klaim bahwa suatu daerah memiliki banyak potensi, tanpa mengetahui produk mana yang paling siap dikembangkan.
Data juga penting ketika pelaku usaha mengajukan dukungan pembiayaan. Besaran dana yang dibutuhkan harus disertai penjelasan tentang penggunaannya, perputaran modal, dan hasil yang hendak dicapai. “Ini kan bukan dari nenek moyang yang ditinggalkan Rp 100 juta. Ini kan uang pajak masyarakat lainnya,” tegasnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa dukungan terhadap ekonomi kreatif perlu disertai perencanaan dan pertanggungjawaban. Pembiayaan tidak cukup hanya diberikan, tetapi harus diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha, memperluas akses pasar, dan meningkatkan nilai ekonomi produk.
Baca juga: Ahmad Luthfi Berkomitmen Kembangkan Ekonomi Kreatif di Jateng
Dalam konteks WCCE 2026, Samuel mengingatkan bahwa keberhasilan program ekonomi kreatif tidak semestinya hanya diukur dari jumlah acara atau besarnya kemeriahan festival. “Akses masyarakat, jangkauan promosi, peningkatan transaksi, dan dampak bagi pelaku usaha juga perlu diperhatikan,” ujar politikus PDIP ini.
Festival tetap penting sebagai sarana memperkenalkan produk kepada publik. Namun, manfaatnya akan lebih besar jika terhubung dengan pemasaran digital, jaringan distribusi, pembiayaan usaha, dan peluang kemitraan. Pembiayaan UMKM, promosi produk kreatif, dan penciptaan lapangan kerja pun perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang saling mendukung.
Pada akhirnya, ekonomi kreatif membutuhkan lebih dari sekadar ide cemerlang. Ia memerlukan produk yang relevan, pelaku usaha yang memahami pasar, data yang bisa diandalkan, serta kebijakan yang mampu membuka akses pertumbuhan.
Sebab, festival boleh selesai dalam sehari, tetapi ekonomi kreatif seharusnya tidak ikut bubar ketika panggung diturunkan. Kalau yang tersisa hanya foto, spanduk, dan laporan jumlah pengunjung, kreativitas mungkin sudah tampil maksimal, sayangnya, pertumbuhan bisnis belum tentu ikut naik panggung. (tebe)

